Workshop Karya Maestro Mosa Tana Laki Watu: Penyemai Identitas Dan Kekuatan Budaya Masyarakat Adat Mbay

Kupang, mutiara-timur.com // Workshop Karya Maestro   Mosa Tanah Laki Watu: Penyemai Identitas Dan Kekuatan Budaya Dalam Masyarakat Adat Mbay digelar di di Sahid Timore Hotel Kamis,(14/3/24) merupakan kegiatan awal dari rencana kegiatan penelitian oleh Dr. Gabriel Ndawa dengan kawan-kawan yang akan final dengan penulisan buku.

Dalam workshop ini yang menjadi narasumber satu-satunya adalah Rektor Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, P. Dr. Philipus Tule SVD dengan moderator Vinsensius Simau, S.Fil, aktivis dan pegiat pengembangan kemasyarakatan.


Turut hadir dalam kegiatan Ketua Yayasan NAF Kupang, Nancy Florida, dosen perguruan tinggi, mahasiswa Mbay dari suku Mbay dan Dawe, mahasiswa Riung serta insan pers.


P. Dr. Philipus Tule SVD memulai pengatar awalnya menyampaikan,

masyarakat Austronesia, termasuk orang Asia dan Pacific, secara tradisional telah mengkonstruksi relasi mereka dengan tanah ulayat masing-masing secara sangat unik dan mengagumkan. Bagi mereka, tanah (khususnya tanah ulayat, tana ine ebu) itu bukan merupakan harta milik, tapi justeru sebagai ibunda pertiwi yang memiliki dan melahirkan manusia serta menerima kembali semua insan yang berpulang ke ribaannya (bahasa Keo: tama tuka ine = kembali ke rahim ibunda; bahasa Mbay kole lima Mori). 


"Dalam perspektif inilah, tanah (khususnya tanah ulayat) telah menjadi locus dan konteks kehidupan  manusia (dan masyarakat adat) dalam mencipta identitas (jati diri) dan kebudayaan masyarakatnya serta menghayati dan mewariskannya dari generasi ke generasi berikutnya," ungkap Pater Philipus.

Diulaskan lebih lanjut, relasi tradisional antara manusia atau masyarakat adat dengan tanah ulayat serta beberapa unsur pendukung lainnya seperti kampung adat (Nggolo Mbo’ang atau  Nggolo Adhak atau Nua Ola), Rumah Adat (Rumah, Sa’o) dan para pemuka adatnya (Mori Tana atau Mosa Laki) sangat menarik untuk diteliti dan didokumentasi kembali. 


Dewasa ini jelas narasumber, perlahan-lahan konsep tata kelola tanah ulayat dan berbagai komponen lainnya terus berubah (ditransformasi) oleh proses globalisasi. Konsep tradisional mulai berbenturan dengan prinsip moderen yang bersifat ke-barat-baratan dan kapitalis dari perspektif ekonomis dan politis. Hal itu telah menimbulkan berbagai bentuk konflik. Salah satu bentuk konflik atau benturan itu adalah antara suku/masyarakat adat (indigenous people) dengan penduduk migran, dengan pemerintah yang memiliki agenda modernisasi lewat aneka idiom seperti tanah demi perusahaan tambang multinasional, tanah HGU sebagai milik pemerintah, dan lain-lain.


Dr. Philipus Tule menyatakan pada kesempatan ini ia coba mengangkat isu tanah ulayat dan masyarakat adat di NTT (khususnya di Mbay, Nagekeo, Flores/NTT) sebagai locus dan konteks perkembangan kebudayaan (culture in motion).  Konsep culture in motion muncul dari saling hubungan antara ruang, waktu dan aksi manusia dengan berdampak konflik.


"Saya  mengemukakan beberapa pemikiran tentang peranan para mosa laki (khususnya mosa tana laki watu; dan mosa nua laki ola) yang diharapkan dapat meredam dan mengatasi pelbagai potensi konflik berbasis tanah dan sumber daya lokal lainnya, karena peran para penatua adat itu yang strategis sebagai penyemai identitas dan kekuatan budaya," tuturnya.


Sebagai narasumber, Dr. Philipus Tule, SVD yang juga seorang Antropolog ini lebih jauh menguraikan beberapa poin sesuai penyampaiannya pada pengatar terdahulu. Terdapat ada dua belas bagian, yakni Tanah Ulayat sebagai locus/konteks budaya dan sumber kesejahteraan; kampung adat sebagai konstelasi rumah-rumah; otonomi daerah dan otonomi masyarakat adat:wacana politis dan kultur; migrasi dan benturan sosial, politik dan budaya; revitalisasi nilai sosial dan budaya adat;menggugat distorsi kearifan lokal; revitalisasi peranan mosa tana laki watu sebagai Penyemai Identitas budaya;pengawas Tanah Ulayat, ine  tana ame watu; pembantu pengawas tanah ulayat, Ine ku ame lema; pengelola individu tanah ulayat, nio Tiko eu tako; aktualisasi ekonomi masyarakat adat dan kebudayaan.

Sementara itu Dr.Gabriel Ndawa,SE,MM di sela-sela kegiatan mengatakan, "kami ingin bukukan peran Mosa Tana Laki Watu sebagai penyemai identitas dan kekuatan budaya masyarakat adat Mbay, khususnya di bidang pertanian dan agraria. Buku itu diharapkan dapat berkontribusi dalam menyumbangkan catatan budaya Mbay yang saat ini sangat minim. Sehingga makna, daya dan nilai dari budaya tersebut tetap terekam oleh generasi muda melalui dokumentasi buku ini.

Gab Ndawa juga mengatakan, "tujuan adanya  buku ini sebagai karya maestro yang merupakan upaya untuk mengabadikan nilai-nilai budaya masyarakat Mbay yang tercermin pada diri tiap kepala suku sebagai warisan leluhur yang perlu dilestarikan; memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi mengenai budaya masyarakat Mbay; dan sebagai bahan ajar muatan lokal di dunia pendidikan."


Dr. Gab juga menyampaikan untuk  hasilkan buku,maka sesudah workshop timnya akan melaksanakan penelitian di lima desa yakni Desa Nggolo Mbay, Desa Mbay I, Desa Mbay II, desa Tonggurambang dan desa Waekokak - Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. 


Kemudian penulisan buku dua bahasa yang dilengkapi dengan dokumentasi foto dan video pendek mengenai kehidupan para Mosa Tana Laki Watu dalam mempersiapkan upacara tanam dan pengusiran hama, launching buku dan pemutaran mini video di Kota Kupang.


"Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini berupa buku dwibahasa versi ebook dan cetak yang dilengkapi dengan foto dan mini video. 300 eks buku ini akan dibagikan secara gratis ke beberapa perpustakaan, sekolah/universitas, dan taman baca di NTT," ucap dosen STIM Kupang ini.*(usgo)


Iklan

Iklan