350 Orang Seluruh Indonesia Akan Hadir Peringati HKAN di NTT


Mutiara Timur.net-  Perayaan Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ( HKAN) tahun 2021 akan dihadiri tamu dari luar daerah NTT sekitar 350 orang.

Demikian Kepala Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT), Arief Mahmud dalam keterangannya pada acara Temu Media Kepala Balai Besar KSDA NTT, Bincang-Bincang Sekitar Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2021 bertempat di Kawasan Wisata Pantai Lasiana, Jumat (19/11/21).

"Perayaan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2021 di NTT akan dihadiri tamu, undangan yang sudah terdaftar sekarang 350 orang. Mereka yang hadir itu telah menyampaikan kedatangannya untuk ambil bagian dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2021, dan hotel-hotel standar premium seperti Aston dan beberapa lain sudah dibooking dan penuh," ungkap Arief di sore ini.

Arief Mahmud pada kesempatan temu kaum jurnalis di Kota Kupang menutuksn pula, bahwa HKAN akan dilaksanakan selama 3 hari dan hari pertama dibuka oleh Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) yang didampingi Gubernur NTT. Kemudian pada puncak acara hari ketiga oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

"Acara Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ini pada hari pertama, tanggal 22 Nopember dibuka oleh Ditjen Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem yang dihadiri Gubernur NTT (NTT-red). Lalu pada hari puncak, 24 Nopember hadir Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang akan menutup acara HKAN tersebut," ujarnya.

HKAN menurut Kepala BBKSDA NTT telah beberapa kali dirayakan dengan tempat peringatannya berbeda-beda dan kali ini di NTT.

"Perayaan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional telah beberapa kali dirayakan, seperti pernah di rayakan di Bontang- Kalimantan tahun 2020, Batam-Kepulauan Riau tahun 2019, Hangkuku-Sulawesi Utara tahun 2018, dan daerah lainnya lagi. Sekarang tahun 2021 di Kupang-NTT," cerita  Arief.

Perayaan HKAN sebenarnya pada bulan Agustus karena setiap tanggal 10 Agustus adalah Hari Peringatannya, HKAN, tetapi kondisi pandemi Covid-19 yang meresahkan, maka di NTT tunda ke tanggal 22-24 November 2021.

"Perayaan ini seharusnya di tanggal 8 sampai tanggal 10 Agustus 2021, karena tanggal Sepuluh Agustus adalah tanggal peringatannya. Tetapi kita di NTT ditunda sebagaimana kita ketahui situasi pandemi covid-19 yang masih sangat tinggi dan ketika di tiga bulan terakhir mulai menurun kasusnya, maka disepakati pada  bulan ini dari tanggal 22 Nopember-24 Nopember 2021, berdasarkan Surat Sekjen KSDAE kepada Gubernur, tanggal 3 Nopember 2021 dan hasil  koordinasi kita di BBKSDA ke Gubernur," kisah beliau.

Menurut Kepala BBKSDA NTT yang menjabat belum lama ini, perayaan HKAN juga bersamaan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, disamping itu termasuk Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam. 

Momen ini pun bermaksud meningkatkan Kecintaan terhadap Alam dan Budaya Nusantara. Alam dan budaya itu dua unsur yang saling terkait yang perlu mendapat perhatian dalam dunia dewasa ini.

"Alam dan budaya NTT ini perlu mendapat perhatian serius. Karena ada banyak potensi yang menarik dan berpeluang besar untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Kita di NTT banyak kearifan lokal yang menjadi aset ekonomis di dunia pariwisata. Ini yang harus kita lestarikan," sebutnya.

Arief Mahmud juga sedikit menggelitik,   bahwa orang NTT setelah menghadapi persoalan baru sadar apa yang harus dilakukannya.

"Tanpa disadari kita ini hidup dari jasa alam. Jasa energi, jasa udara, jasa air dan jasa sumber lainnya. Air bagi kita di NTT menjadi sesuatu yang langkah dan mahal. Walaupun sekarang musim hujan tetapi air tetap menjadi mahal untuk diperoleh. Beda dengan daerah lain, seperti Kalimantan saat sekarang tentu akses jalan penuh dengan air. Karena hutannya yang ada. Kita di NTT banyak kawasan hutan potensial yang bermanfaat bagi masyarakat kelihatan terancam, dan juga mempengaruhi habitat pontesial lainnya seperti berbagai jenis satwa atau hewan yang ada," ujarnya.

Beliau menambahkan, ada tanaman hutan itu juga berkaitan dengan kearifan lokal seperti hutan religius sebagai tempat khusus yang perlu dilestarikan. Ada tanaman hutan yang bisa mendukung budaya masyarakat, seperti penyedia zat pewarna bagi produksi kain tenun ikat yang punya harga jual sangat tinggi yang dapat membantu masyarakat.

Dalam hal tenun ikat ia memberikan penekanan motivasi luar biasa. Arief mengakui bahwa tenun ikat yang mempunyai banyak motif di Indonesia hanya  terdapat di NTT. 

"Tenun ikat yang punya banyak motif di Indonesia satu-satunya hanya di NTT. Daerah lain tidak ada seperti di sini, setiap kabupaten, kota memiliki motif tersendiri dan banyak jenisnya. Ini yang punya nilai ekonomis yang tinggi. Apalagi kalau pewarnanya dari tanaman hutan, walaupun hasil produksi, warnanya kurang terang dibanding dengan zat pewarna kimia dari toko, justru disitulah harganya jauh lebih mahal, " tukasnya dengan nada memotivasi  masyarakat untuk lestarikan tanaman pewarna yang merupakan bagian dari upaya konservasi terhadap sumber daya alam NTT.

Kepala BBKSDA itu juga melirik potensi alam lain yang unik di NTT adalah tanaman bonsai. Sehingga menurutnya pada acara ini diundang pula Komunitas Bonsai (KoBoI) Kota Kupang. 

"Dalam acara HKAN kita undang pula Komunitas Bonsai Kota Kupang, Koboi. NTT alamnya unik, ada tanaman Bonsai yang tumbuh secara alamiah. Ini juga punya daya tarik tersendiri yang bisa mendukung dunia pariwisata kita dan memiliki harga yang mahal. Kita hadirkan Koboi supaya mereka bisa promosikan tanaman bonsai, supaya diketahui bahwa NTT  potensi alam yang luar biasa memiliki tanaman ini tanpa terlalu banyak butuh sentuhan tangan manusia, alam menyediakannya," kata Arief.*(bungmarmin)

Iklan

Iklan