KUPANG, Mutiara Timur – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMK Negeri 3 Kupang, Alce Papote, terus mendorong pelestarian budaya lokal melalui pendidikan vokasi. Di bawah kepemimpinannya, budaya tidak hanya diajarkan sebagai warisan, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi yang melibatkan siswa dan alumni, mulai dari busana tenun, seni tari hingga pangan lokal.
Alce Papote mengatakan, jurusan Busana memproduksi pakaian dan rompi bermotif tenun yang dijahit langsung oleh siswa kelas XII sebelum menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Produk tersebut kemudian dipasarkan kepada masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau sehingga dapat digunakan lebih luas oleh warga Kota Kupang.
"Rompi dan pakaian itu dijahit oleh anak-anak kami. Setelah selesai diproduksi, kami jual kepada masyarakat. Beberapa sekolah sudah membeli rompi tenun kami. Ini juga menjadi cara kami membantu melestarikan budaya melalui busana tenun," ujar Alce Papote Rabu, (15/7/26).
Menurutnya, harga rompi tenun yang di pasaran mencapai sekitar Rp200 ribu dijual sekolah seharga Rp150 ribu. Sementara pakaian hasil praktik siswa dipasarkan sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.
Ia mengaku bangga karena karya siswa kini mulai dikenakan berbagai kalangan, termasuk para pejabat di Nusa Tenggara Timur. Saat peluncuran sebuah kegiatan yang dihadiri Gubernur NTT, banyak pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) membeli busana hasil karya siswa SMKN 3 Kupang.
"Kalau saya melihat ada orang memakai pakaian karya anak-anak kami, saya merasa bangga. Berarti promosi kami berhasil dan hasil karya mereka diterima masyarakat," katanya.
Selain busana, Alce Papote juga menaruh perhatian pada pengembangan seni tari sebagai bagian dari pelestarian budaya. Tim tari SMKN 3 Kupang rutin tampil dalam berbagai festival budaya dan perlombaan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur kepada masyarakat.
Sekolah juga mengembangkan Dapur Flobamora, unit usaha yang menyajikan aneka pangan lokal khas NTT. Unit tersebut menjadi tempat praktik siswa jurusan kuliner sekaligus membuka lapangan kerja bagi alumni yang baru lulus.
"Anak-anak yang sudah tamat kami pekerjakan di dapur. Mereka menerima gaji, sementara siswa yang sedang praktik mata pelajaran pengolahan makanan dan pastry ikut belajar langsung di sana," jelasnya.
Selain Dapur Flobamora, SMKN 3 Kupang mengelola unit usaha laundry, hotel pendidikan, busana, dan kecantikan. Alumni yang bekerja di unit-unit tersebut menerima gaji sekitar Rp1 juta per bulan sebagai bekal pengalaman kerja.
Menurut Alce Papote, keberadaan unit-unit usaha tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Kupang. Busana tenun yang dipakai warga, pangan lokal yang diolah siswa, hingga penampilan seni tari dalam berbagai kegiatan menjadi bentuk kontribusi sekolah dalam menjaga nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dalam enam bulan terakhir, SMKN 3 Kupang juga berhasil meraih sekitar 10 piala dari berbagai ajang, mulai dari fashion show busana daerah, Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat provinsi, lomba bahasa Inggris hingga pameran antarkabupaten. Berbagai capaian itu semakin mengukuhkan SMKN 3 Kupang sebagai sekolah vokasi yang tidak hanya melahirkan lulusan siap kerja, tetapi juga menjadi penggerak pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. **usgo
