Terisolasi karena Jembatan Tak Kunjung Dibangun: Warga Delapan Desa di Timur Sikka Desak Pemerintah Bertindak


SIKKA, MUTIARA TIMUR — Kondisi infrastruktur di wilayah timur Kabupaten Sikka kembali menuai sorotan. Kerusakan parah pada ruas jalan Boganatar–Wailamung serta ketiadaan jembatan permanen membuat aktivitas masyarakat di delapan desa terhambat, bahkan berdampak langsung pada pendidikan anak-anak.

Ruas jalan kabupaten tersebut menghubungkan Desa Hikong, Desa Kringa, Desa Timutawa, Desa Ojang, Desa Waipaar, Desa Henga, Desa Lewomada, hingga Desa Wailamung. Namun hingga kini, kondisi jalan dan jembatan di jalur itu dilaporkan rusak berat dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan.

Saat ditemui wartawan Mutiara Timur, perwakilan masyarakat dari Dusun Kolit, Desa Ojang, Wilibordus Burak mengungkapkan bahwa persoalan utama yang dihadapi warga adalah tidak adanya jembatan permanen yang menghubungkan Dusun Kolit dengan Dusun Lewomudat, Desa Waipaar.

Menurut Wilibordus, kedua dusun tersebut hanya dipisahkan oleh sebuah kali dengan lebar sekitar 20 meter dan jarak antarwilayah sekitar satu kilometer. Namun saat hujan turun, aliran air sering meluap hingga memutus akses warga.

“Ketika musim hujan, air kali meluap dan masyarakat tidak bisa menyeberang. Anak-anak dari Dusun Lewomudat yang bersekolah di SDN Kolit akhirnya tidak bisa pergi ke sekolah,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat para siswa terpaksa diliburkan setiap kali banjir datang karena tidak ada akses yang aman untuk menyeberangi kali.

“Anak-anak sangat dirugikan. Mereka harus libur bukan karena sekolah tutup, tetapi karena tidak ada jembatan untuk lewat,” katanya.

Wilibordus juga menjelaskan bahwa pada tahun 2024 pemerintah daerah sempat membuka atau menggusur ruas jalan dari Desa Ojang menuju Desa Henga sepanjang sekitar 7 kilometer. Namun hingga kini, menurutnya, tidak ada kelanjutan pembangunan yang dilakukan.

“Jalan memang sudah dibuka, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Kondisinya masih sulit dilewati,” ungkapnya.

Karena tidak adanya perhatian nyata terhadap kebutuhan infrastruktur tersebut, masyarakat akhirnya berinisiatif membangun jembatan darurat secara swadaya. Namun jembatan sederhana itu hanya bersifat sementara dan sangat berisiko saat debit air meningkat.

“Kami hanya bisa membuat jembatan darurat supaya anak-anak tetap bisa sekolah. Tapi itu tidak aman jika air sungai naik,” jelasnya.

Masyarakat Dusun Kolit dan Dusun Lewomudat kini berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dengan membangun jembatan rel atau jembatan layang sepanjang sekitar 70 meter untuk menghubungkan kedua wilayah tersebut.

“Kami berharap Bupati Sikka, Ketua DPRD Kabupaten Sikka, dan dinas terkait bisa membantu kami membangun jembatan permanen. Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal keselamatan masyarakat dan pendidikan anak-anak,” tegas Wilibordus.

Bagi warga di wilayah timur Sikka, jembatan itu bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah akses kehidupan penghubung antara rumah, sekolah, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. **arishalilintar 

Iklan

Iklan