Membaca Ritus Sare Dame Dalam Terang Kitab Suci

Opini: Germanus S. Attawuwur

Putra Warawatung-Lusiduawutun


Pengantar

Dalam Ilmu Kitab Suci ada bagian yang disebut dengan Syering Kitab Suci. Dalam Syering Kitab Suci  dikenal  berbagai Metode. P. Guido Tisera SVD membaginya dalam dua kelompok besar, yakni:Dari Kitab Suci ke Kehidupan  dan dari Kehidupan ke Kitab Suci (Syering Kitab Suci, hal. 31).Metode ini berkembang lebih kemudian setelah gereja katolik lebih dahulu mempraktekan metode syering dari Kitab Suci ke Pengalaman Hidup. 

Tentang metode ini, dalam Musyawarah Paripurna Federasi Kerasulan Alkitabiah Katolik Bogota, tahun 1990 dikatakan bahwa:” Kita harus beranjak dari realitas di mana kita sekarang berada, lalu membiarkan Sabda Allah  menerangi realitas ini” (ibid., hal. 48).

Berarti dalam pendekatan ini kita mengutamakan situasi, kenyataan hidup. Situasi hidup perlu diamati dan dianalisis. Lalu hidup, situasi, dan masalahnya entah pribadi maupun sosial dibaca dalam terang Kitab Suci, -Firman Tuhan-, dan dengan itu kehidupan menjadi lebih bermakna ; kita menemukan dorongan  dan inspirasi Firman Tuhan untuk mengatasi masalah-masalah hidup.

Ritus Sare Dame sebuah Realitas Budaya Lamaholot

Ritus Sare Dame adalah sebuah realitas. Sebuah unsur dari kebudayaan manusia Lamaholot (baca Lembata). Secara etimologis, Sare Dame terdiri dari dua kata: Sare yakni baik (membuat jadi) baik, menyembuhkan dan memulihkan. Sedangkan Dame, berarti (ber) damai, membuat jadi damai, menjadi satu kembali. Dari arti etimologis itu secara implisit mengandung makna bahwa situasi sedang tidak baik, ada kekacauan, ada pembunuhan, ada bencana, ada peperangan, ada korupsi, ada perselingkuhan dan lain-lain. Inilah situasi hidup orang-orang Lembata yang diamati dan dianalisis serta direfleksikan oleh Bupati Dr. Thomas Ola Langoday yang pada akhirnya menggagas Ritus Sare Dame, ritus untuk membuat jadi baik kembali, penyembuhan dan pemulihan serta berdamai kembali demi persatuan dan rasa saling percaya. Orang-orang Lembata hendak melaksanakan  ritus ini karena ada orang merasa pernah menghilangkan nyawa orang lain, telah melukai alam, rahim/pertiwi Lembata dan pada akhirnya telah menjauh dari Tuhan oleh karena keangkuhan dan keserakahan. Maka ritus Sare Dame dibuat untuk menyembuhkan luka-luka, memulihkan kembali relasi yang telah dirusakan oleh manusia. Dampak dari ritus ini adalah orang berdamai (Dame) kembali, orang hidup tenang, tidak ada rasa saling mencurigai sebagai sesama dan muncul saling percaya di antara Ata Lembata. Singkat kata, Ritus Sare Dame adalah pemulihan martabat manusia sebagai makhluk sosial, sebagai mahkul religius-ber-Tuhan dan sebagai makhluk ekologis.

Ritus Sare Dame Dalam Terang Kitab Suci

Dalam konteks Ritus Sare Dame inilah hendak saya analisis dan  refleksikan dalam Terang Firman Tuhan, khususnya dalam kisah Perumpamaan tentang Anak Hilang (Luk.15:11-32). Bila kita baca kembali teks suci itu, maka kita dapat membagi cerita ini dalam beberapa tahap:

(a). Ayat 11-13 : situasi harmonis antara sang ayah dengan kedua putranya.

(b). Ayat 14-16: Anak bungsu  keluar dari keharmonisan , kemudian ada bencana kelaparan di saat si bungsu kehabisan uang pada akhirnya ia harus menjadi orang upahan hanya untuk makan sisa-sisa makanan babi, tetapi tidak ada seorang pun yang memberikannya kepadanya.    

(c). Ayat 17-19 : Kondisi pada ayat 14-16 membuat si bungsu untuk merefleksikan kembali sambil mengingat pengalamannya dulu, tatkala ia masih bersama sang ayah. Muncul penyesalan dan pertobatan. Dia hendak merajut kembali relasi  dengan sang ayah dan kakak yang sudah diputuskannya.

(d). Ayat 20-27: Pertobatan dan Kerendahan Hati Mengampuni.

(e). Ayat 28-32: Pembangkangan anak sulung. Ia tidak mau masuk. Ia justru menjadi anak hilang. 

Kegembiraan Tobat dan Sukacita Pengampunan

Situasi kelaparan di tanah rantau adalah pemicu munculnya rasa penyesalan:" Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, sedangkan aku di sini mati kelaparan (ayat 17-19.” Penyesalannya itu diikuti dengan tindakan. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Inlah aspek pertobatan sang anak. Lukas mencatat, begitu melihat anaknya dari kejauhan, sang ayah berlari mendapatkannya, lalu merangkul dan menciumnya. Rangkulan sebagai bentuk pengakuan bahwa engkau masih tetap anakku, walau pernah menyakiti hati sang ayah. Ciuman sebagai bentuk kasih sayang, bahasa sukacita. Sukacita karena anaknya telah kembali pulang. Untuk menegaskan tindakan merangkul dan mencium, sang ayah memakaikan jubah yang mewah untuk anaknya. Jubah simbol wibawa kerahiman. Otorita misericordiae. Jubah simbol pengampunan. Simbol jubah itu adalah menutupi segala borok, luka, dosa dan kelemahan serta kesalahan yang sudah dilakukan oleh anak. Karena itu pengenaan jubah bermakna pengampunan atas kesalahan.  Sang ayah memiliki wibawa dan otoritas untuk mengampuni anak. Tidak hanya jubah tetapi juga cincin sebagai simbol keutuhan cinta dan kasih sayang. Pengenaan cincin ke jari tangan anak sebagai simbol bahwa sang ayah benar-benar mengampuni. Dan karena itu maka pengampunan itu telah menumbuhkan rasa Cinta dan kasih sayang yang utuh-satu. Cinta yang sempurna.  Tidak sepotong-sepotong. Tidak setengah-setengah. Tapi holistik.  Selain jubah dan cincin masih ada sepatu. Sepatu tidak saja sebagai alas kaki, tetapi memiliki makna filosofis bahwa sepatu itu tidak pernah sama, tetapi keduanya saling melengkapi. Selain itu ada makna saling pengertian. Dengan sifat saling pengertian ini, kedua sepatu pun akhirnya bisa mencapai tujuan yang dicita-citakan. Keduanya tidak hanya berangkat bersama, namun juga akan sampai tujuan secara bersama-sama pula apabila kedua sepatu tersebut saling pengertian dan tidak mementingkan kepentingan pribadinya. Makna lain dari sepatu adalah persamaan derajat. Pengenaan sepatu pada kaki anak, bermakna kesederajatan. Sang ayah mau katakan kepada anaknya bahwa pengampunan telah membuat mereka menjadi sederajat. Sederajat dalam lingkaran kasih sayang yang utuh. Mereka menjadi setara dalam cintakasih yang paripurna.  

Pasca mengenakan jubah, cincin dan sepatu, sang ayah menyuruh menyembelih lembu yang paling tambun, kemudian ada bunyi musik seruling dan nyanyian tari-tarian (ayat 25) untuk merayakan kembalinya anak hilang. Itulah kegembiraan Tobat. Sukacita kerendahan hati. Kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan kerendahan hati untuk mengampuni.  

Dalam konteks Ritus Sare Dame, bila dilaksanakan tanpa pamrih apapun dan dibungkus dalam niatan tulus ikhlas, maka ritus ini pun mengandung makna kegembiraan tobat. Ia bermuatan sukacita karena kerendahan hati mengakui kesalahan dan mengampuni. Karena sebagai kegembiraan tobat maka perlu dirayakan. Bila sudah menjadi perayaan, maka tentu banyak orang yang terlibat, baik diundang maupun tidak diundang. Hal ini tentu berimplikasi pada dukungan logistik yang lain, termasuk konsumsi – makan minum-. Jubah, cincin, sepatu dan lembu tambun, seruling dan nyanyian tari-tarian adalah “kata lain” dari logistik, yang musti disiapkan dengan cermat, agar tidak mengalami hal sebagaimana yang pernah terjadi pada pesta Perkawinan di Kana, Tuan Pesta Kehabisaan Anggur (Yoh. 2:1-11). 

Maka dalam konteks Ritus sare Dame yang hendak digelar, disediakannya anggaran 2.5 M oleh Pemerintah yang telah disetujui DPRD Lembata sebagai wakil rakyat. 

Akankah Ada yang Hilang?

Karena kepongahan kesulungannya dia merasa berhak mengatur ayahnya. Bahkan merasa sok suci, ia hendak membuka kembali dosa-dosa adiknya, yang nota bene, sudah ditudung-tutupi dengan Jubah Kerahiman Sang Ayah. Ia tidak dengar kata-kata sang ayah. Karena itu dia tidak mau masuk. Dia tidak ingin bergabung dalam pesta pertobatan, sukacita pengampunan yang didapatkan adiknya. Di sinilah letak pembangkangannya terhadap sang ayah. Ia terus berada di luar. Ia pada akhirnya menjadi anak hilang. 

Dalam konteks Ritus sare Dame yang bakal dihelat, pertanyaan penting untuk kita, akankah ada yang hilang dalam Pesta Rekonsiliasi, Kegembiraan Tobat? Apakah yang hari ini menolak pembuatan ritus ini dengan berbagai dalil, salah satunya membuang-buang anggaran. Anggaran besar yang digelontorkan diharapkan membawa dampak psikososial secara immaterial yang besar pula: saling mengampuni, ketenangan, kedamaian dan saling percaya untuk merajut kembali Ata Lembata dalam semangat Taan To’u, bakal menjadi anak hilang? Semoga tidak ada Ata Lembata yang menjadi anak sulung yang hilang.**

Iklan

Iklan