Kupang, mutiara-timur.com — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-140 Kota Kupang yang dirangkaikan dengan 30 tahun otonomi daerah menjadi momentum istimewa bagi kebangkitan budaya dan ekonomi kreatif. Melalui karnaval budaya yang digelar di Bundaran Tirosa, Sabtu (25/4/2026) malam, wajah Kota Kupang tampak hidup, berwarna, dan penuh harapan.
Ribuan warga memadati lokasi acara untuk menyaksikan parade budaya yang menghadirkan sekitar 50 paguyuban etnis Nusantara di Kota Kupang. Beragam tarian tradisional, busana adat, hingga atraksi budaya ditampilkan secara memukau, mencerminkan kekayaan keberagaman yang menjadi ciri khas kota ini.
Suasana semakin semarak dengan panggung hiburan bernuansa modern yang menampilkan musik dari Sky Band serta berbagai pertunjukan seni dari sanggar budaya. Perpaduan tradisi dan modernitas ini sukses menciptakan pengalaman yang menghibur sekaligus membanggakan bagi masyarakat.
Wali Kota Kupang bersama Wakil Wali Kota, Ketua DPRD, Sekda, unsur Forkopimda, serta tokoh masyarakat turut hadir menyaksikan langsung kemeriahan tersebut dari barisan VIP.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menegaskan bahwa karnaval budaya ini bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan bentuk perayaan jati diri kota.
“Kita tidak hanya merayakan sebuah karnaval atau parade, tetapi merayakan identitas dan jiwa Kota Kupang, yaitu keberagaman dan harmoni,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keberagaman yang ada di Kota Kupang bukan menjadi pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat.
“Harmoni itu bukan berarti sama, tetapi seimbang. Kita berbeda, tetapi bisa hidup bersama dalam satu kebersamaan,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyebut Kota Kupang sebagai miniatur Indonesia dan Nusa Tenggara Timur, karena dihuni oleh berbagai suku, etnis, dan agama yang hidup rukun selama bertahun-tahun.
Karnaval budaya ini juga menjadi sejarah baru, karena untuk pertama kalinya digelar sejak 140 tahun berdirinya Kota Kupang. Wali Kota berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang.
“Ini adalah awal. Kami ingin ini menjadi warisan bagi generasi ke depan, yang setiap tahun semakin meriah dan dinanti,” katanya.
Tak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan dampak nyata terhadap ekonomi masyarakat. Sejumlah sektor ikut bergerak, mulai dari jasa rias, penyewaan busana adat, hingga penjualan kain tenun dan produk UMKM.
“Bukan hanya UMKM yang hidup, tetapi juga industri kreatif. Ini bukti bahwa budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi,” jelasnya.
Ia bahkan membayangkan ke depan, karnaval budaya ini mampu menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.
“Suatu saat, sebelum acara ini digelar, hotel-hotel di Kupang akan penuh oleh pengunjung yang datang untuk menyaksikan karnaval budaya,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga Kota Kupang sebagai tanggung jawab bersama.
“Kota ini bukan hanya warisan dari leluhur kita, tetapi juga titipan untuk anak cucu kita. Mari kita jaga bersama,” pungkasnya.
Perayaan ini bukan hanya tentang usia kota, tetapi tentang semangat baru—bahwa dari budaya, Kota Kupang menemukan kekuatan untuk bangkit, tumbuh, dan melangkah ke masa depan. **go
