Pesan tersebut disampaikan RD. Sipri Senda merujuk pada surat gembala Uskup Agung Mgr. Hironimus Pakaenoni dari Keuskupan Agung Kupang.
“Misioner itu tak hanya kaum berjubah, para imam, rohaniwan, biarawan, biarawati, tetapi juga seluruh umat Allah, sebagaimana ditegaskan dalam surat gembala Uskup Agung,” ungkap RD. Sipri Senda dalam homilinya.
Menurutnya, masa Prapaskah yang dimulai sejak Rabu Abu menjadi kesempatan bagi umat untuk bertobat, memperbaiki diri, serta menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semangat misioner diwujudkan bukan hanya lewat pewartaan, tetapi juga melalui tindakan kasih, kepedulian sosial, dan keteladanan hidup di tengah keluarga maupun masyarakat.
Perayaan misa yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri umat dari Lingkungan V Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui Kupang, mulai dari orang tua, orang muda hingga anak-anak. Kehadiran berbagai kelompok usia menunjukkan semangat kebersamaan dalam mengawali masa puasa dengan refleksi dan komitmen baru.
RD. Sipri Senda juga mengajak umat untuk tidak menjadikan masa Prapaskah sekadar rutinitas tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan diri. “Menjadi misioner berarti berani membawa terang Kristus dalam kehidupan sehari-hari, di tempat kerja, di sekolah, dan dalam lingkungan sekitar,” tambahnya.
Rabu Abu sendiri menjadi penanda dimulainya masa Prapaskah dalam Gereja Katolik, ditandai dengan penerimaan abu di dahi sebagai simbol pertobatan dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Melalui pesan gembala Uskup Agung Kupang, umat Katolik diharapkan semakin menyadari perannya sebagai murid dan saksi Kristus, menghadirkan kasih dan harapan di tengah tantangan zaman. **go
