Dalam seminar tersebut, Isidorus memaparkan langkah-langkah Pemerintah Kota Kupang dalam membangun tata kelola lingkungan yang berkelanjutan, mulai dari pengelolaan sampah, penyediaan air bersih, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, Kota Kupang kini mulai meninggalkan pola lama pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan sistem kumpul, angkut, dan buang. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPSD), sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) terlebih dahulu dipilah dan diolah sebelum residunya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Sekarang sistem kita dari TPS dibawa ke TPSD, setelah dikelola di sana baru dibawa ke TPA. Yang dibawa ke TPA hanya sekitar 15 persen, sedangkan sisanya diselesaikan di TPSD karena masih bisa diolah," ujar Isidorus.
Ia mengatakan sistem tersebut mampu mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan nilai ekonomi melalui pengembangan bank sampah.
"Ada botol-botol bekas yang bisa langsung dibawa ke bank sampah. Kasih ke bank sampah, dapat uang. Sekarang sudah banyak warga yang bekerja di TPSD dan bank-bank sampah mulai bertumbuh di Kota Kupang," katanya.
Isidorus menjelaskan produksi sampah di Kota Kupang mencapai sekitar 234 ton per hari. Dengan sistem baru, hanya sampah yang benar-benar tidak dapat diolah yang dibawa ke TPA sehingga volume timbunan sampah dapat ditekan.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan armada pengangkut, minimnya Tempat Penampungan Sementara (TPS), hingga persoalan pendanaan operasional.
"Persoalan finansial membuat pengangkutan sampah belum bisa dilakukan beberapa kali sehari. Masih ada wilayah yang belum terjangkau, bahkan tempat sampah yang disediakan pemerintah sering hilang atau dicuri," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah menjadi hal yang sangat penting.
"Kalau hanya kumpul, angkut, buang, persoalan sampah tidak pernah selesai. Yang terjadi hanya memindahkan masalah ke TPA sehingga muncul bau, pencemaran, dan persoalan lingkungan lainnya," tegasnya.
Selain membahas pengelolaan sampah, Isidorus juga menyoroti persoalan penyediaan air bersih di Kota Kupang. Hingga kini, Perumda Air Minum baru mampu melayani sekitar 76.225 jiwa atau 19 persen dari total penduduk Kota Kupang.
"Jumlah penduduk Kota Kupang yang baru kita layani sekitar 76.225 jiwa atau 19 persen. Ini masih jauh sekali karena sekitar 82 persen penduduk di Kota Kupang belum kita layani air bersih," ungkapnya.
Ia menjelaskan kebutuhan air masyarakat Kota Kupang mencapai sekitar 79,5 juta meter kubik per tahun, sedangkan produksi air yang mampu dihasilkan baru sekitar 6,7 juta meter kubik.
"Artinya kita masih mengalami kekurangan air sekitar 90 persen. Ini tantangan yang sangat besar sehingga membutuhkan kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak ke depan," katanya.
Menurut Isidorus, keterbatasan sumber air baku, tingginya kehilangan air akibat jaringan pipa yang telah berusia lebih dari 20 tahun, serta kerusakan sejumlah fasilitas produksi menjadi tantangan yang terus dihadapi.
Di sisi lain, Perumda Air Minum terus berupaya menjaga keterjangkauan tarif dan kualitas air. Ia menyebut biaya kebutuhan dasar air melalui jaringan perpipaan masih jauh lebih murah dibandingkan penggunaan air tangki, sementara kualitas air rutin diuji setiap bulan.
Menutup pemaparannya, Isidorus mengingatkan bahwa perubahan iklim telah mulai dirasakan masyarakat Kota Kupang. Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program konservasi, seperti gerakan tanam air, panen air, rehabilitasi daerah aliran sungai, penghijauan kawasan mata air, pengembangan urban farming, serta penataan kawasan pesisir sebagai ruang publik yang ramah lingkungan.
"Kita sudah masuk musim panas dan dampak perubahan iklim mulai kita rasakan. Karena itu konsentrasi pemerintah sekarang adalah gerakan tanam air, panen air, rehabilitasi daerah aliran sungai, serta penguatan tata kelola sumber daya air," tutup Isidorus. **usgo
