"Imam Pertama Asal Lanamai Raya Ini Membuktikan Bahwa Tuhan Dapat Memanggil Siapa Saja"
MARONGGELA, MUTIARA TIMUR – Tepuk tangan meriah menyelimuti Kapela Tedhing St. Maria Assumpta, Paroki Maronggela, Rabu (17/6/2026), saat RP. Makarius Sungga, CMF membagikan kisah hidupnya yang penuh liku dalam Misa Perdana. Siapa sangka, imam pertama asal Lanamai Raya, Tedhing-Teong itu pernah dicap sebagai pencuri ayam, hidup dalam pergaulan bebas, gemar mabuk dan merokok, sebelum akhirnya menemukan kembali panggilan Tuhan yang sempat hilang dari hidupnya.
Di hadapan ribuan umat yang hadir dalam suasana penuh syukur atas tahbisan imamat yang diterimanya pada 13 Juni 2026, Pater yang akrab disapa Pater Marsi itu secara terbuka mengisahkan perjalanan hidupnya yang jauh dari gambaran seorang calon imam.
Dengan penuh kerendahan hati, ia mengakui bahwa masa mudanya diwarnai berbagai kenakalan yang bahkan sempat membuat orang tua dan masyarakat resah.
"Tuhan memanggil orang tidak hanya yang terlihat saleh, hidup lurus dan baik di mata manusia. Tuhan juga memanggil orang-orang yang pernah jatuh dan tersesat seperti saya," ungkapnya.
Makarius merupakan putra pasangan Timotius Maki dan Christina Ndasi warga Tedhing, wilayah Lanamai Raya. Sejak kecil, ia sebenarnya sudah memiliki keinginan untuk menjadi imam. Namun, perjalanan menuju altar tidak berjalan mulus.
Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku SMP, ia tidak melanjutkan sekolah ke SMA selama hampir dua tahun. Dalam masa itu, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman sebaya di kampung.
Ia mulai mengenal minuman keras, rokok, dan berbagai kenakalan remaja lainnya.
"Saya pernah dicap sebagai pencuri ayam karena waktu itu saya dan teman-teman sering membuat onar. Kami minum mabuk, merokok dan melakukan hal-hal yang meresahkan masyarakat," tuturnya.
Pengakuan itu membuat umat yang hadir tersenyum dan tertawa, tetapi sekaligus terdiam karena tidak menyangka seorang imam yang kini berdiri di altar pernah melewati masa-masa sulit tersebut.
Di balik kisah kenakalan masa mudanya, tersimpan cerita menarik tentang awal mula panggilannya.
Dengan nada bercanda, ia mengungkapkan bahwa alasan pertama yang membuatnya tertarik menjadi imam saat masih kecil adalah karena sering melihat pastor disuguhi makanan enak ketika mengunjungi umat.
"Saya mau jadi imam karena mau makan ayam panggang. Setiap kali pastor datang ke rumah umat, selalu disediakan makanan yang enak, terutama ayam panggang," katanya yang langsung disambut gelak tawa umat.
Namun di balik alasan polos seorang anak kecil itu, Tuhan ternyata sedang menanamkan benih panggilan dalam dirinya.
Ketika menerima Komuni Pertama saat masih duduk di bangku SD, Makarius dipercaya membawakan bacaan pertama dalam Perayaan Ekaristi.
Karena telah dilatih dan diminta menghafal sebelumnya, ia mampu menyampaikan bacaan tersebut tanpa membaca teks Kitab Suci.
"Saya masih ingat waktu itu dipercaya membawakan bacaan pertama. Saya hafal dan menyampaikannya tanpa membaca teks. Kalau tidak salah dari Kitab Samuel. Kepercayaan itu membuat saya semakin yakin ingin menjadi imam," kenangnya.
Perjalanan hidup Makarius mulai berubah ketika menghadapi ujian akhir SMP. Saat itu ia begitu berharap dapat lulus. Bahkan sebelum ujian, ia meminta doa dan berkat air dari seorang imam untuk diminum sebagai bentuk ikhtiar dan keyakinannya. Namun hasil yang diterima justru di luar harapan. Ia dinyatakan tidak lulus.
Kegagalan itu menjadi pukulan berat yang membuat dirinya kecewa dan kehilangan semangat untuk mengejar cita-cita menjadi imam.
"Saya merasa kecewa. Saya sudah minta doa dan berkat air, tetapi ternyata tidak lulus. Sejak saat itu saya tidak tertarik lagi menjadi imam," ujarnya.
Untuk memperoleh ijazah, ia kemudian mengikuti Program Paket B yang setara dengan SMP. Setelah memperoleh sertifikat, ia memilih tidak melanjutkan pendidikan dan lebih fokus bekerja.
Dalam masa itu, Makarius menjalani berbagai pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Ia pernah bekerja sebagai buruh proyek dan bahkan menjadi juru masak bagi para pekerja lapangan.
Kesibukan mencari nafkah membuat cita-cita menjadi imam semakin menjauh dari pikirannya.
Ajakan untuk melanjutkan sekolah pernah datang dari saudaranya, Bonifasius Sapang, yang mengundangnya ke Kupang. Namun saat itu ia menolak dan memilih tetap tinggal di kampung.
"Saya lebih memilih hidup sebagai anak muda biasa di kampung. Panggilan menjadi imam benar-benar hilang dari hidup saya," katanya.
Titik balik hidupnya datang melalui sang kakak, Ros. Suatu hari ketika sedang tidur dalam keadaan mabuk, kakaknya datang dan mengajaknya ke Kupang untuk melanjutkan pendidikan. Tanpa banyak berpikir, ia menerima ajakan tersebut.
"Ketika saya sedang tidur dalam keadaan mabuk, Kakak Ros datang mengajak saya ke Kupang untuk sekolah. Saya mengiyakan dan ikut bersamanya," tuturnya.
Di rumah kakaknya, kehidupan Makarius perlahan berubah. Ia tinggal bersama Kak Ros dan suaminya, Marianus Minggo, seorang mantan frater. Setiap malam seluruh anggota keluarga diwajibkan mengikuti doa bersama.
Lingkungan keluarga yang religius perlahan membangkitkan kembali benih panggilan yang selama ini tertidur.
"Kalau tidak ikut doa saya bisa dimarahi. Dari situ panggilan menjadi imam mulai muncul kembali," katanya.
Setelah menamatkan pendidikan di SMA Katolik Carolus Boromeus Kupang, Makarius memutuskan bergabung dengan Kongregasi Misionaris Claretian atau CMF (Cordis Mariae Filius).
Ia menjalani seluruh proses formasi sebagai calon imam Claretian, mulai dari masa pembinaan awal, novisiat, pengikraran kaul, studi filsafat, Tahun Orientasi Pastoral di Mantutu, Timor Leste, hingga studi teologi.
Perjalanan panggilannya kemudian membawanya ke Peru, Amerika Selatan. Di negara tersebut ia mengikrarkan kaul kekal dan menerima Tahbisan Diakon pada 17 Oktober 2025 bersama rekan seangkatannya.
Puncaknya terjadi pada 13 Juni 2026 ketika ia ditahbiskan menjadi imam dalam Perayaan Ekaristi Tahbisan Imamat di Benlutu, Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sebagai pegangan hidup dan pelayanan imamatnya, RP. Makarius Sungga, CMF memilih motto tahbisan: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mencintai Engkau" (Yohanes 21:17). Motto tersebut diambil dari dialog Yesus dengan Rasul Petrus.
Bagi Pater Marsi, ayat tersebut memiliki makna mendalam karena menggambarkan perjalanan hidupnya sendiri. Seperti Petrus yang pernah jatuh dan menyangkal Yesus tetapi tetap dipanggil untuk menggembalakan umat-Nya, demikian pula dirinya yang pernah mengalami kegagalan, kenakalan, dan pergulatan hidup, namun tetap dipercaya Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya.
Motto itu menjadi ungkapan syukur sekaligus penyerahan diri kepada Tuhan yang mengenal seluruh perjalanan hidup manusia, termasuk kelemahan dan masa lalunya.
Tahbisan RP. Makarius Sungga, CMF menjadi momen bersejarah bagi umat Katolik di Lanamai Raya, Tedhing-Teong, Paroki Maronggela. Ia tercatat sebagai imam pertama yang lahir dari wilayah tersebut.
Dalam pesannya kepada kaum muda, ia mengajak mereka untuk tidak menyerah pada kegagalan maupun masa lalu.
Menurutnya, tidak ada orang yang terlalu jauh untuk dipanggil Tuhan selama masih mau membuka hati dan memberi kesempatan bagi Tuhan untuk bekerja dalam hidupnya.
"Masa lalu tidak menentukan masa depan. Kalau Tuhan berkehendak, Dia bisa mengubah hidup siapa saja. Saya adalah salah satu buktinya," ungkapnya.
Kisah hidup RP. Makarius Sungga, CMF menjadi kesaksian nyata bahwa kasih Tuhan mampu mengubah kehidupan seseorang secara luar biasa. Dari seorang remaja yang pernah dicap pencuri ayam, hidup dalam pergaulan bebas, bekerja sebagai buruh proyek dan tukang masak, kini ia berdiri di altar sebagai imam dan misionaris Claretian yang siap diutus untuk mewartakan Injil ke mana pun Tuhan memanggilnya. **go
