MAUMERE – Nusra Youth Day (NYD) III bukan sekadar ajang berkumpulnya Orang Muda Katolik (OMK) dari wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Lebih dari itu, pertemuan ini diharapkan menjadi ruang pembentukan karakter agar generasi muda mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua Panitia Nya III, Adrianus Firminus Parera, menegaskan, orang muda Katolik harus tampil sebagai pribadi yang berani mengambil peran, teguh dalam iman, dan memiliki semangat melayani di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
"Remaja kita hari ini harus menjadi orang muda yang berani, beriman, dan melayani. Mereka tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan ini, tetapi harus pulang membawa perubahan nyata dalam cara berpikir, bersikap, dan berkarya," kata Adrianus.
Ia menjelaskan, NYD III mengusung tema "Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa" dengan menghadirkan 837 peserta, di luar para pendamping dan Komisi Kepemudaan dari sembilan keuskupan di wilayah Nusra.
Seluruh peserta ditempatkan di 17 titik di wilayah Paroki Nita dan tinggal bersama keluarga-keluarga umat sebagai bagian dari pengalaman hidup menggereja serta membangun persaudaraan dengan masyarakat.
Menurut Adrianus, peserta terbanyak berasal dari Keuskupan Maumere sebanyak 445 orang, disusul Keuskupan Agung Ende 94 orang, Keuskupan Larantuka 73 orang, Keuskupan Ruteng 54 orang, Keuskupan Labuan Bajo 33 orang, Keuskupan Weetabula 32 orang, serta Keuskupan Atambua dan Keuskupan Denpasar masing-masing 28 orang.
Selama pelaksanaan NYD III, peserta mengikuti beragam kegiatan yang memadukan pembinaan iman, intelektual, budaya, dan kebersamaan. Agenda tersebut meliputi ziarah kreatif, dialog, Ngobrol Pintar (Ngopi) bersama para uskup, seminar kepemudaan di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, pentas seni dari sembilan keuskupan, hingga misa penutupan di Gelora Samador Maumere.
Adrianus mengatakan, seluruh rangkaian kegiatan sengaja dirancang untuk menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Ia mengutip konsep VUCA : Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity yang menggambarkan dunia modern sebagai ruang yang penuh gejolak perubahan, ketidakpastian, kerumitan persoalan, serta kebingungan dalam menentukan arah kehidupan.
"Dunia ini tidak sedang baik-baik saja. Kita hidup dalam perubahan yang sangat cepat. Karena itu, Nusra Youth Day harus menjadi jawaban agar orang muda memiliki pegangan iman yang kuat dan mampu menghadapi perubahan zaman," ujarnya.
Karena itu, materi seminar dan seluruh proses pembinaan selama NYD III diarahkan agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami perubahan karakter dan cara pandang.
Ia berharap para peserta kembali ke keuskupan masing-masing sebagai pribadi yang lebih matang, mampu menjadi pelopor persatuan, serta hadir sebagai wajah Gereja yang dekat dengan masyarakat.
"Bagi kami, keberhasilan Nusra Youth Day bukan diukur dari ramainya peserta atau meriahnya acara. Keberhasilannya terletak pada lahirnya orang-orang muda yang berani mengambil tanggung jawab, kokoh dalam iman, dan setia melayani Gereja, bangsa, serta sesama," tegas Adrianus.
Melalui semangat itu, Nusra Youth Day III diharapkan menjadi titik tolak lahirnya generasi muda Katolik yang tidak gentar menghadapi perubahan zaman, tetapi justru menjadi penggerak harapan, persaudaraan, dan pelayanan bagi Gereja maupun Indonesia. **ah
