Maumere – Komitmen membangun budaya baca di Kabupaten Sikka kembali ditegaskan dalam pengukuhan Bunda Literasi yang berlangsung di Aula Frans Seda, Jumat (26/2/2026). Momentum ini tidak sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi titik tolak penguatan gerakan literasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Bunda Literasi Kabupaten Sikka, Fista Sambuari Kago, dalam sambutannya menegaskan bahwa peran yang ia emban bukanlah simbol belaka. Ia memandang amanah tersebut sebagai tanggung jawab moral untuk mendorong lahirnya generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter kuat.
Menurutnya, literasi merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Ia menilai kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada sejauh mana masyarakatnya memiliki kemampuan literasi yang baik.
“Dari membaca, lahir pengetahuan. Dari pengetahuan, tumbuh karakter dan peradaban,” ujarnya di hadapan para tamu undangan.
Fista menjelaskan, literasi tidak boleh dimaknai sempit sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi mencakup literasi digital, literasi keluarga, literasi budaya, hingga literasi informasi. Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, masyarakat harus mampu memilah informasi secara cerdas agar tidak mudah terpapar hoaks maupun konten negatif.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama. Mulai dari keluarga, satuan pendidikan, komunitas, gereja, organisasi kemasyarakatan, hingga dunia usaha diharapkan dapat mengambil bagian dalam menjadikan literasi sebagai gerakan kolektif.
Keluarga, tegasnya, menjadi fondasi awal pembentukan budaya baca. Ia mendorong para orang tua untuk membiasakan anak membaca setiap hari selama 15 hingga 30 menit sebagai langkah sederhana yang berdampak besar bagi masa depan anak.
Selain itu, Fista menyatakan komitmennya untuk bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Dinas PKO, Dinas PMD, para pegiat literasi dan sains, serta Bunda PAUD, guna memperluas jangkauan program literasi hingga menjangkau desa-desa.
Program seperti Gerakan 30 Menit Membaca di sekolah, penguatan pojok baca, serta layanan perpustakaan bergerak dinilai perlu terus diperluas agar mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Mengakhiri sambutannya, ia kembali mengingatkan pentingnya menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian, bukan aktivitas sesaat. Literasi, menurutnya, adalah investasi jangka panjang demi masa depan Sikka yang lebih maju, berdaya saing, dan berkarakter. ** arishalilintar
