Flores Timur – Ketimpangan pembangunan di Kabupaten Flores Timur kembali menjadi sorotan. Pulau Adonara dinilai belum mendapatkan perhatian pembangunan yang adil meskipun selama ini memberikan kontribusi besar terhadap perputaran ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Adrianus Beda Watan dalam keterangannya kepada media. Ia menilai narasi pembangunan yang selama ini digaungkan pemerintah daerah belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Adonara, terutama dalam sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.
“Adonara menjadi salah satu pemasok utama hasil bumi dan tenaga kerja di Flores Timur, tetapi kenyataannya wilayah ini masih tertinggal dari sisi pembangunan,” ujar Adrianus.
Menurutnya, kondisi jalan utama maupun jalan tani di sejumlah wilayah Adonara masih memprihatinkan dan belum mendukung aktivitas ekonomi masyarakat secara maksimal. Selain itu, keterbatasan fasilitas kesehatan membuat masyarakat kesulitan memperoleh layanan medis yang layak.
Ia juga menyoroti rendahnya kualitas pendidikan yang dinilai menjadi salah satu indikator belum meratanya pembangunan di Flores Timur.
“Masyarakat Adonara sampai hari ini masih berjuang mendapatkan hak-hak dasar yang seharusnya dipenuhi secara merata oleh pemerintah daerah,” katanya.
Adrianus menjelaskan, ketimpangan pembangunan tersebut berdampak langsung terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Potensi daerah yang besar belum mampu berkembang optimal akibat minimnya dukungan infrastruktur dan kurangnya perhatian pembangunan berkelanjutan.
Akibat kondisi itu, banyak generasi muda Adonara memilih merantau ke luar daerah karena kampung halaman dinilai belum mampu menyediakan peluang hidup yang memadai.
“Anak-anak muda akhirnya pergi meninggalkan daerah, bukan karena ingin semata-mata mencari pengalaman, tetapi karena keterbatasan kesempatan di daerah sendiri,” ungkapnya.
Ia menilai pola pembangunan yang terlalu terpusat di wilayah tertentu secara tidak langsung memperlebar jurang ketimpangan antara pusat dan wilayah pinggiran seperti Adonara.
Lebih lanjut, Adrianus mengkritik pemerintah daerah yang dinilai terus menyampaikan narasi pemerataan pembangunan, namun belum mampu menjawab persoalan mendasar terkait distribusi pembangunan yang dinilai tidak merata.
“Pembangunan kehilangan makna ketika wilayah yang memberi kontribusi besar justru terus dipinggirkan,” tegasnya.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk mulai menghadirkan kebijakan pembangunan yang lebih adil dan berpihak kepada masyarakat Adonara.
“Pembangunan tidak boleh hanya hidup dalam pidato dan laporan, tetapi harus benar-benar dirasakan masyarakat secara nyata,” tutup Adrianus. *arishalilintar
