Kupang - Ngada hadir dengan tiga wajah budaya yang menyatu dalam satu identitas. Dari etnis Bajawa, Ja’i Laba Go menjadi simbol sukacita, rasa syukur, dan kebersamaan, di mana setiap hentakan kaki dan irama gong gendang menyatukan semua orang tanpa batas. Dari etnis So’a, Sagi hadir sebagai tradisi tinju adat yang sarat makna keberanian, penghormatan kepada leluhur, serta ungkapan syukur atas kehidupan dan hasil panen. Sementara dari etnis Riung, Larik tampil sebagai ritus sakral yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan sumber kehidupan, sekaligus simbol persatuan dan ketahanan hidup.
Ketiganya bukan sekadar pertunjukan, tetapi cerminan jati diri masyarakat Ngada yang hidup dalam nilai syukur, keberanian, dan persaudaraan. Dalam setiap gerak Ja’i, ada kebersamaan. Dalam setiap Sagi, ada kekuatan dan sportivitas. Dalam setiap Larik, ada makna pengorbanan dan kehidupan.
Di Kota Kupang, sebagai ibu kota Provinsi NTT, budaya ini hadir bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk diperkenalkan, dijaga, dan diwariskan. IKADA Kupang menjadi jembatan yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tersebut di tanah rantau, agar dunia tahu bahwa Ngada kaya akan budaya, kuat dalam identitas, dan hidup dalam persatuan.
AYO HADIR DAN SAKSIKAN!
Sabtu, 25 April 2026 jam 5 sore
Mari kita ramaikan Karnaval Budaya dalam rangka memperingati HUT Kota Kupang ke-30 bersama Ikatan Keluarga Ngada (IKADA) Kupang!
Hentakan Ja'i yang menggema, Tangan mengepang dalam kebersamaan, Pukulan tinju yang mengingatkan kita pada kampung halaman, Setiap larik langkah menyatukan hati,
Menguatkan kita sebagai satu keluarga besar, Tak gentar walau ada tantangan!
Ini bukan sekadar pertunjukan,
Ini adalah *identitas, kebanggaan, dan persatuan kita!
Mari datang, dukung, dan jadi bagian dari semangat budaya yang hidup!
IKADA Kupang… Kompak, Kuat, dan Bermartabat! Sampai jumpa di karnaval! **Jac/fan
