Menanam Iman, Merawat Ciptaan: 75 Tahun Kapela St. Hendrikus Binilaka



KUPANG - Launching kegiatan dalam rangka perayaan 75 tahun Kapela St. Hendrikus Binilaka, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan iman umat, tetapi juga seruan untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.

Melalui penanaman pohon dan pelepasan satwa ke habitat alaminya, umat menegaskan bahwa iman yang hidup harus berbuah dalam tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan.

Hal ini ditandai dengan dilaunchingnya kegiatan sosial yang di pusatkan di Halaman Gereja St. hHendrikus Binilaka,  Minggu 25 Maret 2026,  sebelum memasuki hari puncak 75 Tahun Gereja St. Hendrikus Binilaka. Pada bulan September mendatang.

Umat Kapela St. Hendrikus Binilaka, Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui, memilih merayakan 75 tahun perjalanan iman mereka dengan cara yang tidak biasa: menanam pohon dan mengembalikan satwa ke alam. Perayaan ini menjadi refleksi bahwa iman tidak berhenti di ruang ibadah, tetapi harus hadir merawat kehidupan dan bumi yang semakin rapuh.

Dentang gong yang dipukul tujuh dan lima kali menggema di halaman Kapela St. Hendrikus Binilaka, Minggu (15/3/2026). 

Bunyi itu bukan sekadar penanda seremoni, tetapi simbol perjalanan panjang sebuah komunitas kecil umat Katolik yang selama tujuh puluh lima tahun bertahan, bertumbuh, dan membangun kehidupan iman di pinggiran Kota Kupang.

Perayaan yubileum ini mengusung tema “75 Tahun Berziarah dalam Iman, Bertumbuh dalam Kasih, Bersaksi dalam Pelayanan.” Tema yang tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga mengandung refleksi sosial dan ekologis.

Di halaman kapela, sejumlah anakan pohon buah disiapkan. Mangga, jambu air, hingga nangka akan ditanam dan dibagikan kepada umat di setiap Komunitas Umat Basis (KUB). Pada saat yang sama, sejumlah satwa—burung perkutut, kura-kura Ambon, dan ular sanca maclotoc—akan dilepas kembali ke habitatnya di beberapa kawasan di Kupang dan sekitarnya.

Langkah ini bukan sekadar simbolis. Bagi umat Binilaka, ia adalah cara sederhana untuk menegaskan bahwa iman harus berpihak pada kehidupan.

Vikjen Keuskupan Angun Kupang, sekaligus Pastor Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Romo Kris Saku, PR, dalam homilinya mengingatkan bahwa gereja tidak boleh terjebak menjadi institusi yang hanya sibuk dengan ritual.

“Gereja adalah umat Allah yang hidup. Ia hadir di tengah kehidupan manusia dan dipanggil untuk membawa terang bagi mereka yang membutuhkan harapan,” kata Romo Kris.



Menurut dia, perjalanan panjang gereja selalu diwarnai dinamika—antara kebaikan dan tantangan. Namun iman, katanya, selalu dipanggil untuk tetap menanam harapan.

“Ketika kita menanam kebaikan, memang selalu ada ‘rumput’ yang ikut tumbuh. Tetapi kebaikan tidak pernah lahir dari kejahatan. Karena itu, gereja harus terus menanam yang baik,” ujarnya.

Refleksi itu menjadi relevan di tengah situasi global saat ini. Dunia menghadapi krisis ekologis yang semakin nyata—perubahan iklim, kerusakan hutan, hingga hilangnya habitat satwa.

Gereja Katolik sejak lama telah menaruh perhatian pada isu ini. Dalam Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan pada 2015, Paus Fransiskus menyerukan “pertobatan ekologis”—sebuah kesadaran baru bahwa manusia tidak boleh memperlakukan alam sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai rumah bersama yang harus dijaga.

Semangat itulah yang coba diterjemahkan secara sederhana oleh umat Kapela St. Hendrikus Binilaka.

Ketua Panitia Yubileum 75 Tahun Kapela, Prof. Tony Ola  mengatakan bahwa kegiatan penanaman pohon dan pelepasan satwa merupakan bentuk konkret dari spiritualitas ekologis yang dihidupi umat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa iman tidak berhenti di doa. Iman juga berarti menjaga ekosistem, memelihara alam, dan hidup selaras dengan ciptaan Tuhan.

Kegiatan ini selaras dengan Ensiklik Laudato Si’  oleh Paus Fransiskus yang menegaskan konsep Ekologi Integral dan mendorong Pertobatan Ekologis  terutama dalam masa puasa ini.,” katanya.

Sebanyak 75 pohon akan ditanam dan dibagikan kepada umat sebagai simbol perjalanan kapela yang telah melewati tiga perempat abad. Pohon-pohon itu diharapkan tumbuh bersama generasi baru umat.

Tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat juga dilibatkan dalam penanaman pohon, di antaranya Daud Mananel dan Daniel Mananel, Cely Ngganggus- anggota DPRD NTT, dr. Kamelus Karanganora, Sussteran Biara CB. Keterlibatan mereka menegaskan bahwa gereja di Nusa Tenggara Timur tidak pernah berdiri terpisah dari akar budaya lokal.

Tokoh umat Sekaligus Ketua Dewan Pastoral Kapela Binilaka , Dr. Domi Wara mengingatkan bahwa sejarah Kapela St. Hendrikus Binilaka sendiri lahir dari perjalanan panjang umat yang membangun kehidupan gereja secara sederhana, bahkan sejak masa awal pelayanan di wilayah Naimata.

“Kapela ini adalah kapela kedua yang lahir dari semangat umat di wilayah ini. Semua dimulai dari kebersamaan dan iman yang sederhana,” ujarnya.

Bagi umat Binilaka, merayakan 75 tahun bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali arah perjalanan gereja di masa depan.

Dalam refleksinya, Romo Kris Saku menegaskan bahwa gereja harus tetap menjadi ruang harapan di tengah dunia yang sering kehilangan arah.

“Kita dipanggil menjadi gereja yang membawa pengharapan. Gereja yang terlibat dalam karya Kristus, yang hadir di tengah kehidupan dan memberi terang bagi dunia,” katanya.

Karena itu, simbol-simbol dalam perayaan yubileum ini tidak dipilih secara kebetulan.Pohon yang ditanam melambangkan iman yang berakar dan bertumbuh.

Satwa yang dilepas melambangkan kebebasan dan tanggung jawab manusia terhadap ciptaan.

Sementara dentang gong 75 kali menandai perjalanan panjang komunitas yang dibangun oleh kesetiaan umat.

Pada akhirnya, dari sebuah kapela sederhana di Binilaka, pesan yang hendak disampaikan menjadi jelas: iman tidak hanya dirayakan, tetapi ditanam, dirawat, dan diwariskan.

Seperti pohon yang tumbuh perlahan, iman pun membutuhkan kesabaran, kebersamaan, dan keberanian untuk menjaga kehidupan—baik bagi manusia maupun bagi bumi yang menjadi rumah bersama. **gijw

Iklan

Iklan