Maumere – Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, SMK Negeri Habibola di Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, justru menunjukkan bahwa semangat membangun pendidikan tidak pernah ditentukan oleh megahnya gedung, melainkan oleh tekad para pendidik, dukungan masyarakat, dan mimpi besar untuk masa depan generasi muda.
Selama lima hari pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sejak 13 hingga 17 Juli 2026, sekolah baru yang resmi berdiri melalui Surat Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 500.16.7.2-400.3.8/31/DPMPTSP/2026 itu tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.
Pada hari terakhir MPLS, peserta didik menerima materi Pengenalan Struktur Kurikulum Program Keahlian Agribisnis Pertanian dan Program Keahlian Usaha Layanan Pariwisata yang disampaikan Ketua Komite SMKN Habibola, Fransiskus Moa, S.Pd. Materi tersebut menjadi bekal awal bagi para siswa untuk mengenal dunia vokasi yang akan mereka tekuni selama menempuh pendidikan.
Ketua Komite SMKN Habibola, Fransiskus Moa, mengatakan perjalanan sekolah ini lahir dari semangat kebersamaan. Di balik berdirinya sekolah baru tersebut terdapat kerja sama pemerintah, masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, komite sekolah, kepala sekolah, guru, hingga berbagai pihak yang memiliki cita-cita menghadirkan pendidikan berkualitas bagi anak-anak di wilayah Doreng dan sekitarnya.
"Kami percaya bahwa sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi rumah untuk membentuk karakter, keterampilan, dan masa depan anak-anak. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Justru dari keterbatasan itu lahir semangat untuk terus berjuang," ujarnya.
Pelaksanaan MPLS mengacu pada Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Berbagai materi diberikan kepada peserta didik, mulai dari pembentukan disiplin dan karakter, Wiyata Mandala, pengenalan kurikulum, cara belajar efektif, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia, delapan Dimensi Profil Lulusan, visi dan misi sekolah, hingga budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Sekolah juga melibatkan berbagai pemateri dari luar, seperti tenaga kesehatan dari Puskesmas, personel Kepolisian, pengurus komite, kepala sekolah, serta para guru, sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas sejak hari pertama memasuki dunia pendidikan menengah kejuruan.
Meski masih menghadapi keterbatasan fasilitas seperti laptop, proyektor, perangkat suara, hingga dukungan pembiayaan, seluruh rangkaian kegiatan tetap terlaksana dengan baik berkat semangat gotong royong dan kepedulian banyak pihak.
Di balik segala keterbatasan itu, tersimpan mimpi besar. SMKN Habibola ingin menjadi sekolah vokasi yang melahirkan generasi muda yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui sektor pertanian dan pariwisata yang menjadi potensi unggulan wilayah Doreng, Bola, dan Mapitara.
Plt. Kepala SMKN Habibola, Anggelinus Heni, S.E., bersama seluruh tenaga pendidik terus berkomitmen membangun sekolah ini selangkah demi selangkah. Mereka percaya bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata diukur dari kemewahan fasilitas, tetapi dari kesungguhan mendidik dan keberanian menanamkan mimpi kepada setiap peserta didik.
SMKN Habibola mungkin masih muda. Bangunannya mungkin belum sempurna. Sarana pendukungnya pun masih terus dilengkapi. Namun semangat yang tumbuh di dalamnya jauh lebih besar daripada segala keterbatasan itu.
Sekolah ini hadir membawa harapan baru bagi anak-anak di selatan Kabupaten Sikka. Harapan bahwa mereka tidak perlu pergi jauh untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Harapan bahwa dari ruang-ruang kelas sederhana ini akan lahir petani modern, pelaku wisata profesional, wirausahawan muda, dan generasi yang kelak membangun daerahnya sendiri.
SMKN Habibola sedang menulis babak pertama perjalanan panjangnya. Dan dari sekolah yang lahir dalam kesederhanaan ini, masyarakat berharap akan tumbuh generasi yang mampu mengubah masa depan Flores melalui ilmu, keterampilan, karakter, dan kerja keras. **ah
