Maumere – Di tengah debur ombak Pantai Sawengka dan semilir angin pesisir Desa Gunung Sari, sebuah harapan baru bagi masa depan generasi muda Kabupaten Sikka resmi dinyalakan. Bukan berupa bangunan megah atau proyek infrastruktur bernilai miliaran rupiah, melainkan sebuah ruang sederhana yang diyakini mampu mengubah masa depan melalui kekuatan ilmu pengetahuan.
Rabu, 3 Juni 2026, Bunda Literasi Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., secara resmi melaunching Cafe Literasi Galampa Bahari di Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok.
Peluncuran cafe literasi tersebut menjadi simbol bahwa pembangunan sebuah daerah tidak hanya diukur dari jalan, jembatan, atau gedung yang berdiri kokoh, tetapi juga dari seberapa kuat budaya membaca, belajar, dan berpikir tumbuh di tengah masyarakat.
Di tangan generasi yang gemar membaca, sebuah desa dapat berkembang. Dari sebuah buku, lahir mimpi. Dari literasi, lahir perubahan.
Dalam sambutannya, Ny. Fista Sambuari Kago menegaskan bahwa literasi adalah fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, cerdas, dan berdaya saing.
"Melalui Cafe Literasi Galampa Bahari ini, saya berharap masyarakat memiliki ruang yang nyaman untuk membaca, belajar, berdiskusi, dan mengembangkan kreativitas. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan," ujarnya.
Menurutnya, tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut masyarakat untuk terus belajar dan memperkaya wawasan. Karena itu, kehadiran ruang literasi di tingkat desa menjadi investasi jangka panjang yang nilainya jauh melampaui pembangunan fisik semata.
Cafe Literasi Galampa Bahari hadir dengan konsep yang unik. Berada di kawasan pesisir yang indah, tempat ini tidak hanya menawarkan suasana membaca yang nyaman, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan ide, tempat bertukar pikiran, dan wadah tumbuhnya kreativitas masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Gunung Sari, pengurus BUMDes Tumbu Ndeu, pegiat literasi, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi mewujudkan fasilitas tersebut.
Menurutnya, kehadiran Cafe Literasi Galampa Bahari merupakan bagian dari upaya meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat sekaligus mendukung transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang sedang digalakkan Pemerintah Kabupaten Sikka.
"Literasi harus hadir di tengah masyarakat. Literasi tidak boleh hanya berada di ruang kelas atau gedung perpustakaan, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat," katanya.
Acara launching berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Anak-anak PAUD, TK, SD, dan MA tampak memenuhi lokasi kegiatan bersama kader Posyandu, pengurus TP PKK, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, pegiat literasi, hingga masyarakat umum yang ingin menyaksikan lahirnya ruang belajar baru di desa mereka.
Turut hadir Ketua ASIDEWI Kabupaten Sikka Yance Moa, Pj Kepala Desa Gunung Sari Mustari Ipir, para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus BUMDes, kader Posyandu, pengurus TP PKK, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.
Peluncuran Cafe Literasi Galampa Bahari bukan sekadar seremoni peresmian sebuah bangunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penanda lahirnya sebuah gerakan. Gerakan yang mengajak masyarakat untuk kembali mencintai buku, memperluas wawasan, dan membangun masa depan melalui ilmu pengetahuan.
Dari tepi Pantai Sawengka, sebuah pesan kuat dikirimkan kepada generasi muda Sikka: masa depan tidak hanya dibangun dengan kekuatan fisik, tetapi juga dengan kekuatan pikiran. Dan dari tempat sederhana bernama Cafe Literasi Galampa Bahari, obor pengetahuan itu kini mulai menyala. **ah

