KOTA KUPANG – Dinas Perikanan Kota Kupang terus mengoptimalkan berbagai program bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah guna meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan. Berbagai bantuan tersebut mencakup sarana penangkapan ikan, budidaya perikanan, hingga pemberdayaan kelompok masyarakat.
Kepala Dinas Perikanan Kota Kupang, Ejbend Doeka, mengatakan berbagai bantuan yang telah disalurkan selama beberapa tahun terakhir berasal dari pembiayaan APBN dalam berbagai bentuk, mulai dari alat tangkap, mesin kapal, pelatihan nelayan, pelatihan perawatan mesin, rehabilitasi mangrove, pembangunan kampung nelayan, penguatan koperasi nelayan, bantuan perahu, hingga peralatan pengolahan hasil perikanan.
"Bantuan-bantuan ini merupakan program pemerintah pusat yang terus kami perjuangkan agar dapat dinikmati masyarakat Kota Kupang. Meskipun saat ini anggaran mengalami efisiensi, kami tetap mengusulkan berbagai program agar dukungan dari pemerintah pusat terus mengalir ke daerah," ujar Ejbend Doeka kepada media Selasa, (7/7/26).
Ia menjelaskan, pada tahun 2026 Pemerintah Kota Kupang mengusulkan enam Kampung Nelayan Merah Putih. Selain itu, Kota Kupang juga telah memperoleh bantuan budidaya ikan menggunakan sistem bioflok.
Menurutnya, sistem bioflok merupakan metode budidaya ikan menggunakan kolam bundar berbahan terpal yang dilengkapi aerator, penutup, benih, serta pakan. Program tersebut saat ini masih difokuskan pada budidaya ikan lele karena dinilai sesuai dengan kondisi masyarakat.
Selain mengandalkan bantuan pusat, Pemerintah Kota Kupang juga terus mengusulkan program serupa melalui APBD sesuai kemampuan keuangan daerah.
Ejbend Doeka mencontohkan keberhasilan Kelompok Sahabat Lele yang dibentuk Jemaat Batu Karang sebagai salah satu bukti nyata manfaat program tersebut.
"Kelompok Sahabat Lele berhasil mengembangkan usaha budidayanya dengan hasil penjualan yang cukup baik. Kini mereka tidak hanya membudidayakan lele konsumsi, tetapi juga mulai mengembangkan pembenihan serta mengintegrasikan usaha perikanan dengan pertanian. Dalam waktu dekat mereka akan kembali memasuki masa panen," katanya.
Ia menambahkan, penyuluh perikanan terus melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok budidaya agar setiap kendala teknis dapat segera diatasi sehingga usaha masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.
Saat ini, program budidaya ikan telah tersebar di berbagai wilayah Kota Kupang. Salah satunya melalui budidaya ikan dalam ember (budikdamber) yang dikembangkan di kawasan permukiman. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting melalui peningkatan konsumsi protein ikan bagi masyarakat.
Meski demikian, menurutnya tantangan terbesar bukan terletak pada penyediaan bantuan, melainkan membangun komitmen masyarakat untuk secara konsisten menjalankan usaha budidaya.
"Kami terus mengedukasi masyarakat agar melihat budidaya ikan sebagai peluang usaha jangka panjang. Pendampingan akan terus dilakukan sehingga semakin banyak kelompok yang berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya," pungkas Ejbend Doeka. ***usgo
