Kupang, NTT – Hasil survei terbaru di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan tingkat kepuasan publik yang tinggi terhadap kinerja pemerintah provinsi. Sebanyak 80,5 persen responden menyatakan puas dan cukup puas terhadap kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur pada tahun pertama masa jabatan.
Survei ini dipaparkan oleh Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, yang menilai capaian tersebut sebagai modal politik yang kuat untuk melanjutkan agenda pembangunan ke depan.
Menurut Pangi, kekuatan elektoral di NTT saat ini bertumpu pada generasi milenial (usia 24–39 tahun). Kelompok ini dinilai sebagai penentu utama persepsi publik karena memiliki frekuensi akses informasi yang sangat tinggi, terutama melalui media sosial.
“Milenial ini adalah dewa elektoral. Mereka kritis, melek teknologi, cepat mengakses informasi, dan mudah membangun dialektika publik. Siapa yang mampu membaca dan merespons aspirasi mereka, itu yang akan memenangi persepsi publik,” ujar Pangi pada diskusi publik 1 tahun program Melki Johni di aula Eltari Jumat, (20/2/2026).
Selain milenial, kelompok Gen X (40–55 tahun) juga dinilai memiliki pengaruh sosial kuat dalam struktur keluarga dan komunitas.
Hasil survei menunjukkan: 72,5% responden menilai Pemprov NTT memahami persoalan masyarakat, 75,4% meyakini pemerintah provinsi memiliki solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat, 23% menyatakan tidak lagi memiliki harapan.
Pangi menegaskan, angka tersebut menunjukkan harapan publik masih sangat tinggi terhadap pemerintah provinsi.
“Data ini bukan sekadar angka kepuasan, tapi refleksi harapan. Masyarakat masih percaya pemerintah punya solusi atas masalah mereka,” tegasnya.
Sebanyak 79,8 persen responden menilai perencanaan pembangunan pemerintah sudah baik. Namun ketika ditanya soal realisasi program:
51,8% optimistis bisa direalisasikan
39,8% ragu-ragu
7,4% menilai kurang realistis
Menurut Pangi, tantangan terbesar pemerintah bukan pada desain kebijakan, tetapi pada implementasi di lapangan.
“Desain arsitektur perencanaan sudah diapresiasi. PR besar ada pada eksekusi dan konsistensi realisasi program,” jelasnya.
Sebanyak 62 persen responden mengaku pernah mendapatkan layanan pemerintah provinsi. Dari jumlah itu, 77,5 persen menyatakan puas terhadap layanan dasar, sementara sekitar 14 persen menyatakan tidak puas.
Dalam indikator level confident:
Di bawah 50%: zona merah
60%: zona kuning
70% ke atas: zona hijau
Dengan angka 80,5 persen kepuasan, Pangi menyebut posisi pemerintah provinsi berada di zona hijau.
“Di tahun pertama, angka 80 persen itu sangat bagus. Ini modal awal yang kuat untuk empat tahun ke depan,” katanya.
Infrastruktur Jalan dan Kemiskinan Jadi Sorotan
Dalam pertanyaan terbuka, responden menyampaikan lebih dari 800 usulan. Isu utama yang diminta segera dibenahi:
Perbaikan jalan – 28,7%
Penanganan masyarakat kurang mampu – 9,1%
Air bersih
Pertanian dan pupuk
Lapangan kerja
Kesehatan dan pendidikan
Pangi menekankan pentingnya pembenahan data kemiskinan agar bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.
Menurut Pangi, dominasi generasi digital membuat komunikasi politik pemerintah harus adaptif dan responsif.
“Generasi milenial di NTT sangat responsif terhadap isu publik. Pemerintah harus hadir bukan hanya dengan program, tapi dengan komunikasi yang efektif,” ujarnya.
Survei ini memperlihatkan bahwa masyarakat NTT masih menyimpan harapan besar terhadap kepemimpinan daerah. Tingginya kepuasan publik di tahun pertama dinilai sebagai “angin segar” sekaligus momentum untuk mempercepat realisasi pembangunan, khususnya pada sektor infrastruktur dan pengentasan kemiskinan. * *go
