KENAIKAN TUHAN: MOMENTUM ALLAH MEMULIAKAN MANUSIA

Oleh:
Yosep Sudarso, S. FIl
ASN Kemenag Kota Kupang

KUPANG,MT.NET- Ada dua perayaan keagaaman besar di depan kita. Besok kita umat kristiani merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan beberapa hari kemudian umat Islam merayakan Idul Fitri. 

Merayakan hari raya keagamaan adalah momentum yang paling tepat untuk merenungkan sisi-sisi kemanuisiaan kita. Permenungan tentang manusia memang selalu aktual. 

Di satu pihak, kita adalah subyek tetapi pada sisi lain menjadi obyek permenungan. Kaum cerdik pandai menyebut manusia itu makhluk multi-dimensi. Manusia itu masalah tak pernah selesai. Misteri abadi.

Merenungkan kemanusiaan kita menjadi semakin relevan di tengah wabah corona virus
 yang belum tahu kapan berakhirnya. 

Itu karena Covid 19 seperti halnya begitu banyak penyakit, 
bencana alam, kemiskinan, kebodohan dan pelbagai penyakit sosial lainnya langsung 
mengancam keberlangsungan hidup manusia. 

Menghadapi hal-hal seperti ini, sudah pasti pilihan kita adalah semaksimal mungkin mencari jalan keluar menyelamatkan diri (baca: manusia). 

Ikhtiar mempertahankan kehidupan manusia bukan hanya dilakukan oleh manusia tetapi 
pertama-tama dan terutama oleh Allah. 

Bisa dikatakan bahwa benang merah yang dapat 
mempertemukan pelbagai tradisi kepercayaan dan agama adalah keyakinan bahwa Allah secara 
terus menerus memelihara manusia dan kehidupannya.

Tak ada satu pun aliran kepercayaan dan agama yang meyakini bahwa Allah menciptakan kita untuk kemudian menjadi mangsa empuknya. 

Sebaliknya, semua agama dan aliran kepercayaan mengajarkan bahwa Allah menempuh segala cara agar manusia tetap hidup. 

Maka menjadi kontradiktif bila orang beragama dewasa ini nekad membinasakan sesamanya bahkan sambil meneriakkan nama Allah. 

Praktek seperti itu sejatinya adalah pengingkaran terhadap imannya sendiri.

Dalam tradisi iman Kristen, puncak dari upaya Allah itu adalah dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal. 

Sebagai bukti kesaksian akan karya dan pewartaan Yesus, Kitab Suci Perjanjian Baru khususnya keempat Injil dipenuhi dengan perjuangan Yesus menyelamatkan manusia. 

Seluruh ajaran dan karya-Nya memperlihatkan kehendak Allah yakni agar manusia memiliki 
kehidupan, bahkan hidup yang berkelimpahan dalam kasih karunia-Nya. 

Kehendak Allah tersebut tidak eksklusif pada bangsa tertentu tetapi berlaku untuk semua orang. Allah tidak membangun tembok pemisah melainkan menyatukan kembali batas-batas dan sekat yang dibuat dan dipelihara manusia. 

Kehendak Allah akan keberlangsungan hidup manusia merupakan hukum tertinggi. Keberanian Yesus melanggar hukum Sabat misalnya menegaskan hal tersebut.

Hukum dan tertib hidup lainnya dibuat untuk keberlangsungan hidup manusia dan bukannya manusia dikorbankan untuk pelestarian hukum.

Keberpihakan Yesus pada kehidupan manusia tidak berakhir setelah sengsara dan wafat-Nya 
yang tragis di palang penghinaan. Peristiwa kebangkitan-Nya yang mulia dan disusul dengan 
kenaikan ke surga dan pencurahan Roh Kudus menegaskan cinta tanpa batas Yesus pada manusia. Secara teologis, iman Gereja akan peristiwa Yesus naik ke surga memiliki dua sisi. 

Pada sisi pertama, peristiwa itu menegaskan identitas Yesus sebagai Anak Allah. Kenaikan ke 
surga menunjukkan kemuliaan Yesus sebagai Putera Tunggal Allah. Dia mengafirmasi identitas-
Nya sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup (bdk Yoh 14: 6a).

Pada sisi lain, peristiwa kenaikan Tuhan adalah momentum pemenuhan janji Allah akan 
keselamatan abadi manusia. Kehidupan yang sudah Dia perjuangkan selama tinggal di tengah manusia, kini mengalami pemenuhannya dalam peristiwa kenaikan ke surga. 

Dengan naik ke surga, Yesus memenuhi janji-Nya mengumpulkan semua orang yang percaya di rumah Bapa dalam kehidupan kekal (bdk. Yoh 14: 1-3). Itulah kemuliaan sejati manusia. Nilai diri kita bukan terletak pada apa yang kita miliki. 

Kemuliaan kita pertama-tama dan terutama terletak pada kenyataan bahwa Allah melalui Yesus 
Putera-Nya telah mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Di mata Allah, kita bukan sekedar 
tamu ataupun orang asing. 

Kita adalah pewaris sah kehidupan baik di dunia maupun dalam kekekalan.Yesus telah memuliakan kita melalui peristiwa-peristiwa hidup-Nya. Itu adalah anugerah terindah serentak menjadi tugas panggilan kita. 

Ucapan syukur terbaik kita selain menyembah Dia adalah dengan memperjuangkan kehidupan. Keberlangsungan hidup setiap orang adalah tanggung jawab kita. Maka di tengah pandemi corona virus ini, kita seharusnya memaknai anjuran pemerintah sebagai hal yang imperatif. 

Anjuran agar tetap di rumah, jaga jarak fisik, memakai masker, sesering mungkin cuci tangan mestinya ditanggapi sebagai sebuah keharusan. 

Tujuan akhir dari semua upaya itu tentu saja demi mencegah meluasnya wabah dan menjamin 
keberlangsungan hidup setiap insan. Selamat merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan.***

Iklan

Iklan