KUPANG, Mutiara Timur – Sebanyak 312 siswa SMK Negeri 6 Kupang akan mengikuti Program Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada tahun ajaran 2026. Sebagian besar siswa akan ditempatkan di berbagai instansi dan dunia usaha di Kota Kupang, sementara sebagian lainnya berpeluang menjalani PKL di luar daerah sesuai kebutuhan kompetensi dan ketersediaan mitra industri.
Kepala SMKN 6 Kupang, Asa Manason Lahtang, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa hingga saat ini pendataan dan konfirmasi lokasi PKL masih berlangsung sehingga jumlah pasti siswa yang akan ditempatkan di luar daerah belum dapat dipastikan.
"Untuk sampai hari ini kami belum tahu berapa yang akan dikirim ke luar daerah karena masih dalam proses pendataan dan konfirmasi. Namun pada prinsipnya seluruh siswa akan mendapatkan tempat PKL sesuai kompetensinya," ujarnya.
Menurut Asa Manason Lahtang, siswa yang menjalani PKL di luar daerah akan mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan, terutama terkait biaya transportasi, penginapan, dan kebutuhan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan PKL.
Dalam penempatan siswa, sekolah tidak hanya menentukan lokasi secara sepihak. Minat dan kemampuan siswa juga menjadi pertimbangan penting agar pengalaman PKL benar-benar mendukung pengembangan kompetensi mereka.
"Kalau di dalam kota umumnya sekolah yang menentukan, tetapi kami selalu berkomunikasi dengan siswa terkait minat dan kompetensi yang mereka miliki. Tujuannya agar mereka tidak salah tempat dan bisa berkembang sesuai bidang keahlian," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa sekolah sangat selektif dalam memilih dunia usaha dan dunia industri sebagai mitra PKL. Sekolah memastikan tempat PKL mampu memberikan pengalaman kerja yang relevan dengan jurusan siswa.
"Kami tidak ingin anak-anak ditempatkan di tempat yang tidak sesuai kompetensinya. Misalnya siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), tetapi justru hanya disuruh melakukan pekerjaan yang tidak berkaitan dengan bidangnya. Kalau kami menemukan hal seperti itu, siswa akan kami tarik kembali," tegasnya.
Untuk menjamin keamanan dan perkembangan siswa selama PKL, sekolah menerapkan sistem pengawasan berlapis. Guru pembimbing akan melakukan pengantaran siswa ke lokasi PKL, monitoring selama pelaksanaan kegiatan, hingga penjemputan saat program berakhir.
"Ada tiga tahap pengawasan. Pertama saat pengantaran, kedua monitoring selama PKL berlangsung, dan ketiga saat penjemputan. Selain itu komunikasi secara daring juga terus berjalan antara guru, siswa, dan pihak perusahaan," kata Asa.
Menurutnya, sistem tersebut diterapkan untuk memastikan siswa tetap mendapatkan pendampingan meskipun berada di luar lingkungan sekolah.
Asa Manason Lahtang mengungkapkan bahwa sekolah melakukan penyesuaian jadwal PKL agar tidak berbenturan dengan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Jika sebelumnya PKL direncanakan berlangsung pada Oktober atau November, tahun ini kegiatan dimajukan menjadi bulan Juni.
"Sebenarnya desain awal kami PKL dilaksanakan sekitar Oktober atau November. Tetapi karena ada TKA, maka kami majukan ke bulan Juni agar siswa tetap memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi TKA," jelasnya.
Untuk mendukung persiapan tersebut, sekolah telah menyiapkan masa jeda sekitar tiga minggu setelah siswa menyelesaikan PKL. Waktu tersebut akan dimanfaatkan secara maksimal untuk pembelajaran dan persiapan menghadapi TKA.
"Kami sadar ada dilema antara menjalankan kurikulum SMK dan mempersiapkan TKA. Karena itu setelah PKL selesai ada masa jeda sekitar tiga minggu yang digunakan untuk persiapan penuh menghadapi TKA," katanya.
Meski demikian, sekolah memastikan pelaksanaan PKL selama ini berjalan lancar tanpa ada siswa yang gagal menyelesaikan program.
"Sampai hari ini tidak ada siswa yang gagal PKL. Kami berharap ketika mereka kembali ke sekolah, mereka sudah memiliki kompetensi yang lebih baik dan bahkan mampu menghasilkan produk atau karya sesuai bidang keahlian masing-masing," pungkas Asa Manason Lahtang, S.Pd., M.Pd., Kepala SMKN 6 Kupang. **go
