SIKKA, MOF, Mutiara-Timur.com – Dari ruang baca digital di jantung kota Maumere, sebuah komitmen besar lahir untuk masa depan Kabupaten Sikka. Asosiasi Desa Wisata (Asidewi) menyatakan siap berada di garda depan mendukung gerakan literasi dan sains bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka (DISARPUS).Pertemuan yang berlangsung di Aula Frans Seda, Kantor DISARPUS Kabupaten Sikka, Kamis (26/02/2026), menjadi momentum strategis menyatukan visi: desa wisata tidak hanya indah dipandang, tetapi juga cerdas dan berdaya pikir maju.
Ketua Asidewi, Yance Moa, menegaskan bahwa paradigma desa wisata harus berubah. Bukan sekadar destinasi, melainkan pusat pertumbuhan sumber daya manusia. “Kalau kita ingin desa wisata bertahan dan berkembang, maka literasi harus menjadi nafasnya. Tanpa literasi, kita hanya menjual pemandangan. Dengan literasi, kita membangun peradaban,” tegas Yance.
Pernyataan itu memperlihatkan arah baru pembangunan desa: integrasi antara ekonomi kreatif, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Literasi dan sains dipandang sebagai fondasi jangka panjang untuk menciptakan generasi desa yang inovatif dan kompetitif.
Tokoh dunia anak, Ari, turut memperkuat gagasan tersebut. Ia menekankan pentingnya pendekatan edukasi yang menyenangkan agar anak-anak desa tidak hanya mengenal buku, tetapi juga mencintainya. “Anak-anak harus diajak bereksperimen, bertanya, mencoba, dan bermimpi. Sains itu bukan sesuatu yang jauh, tetapi bisa lahir dari kehidupan sehari-hari di desa,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala DISARPUS Sikka, Very Awales, menyambut kolaborasi ini sebagai langkah progresif yang membuka ruang sinergi lintas sektor. Menurutnya, gerakan literasi tidak bisa menjadi program seremonial semata. “Ini bukan sekadar kegiatan, tetapi gerakan kebudayaan. Ketika desa wisata bergerak, maka literasi menjadi milik masyarakat, bukan hanya agenda pemerintah,” jelasnya.
Sejumlah program konkret mulai dirancang, mulai dari literasi berbasis potensi desa wisata, kelas sains kreatif bagi anak anak, hingga penguatan perpustakaan desa sebagai pusat belajar dan ruang kreativitas warga.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi titik tolak lahirnya desa-desa wisata yang bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga melahirkan generasi pembelajar. Dari Maumere, obor literasi dinyalakan menuju Sikka yang cerdas, kritis, dan berdaya saing. ** arishalilintar
