Insiden Apel Bendera FPK NTT, Tindakan Spontanitas Soleh Pemilik Warung Serta Dua Mahasiswa UPG '45

Mutiaratimur.net // Peringataan HUT RI ke-77 yang diselenggarakan oleh Forum Pembauran Kebangsaan  Provinsi Nusa Tenggara Timur ( FPK NTT), BAdan Intelejen Strategis TNI (BAIS TNI) yang menghadirkan kurang lebih 650 orang dari berbagai etnis yang ada di Kota Kupang, pada hari Rabu (17/8/22) terlihat sangat meriah. Suasana persaudaraan dan kekeluarga sebagai anak bangsa sungguh terasa. Seperti sebelumnya dikatakan oleh Komandan Mayor CHP. Hery Sapto, Badan Intelegen Srtategi TNI (BAIS TNI),   "perayaan HUT RI ke-77 akan menghadirkan semua etnis dan dilaksanakan di daerah ini, karena provinsi NTT sebagai masyarakatnya memiliki toleransi yang sangat Tinggi." Ungkapan ini faktanya terjadi demikian  mulai apel bendera sampai pada acara susulan lainnya, lomba-lomba yang sifatnya menghibur dan tarian massal sebagai ekspresi gembira riah dalam persaudaraan dan kekeluargaan pada bingkai NKRI.

Namun dalam suasana seperti ini ada sebuah peristiwa patut dicatat sebagai insiden, dinamika saat apel bendera dimana bendera Merah Putih hendak dikibarkan talinya terlepas dan terbawa angin dan hampir pasti bendera tidak bisa dinaikan. Untung saja ada sikap cekatan secara spontanitas karena rasa haru dan  cinta akan merah putih, Ahmad Soleh putra etnis Madura, pemilik Warung Sederhana dibilangan perumahan Baumata dan dibantu Dedy Ly Natto dan Oktovianus Bunga Mahasiswa Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Kota Kupang.

Ketika bendera hendak dikibarkan dan lagu Indonesia sedang berkumandang, petugas pengibaran bendera merah putih baru sejengkal dua menarik bendera naik tali menggaet bendera terlepas dan terkesan  terbang menjauh dari tiang karena angin. 

Dalam kondisi ini Ahmad Soleh yang berusia 50 tahun dan selayaknya dari keadaan fisik tidak mampu memanjat tiang secara spontan nurani hatinya ditambah haru rasanya terketuk untuk maju ke tiang bendera dan berusaha panjat mengambil tali. 

Dengan kenekatan ia berusaha memanjat tiang tersebut, dibalik usahanya Soleh yang nampak tak muda bisa mengambil tali itu, dua pemuda mahasiswa  Universitas Persatuan Guru '45 (UPG '45)  Dedy Ly Natto dan Oktovianus Bunga secara spontanitas  susul menyusul datang ke arah tiang bendera untuk membantu Ahmadt Sole. Oktovianus bahkan naik ketiang mengikuti Soleh dan memberikan selendang Sabunya agar tali itu bisa diraih Soleh dan ternyata berhasil lalu tali itu pun diserahkan ke pengibar bendera dan bendera pun dikibarkan. 

Ketika media meminta keterangan atas aksi heroik ini Ahmad Soleh pemilik Warung, Rumah Makan  Sederhana di simpang Perumahan Baumata, Kupang mengatakan, bahwa tindakan untuk menyelamatkan apel bendera di halaman kantor dinas PU PR NTT diselenggarakab Forum Pembauran Kebangsaan NTT merupakan sebuah tindakan spontanitas ketika melihat tali bendera terlepas saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan bendera hendak dikibarkan.

"Padi saat  bendera merah putih hendak dinaikkan tali terlepas, spontanitas saya langsung lari ke lapangan menuju tiang bendera. Sesampai di tiang bendera  saya  langsung melepaskan alas kaki dan memanjat tiang dan di atas tiang saya lihat tali itu juga sulit untuk didapat. Saya juga harus akui, tidak mampu untuk panjat lagi dan menjangkau tali itu, tapi berkat bantuan dari kedua adik mahasiswa ini saya merasakan hal luar biasa dengan selendang yang diberi dan dorongan keduanya tali bisa dapat tarik lalu diserahkan ke petugas untuk melanjutkan pengibaran bendera," ujar Soleh.

Menurut Pak Soleh persoalannya tali yang terlepas saat bendera itu mau dikibarkan pakai gaet bukan sistem pakai ikat dari bendera ke tali  itu sehingga bila tidak hati-hati akan terlepas. 

Soleh pada kesempatan dimintai keterangan juga menaruh  harapan agar kedepan peristiwa seperti ini  tidak perlu terulang lagi, tapi butuh  lebih dipersiapkan secara baik, agar saat apel bendera tak terjadi demikian. 

Semoga peristiwa ini ke depan tidak terulang lagi dan kegiatan kebersamaan  seperti ini biar tetap terus dilakukan dan kita tetap semangat  dalam persaudaraan dan semuanya bisa berjalan lancar.

Dedy Ly Natto mahasiswa fakultas PJKR UPG '45  yang turut mengambil bagian dalam insiden bendera waktu apel etnis yang diselenggarakan oleh Forum Pembauran Kebangsaan merasa senang karena keterlibatan dia untuk membantu masalah yang terjadi saat uoacara bendera itu.  Karena dia sadar dan tahu bahwa bendera merupakan simbol identitas NKRI,  sebagaimana dia mengetahui bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Hatta, 17 Agustus 1945 merupakan sebuah perjuangan para pahlawan anak bangsa yang telah relah berkorban  nyawa demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bendera Merah Putih saat itu pun dikibarkan.

Mengingat hal itu maka dia  langsung secara spontan membantu Ahmad Soleh yang terlihat cukup setengah mati memanjat yang tiang bendera karena pijakan pun tidak ada dan dengan usia fisik yang tidak mungkin untuk memanjat.

"Saya merasa senang mau membantu karena saya melihat bahwa bendera itu adalah lambang simbol negara yang seharusnya diselamatkan dalam peristiwa ini dan lebih jauh dari itu saya melihat bahwa bendera merah putih ini sampai dikibarkan merupakan sebuah perjuangan oleh pendiri bangsa dan para pahlawan pendahulu kita," urainya.

Dedy mahasiswa Fakultas PJKS itu pun menitipkan pesan kepada teman-teman mahasiswa, bahwa peristiwa ini juga merupakan sebuah peristiwa yang perlu dimaknai oleh  teman-teman  mahasiswa agar jika berhadapan dengan situasi apel bendera seperti ini, maka secara spontanitas harusnya kita membantu. Karena dengan demikian kita menunjukkan jati diri kita sebagai warga negara yang mencintai merah putih mencintai, NKRI yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita."

Senada dengan itu Oktovianus Bunga salah satu mahasiswa Semester 5 dari UPG '45  yang  merupakan juga Putra Sabu Raijua menilai bahwa peristiwa ini sebenarnya tidak perlu terjadi karena momen yang terjadi ini adalah sebuah momen yang bersejarah yang seharusnya telah dipersiapkan secara baik dan tidak ada masalah seperti ini.

"Saya melihat kejadian ini sebenarnya tidak perlu terjadi, harusnya sudah dipersiapkan lebih baik sebelumnya,  namun dengan peristiwa ini saya juga terdorong untuk segera membantu karena saya melihat Bapak Sole ini tidak mampu lagi untuk melanjutkan upaya pemanjatan tiang bendera, sehingga saya langsung merapat jetiang dan turut naik menahan beliau serta melemparkan  selendang saya  arah Bapak Soleh, supaya beliau  melalui selendang untuk  menudahkannya menangkap tali yang lagi ujung terlepas dari gaetan bendera. Akhirnya sangat baik saya lihat dengan selendang tadi beliau mampu menarik ujung tali  lalu melanjutkan ke  petugas pengibar bendera tadi. 

Oktovianus mahasiswa Universitas Persatuan Guru '45 NTT Kupang mengatakan bahwa tindakan yang dilakukannya  juga merupakan sebuah spontanitas dari keinginan hatinya tanpa karena didorong atau di minta oleh sesama peserta yang ikut apel.

Terhadap tindakan heroik  Ahmad Soleh dari etnis Madura,  Dedi dan Oktovianus mahasiswa dari UPG Kota Kupang, etnis Sabu Raijua mendapat apresiasi atau penghargaan ucapan terima kasih dari ketua FPK NTT,  Theo Widodo bersama pengurus lainnya yang disampaikan pada saat itu juga.

Theo Widodo, Ketua FPK NTT dari kejadian tersebut menilai sebagai sebuah Insiden bendera, dinamika yang terjadi di luar dugaan.

"Ya mungkin pengibar bendera terlalu bersemangat, tapi hal ini  saya coba melihat sesuatu yang tersembunyi di baliknya, yaitu begitu cepatnya saudara kita dari etnis Madura yang langsung cepat memanjat tiang dan dia bukan anak kecil seperti  Joni ya (kejadian di Atambua - red). Tapi dia dengan begitu semangat memanjat tiang itu, walaupun fisiknya tidak siap. Lalu satu hal yang betul-betul saya lihat yang bisa menjadi pelajaran untuk kita ialah bagaimana saudara-saudara yang lain ketika Bapak ini terlihat tidak bisa panjat lagi mereka datang mendukung mendorong ke atas.

Ini  sebagai bukti untuk sebuah pelajaran kebersamaan di mana kita harus selalu bergandengan tangan, bekerja sama membangun bangsa.

Menurut ketua, FPK kejadian itu bendera tidak sampai jatuh ke tanah, walaupun  memang ini  insiden di luar dugaan kita semua, dinamika proses yang berkembang.

"Kalau kita lihat tentang kejadian tersebut ketika Pak Soleh sementara memanjat tiang bendera dalam upaya untuk  mengambil ujung tali dan menarik kembali supaya dikait  pada bendera, namun beliau tak bisa memanjat lebih lanjut hampir jatuh, " tutur Ketua FPK NTT.

Dikatakannya pula bahwa disini menjadi hal yang menarik, yakni di saat itulah ada dua putra, mahasiswa dari sabu datang memberi bantuan sebagai bentuk  spirit supaya beliau tetap berada di tiang dan keduanya mendorong beliau tetap naik ke atas serta salah satunya melemparkan selendang agar bisa menggaet ujung tali yang terlepas, lagi pula ada angin saat itu. 

"Salah satu Putra Sabu melemparkan selendangnya kepada Pak Soleh sambil mendorong badan Soleh agar tetap naik  dan  menggunakan selendang itu untuk menggaet bendera. Hasilnya bendera itu bisa  dipegang lalu diperbaiki untuk dikibarkan," tambahnya menerangkan.

Theo Widodo ketua, FPK NTT  melanjutkan,  hal ini merupakan sebuah bentuk  rasa persaudaraan, gotong royong, memiliki semangat satu kesatuan yang mencintai merah putih. Merah Putih harus tetap berkibar sesuai hakikinya sebagai bendera bangsa. Sebagai sebuah simbol indetitas kenegaraan yang mesti dijunjung dan  karena itu gerakan spontanitas menyelamatkan bendera ini perlu dicatat.

Pada kesempatan yang sama ini Komandan Mayor CHP. Hery Sapto, Badan Intelegen Srtategi TNI (BAIS), mengatakan bahwa hal ini sebenarnya merupakan insiden murni tidak diduga bisa terjadi, ini dinamika. Sehingga tadi ketika saya melihat teman-teman secara spontanitas datang ke tiang bendera tadi saya langsung memberi support kepada mereka supaya mereka bisa memanjat tiang bendera, dengan mengatakan naik, naik, naik. 

"Bapak Soleh mendengar apa yang saya dorong tadi akhirnya beliau pun berusaha bersama adik-adik untuk terus bersemangat sampai pada memegang tali, menyelamatkan bendera tadi. Ini bagi kami berarti  sebagai sebuah wujud kepedulian, wujud semangat dari masyarakat terutama pada upacara ini, bahwa Merah Putih tidak boleh terganggu pada saat dia akan berkibar. Sehingga mereka dengan sigap segera mengambil langkah mengaitkan kembali bendera sehingga bendera dengan sempurna dilanjutkan kembali naik ke atas tiang. Jadi karena semangat mereka bendera itu bisa sempurna dinaikkan kembali dan ini tidak disetting. Satu hal yang luar biasa yang patut kita hargai sebagai rakyat Indonesia sebagai masyarakat yang cinta terhadap kemerdekaan NKRI," ungkapnya.

Selanjutnya terhadap tindakan heroik  Ahmad Soleh dari etnis Madura,  Dedi dan Oktovianus mahasiswa dari UPG '45 NTT, Kota Kupang, etnis Sabu Raijua mendapat apresiasi atau penghargaan ucapan terima kasih dari ketua FPK NTT,  Theo Widodo bersama pengurus lainnya yang disampaikan pada saat itu juga.*(go)



Iklan

Iklan