HIDUP YANG TERGEMBALAKAN (Reflekksi Minggu Gembala yang Baik)

Oleh Germanus S. Attawuwur

KUPANG,MT.NET- HARI Minggu Keempat Masa Paskah dirayakan sebagai Minggu Panggilan. Injil minggu panggilan tahun ini diambil dari Yohanes 10:1-10 tentang Gembala yang Baik. Yesus tahu, tidak lama lagi Dia akan terangkat ke surga, pergi ke Rumah Bapa-Nya (injil yang akan kita dengar/baca minggu depan). Yesus akan meninggalkan tidak hanya murid-murid-Nya tetapi juga “kawanan kecil” domba-Nya. Karena itu Yesus mau mewariskan model kegembalaan bagi murid-murid-Nya. Untuk itu Yesus mengajarkan murid-murid-Nya dengan menggunakan perumpamaan dan kiasan metafora penggembalaan kuno Israel.
“Aku berkata kepadamu sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang
pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah
dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia,
karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti,
malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal
(Yoh. 10:1-5)."

Di Israel, beberapa keluarga yang memiliki ternak domba dapat membuat sebuah
kandang besar sebagai milik bersama. Domba-domba itu mempunyai para penjaga.
Setiap pagi, penjaga membukakan pintu, kemudian ia berdiri di luar kandang dan
memanggil domba-domba itu dengan nama mereka, dan domba-domba yang mendengar suaranya segera keluar. Domba-domba itu mengenal suara gembala mereka, dan mereka datang kepada gembala mereka masing-masing.

Mengapa para gembala harus memanggil domba-domba dan membawa keluar? Karena domba-domba bukan hanya membutuhkan perlindungan di dalam kandang. Mereka tidak hanya membutuhkan kenyamanan dan keselamatan dari bahaya, melainkan juga kelimpahan makanan. Gembala sangat paham akan hal itu. Maka dari itu, mereka memanggil domba-domba dengan namanya masing-masing untuk dibawa keluar. Mereka dihantar kepada padang rumput yang hijau. Sesudah itu, mereka membawa dombanya kepada sumber air yang tenang (bdk. Mzm. 23:1-3). Bila di tengah jalan ada domba yang terluka, dia menggendongnya. Bila ada domba yang tersesat, ditinggalkannya yang lain, lalu dia segera mencari yang hilang itu. Bila ditemukannya, dia tak segan-segan memanggulnya, untuk dibawanya kembali.
Penggembalaan seperti itulah yang oleh Yesus disebut-Nya sebagai model Gembala yang Baik.

Model dan kwalitas kegembalaan inilah yang dihendaki oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. Karena itu, seorang gembala harus memiliki komitmen dan dedikasi yang tinggi untuk menggembalakan domba-dombanya. Seorang gembala tidak boleh setengah-setengah dalam menjalankan tugasnya.
Harus benar-benar utuh-total, tanpa pamrih, tiada intrik tertentu, apalagi perhitungan politis: memberi untuk diperhitungakan dan dikenang, memberi diri untuk mencari popularitas. Melainkan, seorang gembala harus sampai menyerahan nyawanya untuk domba-dombanya (Yoh.10:15).

Agar gembala itu dikenal dan diikuti oleh domba-dombanya, maka dia harus sungguh-sungguh menyatu dengan mereka, sampai pada akhirnya seoranggembala harus berbau domba. Bila sampai pada titik seperti ini, - gembala berbau
domba-, maka, di mana pun gembala itu berada, domba-domba pasti sudah mencium baunya, kemudian mengenalnya lalu pergi mengikutinya. Tetapi sebaliknya, bila gembala itu asal-asalan, tidak menyatu benar dengan domba-dombanya, memiliki pamrih, punya intrik tertentu, ada kalkulasi politis, ada pretensi
macam-macam, maka domba-domba tidak mungkin akan mengenalnya. Mereka bahkan lari ketika melihatnya. Gembala seperti itu, dalam perumpamaan tadi mereka diategorikan oleh Yesus sebagai orang asing, pencuri bahkan perampok, yang hanya bisa mencuri, membunuh dan membinasakan. Karena itu Yesus tegaskan:” Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. “

Perumpamaan seperti itu tidak segera dipahami oleh murid-murid-Nya. Maka Yesus
berkata kepada mereka:” sesungguhnya, Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua
orang yang datang sebelum Aku, mereka adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:-10).

Terminologi orang asing merujuk pada model penggembalaan para pemimpin
Yahudi, yang senantiasa mengabaikan orang-orang yang menderita: yang tuli
dibiarkan, yang buta tidak disembuhan, yang lumpuh disingkirkan, yang terluka tidak
dibalut dan yang sakit ditelantarkan, dan yang tersesat dibiarkannya menghilang.
Sedangan terminologi pencuri yang dikenakan Yesus untuk mengeritik orang-orang
farisi.

Orang Yahudi menganggap kaum farisi adalah kelompok rohaniwan sejati yang bertugas untuk menuntun orang ke jalan yang benar, namun model kegembalaannya setali tiga uang, sama dengan model penggembalaan para
pemimpin Yahudi yakni pilihan untuk mengesampingkan bahkan meniadakan yang
berkekurangan, yang terluka, yang sakit, dan yang hilang.
Maka Yesus mau katakan kepada para murid-Nya bahwa model penggembalaan yang musti ditiru oleh murid-murid-Nya adalah model penggembalaan Yesus sendiri,
yang dengan rela menyerahkan nyawa-Nya demi domba-domba-Nya (Yoh. 10:15).

Konsekwensi dari Yesus menyerahkan nyawa-Nya demi domba-domba-Nya ialah
supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan
(Yoh. 10:-10). Mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan berarti bahwa kawanan kecil, - domba penggembalaan-Nya-, hidupnya telah tergembalakan dengan baik. Hidup yang tergembalakan adalah hidup yang mengalami sukacita
dan keselamatan. Hidup yang diselamatkan oleh karena senantiasa berada di jalan
yang benar, di padang rumput yang hijau, dan sumber air yang tenang, oleh karena kegembalaan Sang Gembala Agung.

Minggu ini adalah minggu panggilan, maka sadarlah bahwa kita semua dipanggil
dengan nama kita masing-masing untuk keluar dari kandang egosime dan ingat diri
untuk pergi mencari dan menyembuhan yang terluka. Kita dipanggil keluar dari zona
kenyamanan dan kemapanan hidup dan pergi kepada yang sedang tidak mempunyai makanan untuk bertahan hidup lantaran terpaan covid-19. Kita dipanggil keluar meninggalkan diri, lalu terlibat secara bathinia untuk mendoakan para dokter
dan perawat yang sedang menangani pasien-pasien covid-19; kita mendoakan orang-orang yang secara psikologis terkungkung dalam kecemasan dan ketakutan akan ancaman covid-19. Kita beri perhatian untuk penyembuhan traumatik stigmatik pada pasien covid yang telah sembuh.

Bila ini kita lakukan tanpa pamrih, tanpa intrik tertentu, tanpa ada pretensi macam-macam, maka siapapun mereka yang telah kdiperhatikan, mereka semua telah mengalami hidup dalam kelimpahan, -- - hidup yang tergembalakan-, karena dituntun di jalan kepada sukacita dan keselamatan
sebagaimana doa Nabi Daud:” Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya (Mzm.23:1-3).”***

Iklan

Iklan