KUPANG – Ketua Ikatan Keluarga Ngada (IKADA) periode 2026–2029, Isidorus Lilidjawa, menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi tersebut menjadi lebih kuat, kompak, dan berdampak melalui kepemimpinan generasi muda.
Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya usai dilantik sebagai Ketua IKADA pada Sabtu (18/4/2026) di Kota Kupang.
Dalam sambutannya, Isidorus menyebut proses pemilihan Ketua IKADA sebagai momentum demokrasi yang matang dan membanggakan.
“Kontestasi ini mempertemukan empat calon ketua, dan pada akhirnya kedaulatan ada di tangan para ketua paguyuban sebagai pemilik suara,” ujarnya.
Ia mengapresiasi seluruh kandidat serta para ketua paguyuban yang telah menjaga tradisi demokrasi dalam tubuh organisasi.
Menurutnya, kepemimpinan IKADA kini memasuki babak baru dengan dominasi generasi muda.
“Jika sebelumnya kepemimpinan berada di usia separuh abad ke atas, kini beralih ke usia di bawah 50 tahun. Ini bukan kebetulan, tetapi keputusan yang dipertimbangkan secara matang,” tegasnya.
Isidorus, yang baru berusia 47 tahun pada 4 April lalu, menyebut semangat energi muda menjadi kekuatan utama dalam kepengurusan baru yang didominasi sekitar 85 persen anak muda.
Ia menegaskan visi IKADA tiga tahun ke depan adalah: “IKADA kuat, kompak, dan berdampak.”
Menurutnya, sebagai paguyuban, IKADA harus mengedepankan nilai “guyub” atau kebersamaan, persaudaraan, dan gotong royong.
“Kalau kita guyub, kita pasti kuat. Kalau kita kuat, kita akan kompak, dan dari situ kita bisa memberi dampak nyata,” katanya.
Isidorus juga menekankan bahwa kepengurusannya tidak akan terlalu banyak membuat program, tetapi fokus pada program yang benar-benar berdampak.
“Lebih baik sedikit program tapi nyata, daripada banyak program tapi tidak direalisasikan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa semangat sukarela dan budaya berbagi harus terus dihidupkan dalam tubuh IKADA.
“Yang memberi tidak merasa lebih, yang belum memberi tidak merasa kurang,” katanya.
Dalam sambutannya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai persaudaraan lintas komunitas Ngada tanpa sekat.
“IKADA bukan soal Riung, Bajawa, atau wilayah tertentu. Ini rumah besar kita bersama,” tegasnya.
Ia juga mengangkat filosofi hidup “Memento Mori” dan Momento Vitae (memento Vivere)," sebagai pengingat untuk peduli, baik dalam suka maupun duka.
Isidorus turut menyampaikan terima kasih kepada para ketua IKADA sebelumnya yang telah membangun fondasi organisasi, serta kepada Pemerintah Kota Kupang atas dukungan yang diberikan.
Ia bahkan secara terbuka mengakui strategi kampanyenya saat pemilihan. “Saya sempat bilang didukung wali kota, itu bagian dari strategi mencari suara. Tapi sekarang saatnya kita benar-benar berkolaborasi untuk kepentingan masyarakat,” ungkapnya.
Dengan semangat kebersamaan dan energi generasi muda, Isidorus optimistis IKADA akan tumbuh menjadi organisasi yang tidak hanya solid secara internal, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat. **go
.
