LOCKDOWN COVID-19 “SUDAH SELESAI !” (Suatu Catatan Reflektif)

Oleh Dyah Harsitowati-Hayon

KUPANG,MT.NET-MEREBAKNYA covid-19 di seantero jagat mengharuskan kita melockdown diri dan keluarga. Tujuan terdekatnya adalah untuk meminimalisasikan dan
selanjutnya memutus matarantai penyebaran virus ganas dan mematikan ini. Untuk mencapai tujuan itu, berbagai aturan protokoler diwajibkan. Mulai dari Social distance sampai dengan lockdown. Lockdown terjadi pada level negara, kota, desa dan seterusnya sampai dengan lockdown diri dan keluarga.

Terinici acara protokoler itu sebagai berikut; pertama, Stay at home, sehingga menghindari
kontak fisik sosial di luar rumah, menhindari kerumunan dan kumpul-kumpul bareng bersama orang yang bukan keluarga inti.

Kedua, Keep clean; cuci tangan dan tubuh serta berbagai perabot rumah tangga.

Ketiga, Keep Healthy dengan konsumsi makanan sehat-bergisi dan bervitamin untuk meningkatkan imun tubuh. Sangat dianjurkan berjemur di matahari untuk memeproleh vitamin D-3. Untuk menjaga penularan covid-19, sangat diharuskan menggunakan masker.

Keempat, keep praying. “Last but not least,” artinya anjuran ini, posisinya terakhir dan bukan berarti tidak berguna atau bermanfaat. Mengapa? Jawabannya, karena anjuran ini berkaitan dengan manusia sebagai makhluk berdimensi rohani dan jasmani.

Dengan melakukan aktivitas doa-berdoa dalam masa lockdown, manusia berdimensi rohani-jasmani menyadari diri, bahwa dia bukan “Homo Deus” manusia yang mau jadi Tuhan. Tetapi dia adalah “imago Dei”, yang di beri kuasa oleh Allah atas segala ciptaan lain. Ia hanya diciptakan menurut gambar Allah. Ia dijadikan, dari “ada” menjadi “ada yang lain” (dari debu tanah, menjadi manusia”(bdk. Genesis 2:7).

Atas dasar thesis Kitab Genesis itu, pertanyaan tentang siapakah manusia terjawab. Manusia sesungguhnya begitu rapuh dan tidak berdaya di hadapan Tuhan sebagai pencipta. Karena itu untuk menjadi kokoh-kuat, tegar-perkasa, tuan yang memiliki otoritas atas dunia ini, ia harus tunduk dan takhluk di bawah kuasa Allah. Jika hal ini disadari maka manusia adalah “Homo Sapiens”- manusia bijak, yang sadar dan mengakui dengan segenap akal budi, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan bahwa Tuhan adalah pencipta sekaligus pemilik segala sesuatu yang ada di bumi ini. Ia berkuasa mengadakannya dan melenyapkannya, termasuk juga berkuasa melenyapkan covid-19. Manusia juga adalah rekan sekerja Allah, yang berupaya melawan covid-19. Berkaitan dengan aturan protokoler, stay at home dan/ atau lockdown (diri dan keluarga), secara in se menghentikan-mengrangi segala aktivitas; sosial, ekomi, politik, budaya dan religius di luar rumah. Semua aktivitas ke luar rumah berbalik arah ke dalam rumah. Seluruh aktivitas beralih tempat dan ruang ke dan di dalam rumah. Seperti yang sedang berlangsung; Work from home, Doing school from home/ Online, melalui goggle school dan berbagai media sosial lainnya.
Berbagai Econimical creative efforts akhirnya harus beroperasi di dalam dan dari rumah. Tidak mudah, memang, tetapi harus terjadi. Harus siap dikerjakan. Artinya akan gampang bagi yang tidak “butek” sedangakan akan susah bagi yang “gatek.” Mereka harus belajar untuk memulai.

Lockdown berlatar biblis.

Ada beberapa kisah menarik dan mirip dengan situasi lockdown kita sekarang, yakni kisah tentang Nuh-Noeh dalam Kitab Genesis dan kisah tentang Paulus, dalam Act (Kisah Para Rasul).

Pertama, Kisah Noeh. Dengan peristiwa air bah yang berlangsung selama 40 hari dan 40 malam dan lantas menggenang hingga/selama 150 hari,membuat Noeh harus melockdown diri dan keluarga serta segala “bawaan”-nya dalam bahtera (Bdk. Kej.7:1-24). Dengan melakukan
lockdown, mereka dengan sabar menanti “kesudahan air bah.” Mereka sedang dan siap menantikan pembebasan dari air bah. Jika sudah tiba hari kesudahannya, selamatlah Noeh berserta seluruh keluarganya dan seluruh harta miliknya. Memang, bagi Noeh, untuk gapai hari “kesudahan” air bah, perlu lockdown yang teramat lama, 150 hari (Bdk. Kej. 7:24). Peristiwa air bah akhirnya “sudah selesai” dengan tanda busur Allah digantungkan di awan.

Kedua, Kisah Paulus. Dalam perjalanan menuju Roma karena alasan naik banding ke Kaiser dan dakwa/ mission keagamaan, kapal yang ditumpangi Paulus dan penumpang lain dihatam di seantero jagat mengharuskan kita melockdown diri dan keluarga. Tujuan terdekatnya adalah untuk meminimalisasikan dan
selanjutnya memut matarantai penyebaran virus ganas dan mematikan ini. Untuk mencapai tujuan itu, berbagai aturan protokoler diwajibkan. Mulai dari Social distance sampai dengan lockdown. Lockdown terjadi pada level negara, kota, desa dan seterusnya sampai dengan lockdown diri dan keluarga.

Terinici acara protokoler itu sebagai berikut; pertama, Stay at home, sehingga menghindari
kontak fisik sosial di luar rumah, menhindari kerumunan dan kumpul-kumpul bareng bersama orang yang bukan keluarga inti.

Kedua, Keep clean; cuci tangan dan tubuh serta berbagai perabot rumah tangga.

Ketiga, Keep Healthy dengan konsumsi makanan sehat-bergisi dan bervitamin untuk meningkatkan imun tubuh. Sangat dianjurkan berjemur di matahari untuk memeproleh vitamin D-b3. Untuk menjaga penularan covid-19, sangat diharuskan menggunakan masker. 

Keempat, keep  praying. “Last but not least,” artinya anjuran ini, posisinya terakhir dan bukan berarti tidak berguna atau bermanfaat. Mengapa ? Jawabannya, karena anjuran ini berkaitan dengan manusia sebagai makhluk berdimensi rohani dan jasmani.

Dengan melakukan aktivitas doa-berdoa dalam masa lockdown, manusia berdimensi rohani- jasmani menyadari diri, bahwa dia bukan “Homo Deus” manusia yang mau jadi Tuhan. Tetapi dia badalah “imago Dei”, yang di beri kuasa oleh Allah atas segala ciptaan lain. Ia hanya diciptakan menurut gambar Allah. Ia dijadikan, dari “ada” menjadi “ada yang lain” (dari debu tanah, menjadi manusia” - bdk. Genesis 2:7). Atas dasar thesis Kitab Genesis itu, pertanyaan tentang siapakah manusia terjawab. 

Manusia sesungguhnya begitu rapuh dan tidak berdaya di hadapan Tuhan sebagai pencipta. Karena itu untuk menjadi kokoh-kuat, tegar-perkasa, tuan yang memiliki otoritas atas dunia ini, ia harus tunduk dan takhluk di bawah kuasa Allah. Jika hal ini disadari maka manusia adalah “Homo Sapiens”- manusia bijak, yang sadar dan mengakui dengan segenap akal budi, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan bahwa Tuhan adalah pencipta sekaligus pemilik segala sesuatu yang ada di bumi ini. Ia berkuasa mengadakannya dan melenyapkannya, termasuk juga berkuasa melenyapkan covid-19. Manusia juga adalah rekan sekerja Allah, yang berupaya melawan covid-19.

Berkaitan dengan aturan protokoler, stay at home dan/ atau lockdown (diri dan keluarga), secara in se menghentikan-mengrangi segala aktivitas; sosial, ekomi, politik, budaya dan religius di luar rumah. Semua aktivitas ke luar rumah berbalik arah ke dalam rumah. Seluruh aktivitas beralih tempat dan ruang ke dan di dalam rumah. Seperti yang sedang berlangsung; Work from home, Doing school from home/ Online, melalui goggle school dan berbagai media sosial lainnya.

Berbagai Econimical creative efforts akhirnya harus beroperasi di dalam dan dari rumah. Tidak mudah, memang, tetapi harus terjadi. Harus siap dikerjakan. Artinya akan gampang bagi yang tidak “butek” sedangakan akan susah bagi yang “gatek.” Mereka harus belajar untuk memulai. Lockdown berlatar biblis..Ada beberapa kisah menarik dan mirip dengan situasi lockdown kita sekarang, yakni kisah tentang Nuh-Noeh dalam Kitab Genesis dan kisah tentang Paulus, dalam Act (Kisah Para Rasul).

Pertama, Kisah Noeh. Dengan peristiwa air bah yang berlangsung selama 40 hari dan 40 malam dan lantas menggenang hingga/selama 150 hari, membuat Noeh harus melockdown diri dan
keluarga serta segala “bawaan”-nya dalam bahtera (Bdk. Kej.7:1-24). Dengan melakukan
lockdown, mereka dengan sabar menanti “kesudahan air bah.” Mereka sedang dan siap menantikan pembebasan dari air bah. Jika sudah tiba hari kesudahannya, selamatlah Noeh berserta seluruh keluarganya dan seluruh harta miliknya. Memang, bagi Noeh, untuk gapai hari “kesudahan” air bah, perlu lockdown yang teramat lama, 150 hari (Bdk. Kej. 7:24). Peristiwa air bah akhirnya “sudah selesai” dengan tanda busur Allah digantungkan di awan.

Kedua, Kisah Paulus. Dalam perjalanan menuju Roma karena alasan naik banding ke Kaiser dan dakwa/ mission keagamaan, kapal yang ditumpangi Paulus dan penumpang lain dihatam
gelombang dan badai sampai terhempas dan karam di busung pasir di Pulau Malta. Sebelum karam dan selamat, seluruh penumpang kapal sebanyak 276 jiwa, melockdown diri. Mereka etap dalam kapal karena angin badai dan hempasan gelombang di Laut Adria. Walau ada yang mau berjuang melarikan diri dengan sekoci (sampan kecil untuk transportasi penghubung kapal dan daratan), Paulus meminta mereka untuk tetap berada dalam kapal. Dalam kapal, mereka merasakan masa karantina yang sangat menakutkan. Dalam situasi itu,
Paulus menasehati mereka untuk tetap tabah hati. “Berserah diri pada Allah yang aku sembah, karena dalam suatu penglihatan, Allah menjanjikan keselamatan atau pembebsan dari badai.
“Sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat”, “bahkan tidak akan kehilangan sehelai pun rambut dari kepalamu” (Bdk.Kis.27:24,34). Selama 14 malam (14 hari) Paulus dan yang lainya terlockdown dalam perahu sampai badai itu “sudah selesai.”

Ketiga, Kisah Bani Israel di Mesir, di mana mereka mengalami perbudakan yang sangat keji dan tidak manusiawi. Perbudakan bagi mereka adalah wabah penyakit sosial. Untuk mencapai “hari kesudahan” wabah sosial ini, Bani Israel harus melockdown diri di rumah mereka masing-masing satu malam (bdk. Kej. 12:22) tatkalah tulah terakhir menimpa penduduk Mesir, “kematian anak sulung baik manusia maupun hewan”. Dengan melockdown diri
dan keluarga sepanjang malam, Bani Israel terbebas dari tulah ke-10. Setelah tulah ini selesai
mereka diperkenankan ke luar rumah mereka masih-masing menuju tanah terjanji, Kanaan; negeri berlimpah susu dan madu, di pimpin Musa. Segala bentuk perbudakan “sudah selesai.” Atas ketiga kisah itu ada satu benang merah yang mendasar dan menjadi rujukan kita adalah bahwa karena ketaatan dan percaya, penyerahan diri dan harapan yang kokoh pada Allah, mereka semua terselamatkan, terbebas dari “wabah”; air bah, badai-gelombang dan perbudakan.

“Sudah Selesai”

Makna pernyataan “Sudah selesai” pada konteks tiga kisah historis biblis, (juga puya makna
spiritual) di atas adalah Allah yang menyelesaikan semuanya sementara wabah (air bah, badai-gelombang, perbudakan) adalah sarana untuk menyatakan kemuliaan Allah. Hal ini senada dengan “peristiwa Lazarus.” “Penyakit itu tidak membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah” (Bdk. Yo. 11:4),

Ungkapan “Sudah selesai” atas tiga kisah di atas itu juga bertalian erat dengan keselamatan duniawi. Bahwa Allah memberikan mereka selamat, bebas dari wabah, supaya kemuliaan Allah terus diwartakan di tempat di mana mereka berada dan berkarya. Warta tentang, “Allah adalah pencipta, Allah yang berkuasa, Allah melakukan mukjizat, Allah yang mengasihi umatnya, orangnya dan Allahlah yang menghendaki keselamatan-pembebasan itu.” Ketika Yesus di salib, ia berseru “Sudah Selesai.” Seruan ini menggaris bawahi keselamatan duniawi dan keselamatan ekskatologis (akhirat) sekarang ada (real presence) bagi manusia. Keselamatan duniawi, di mana manusia terbebas dari dosa dan perbudakan setan. Setan bukan lagi penguasa atas manusia. Sedangkan yang dimaksudkan dengan keselamatan ekskatologis adalah
melalui selesainya karya Yesus di dunia manusia diberi hak, kesempatan meraih kebahagiaan surgawi bersama Yesus yang sudah dimulai dari dunia ini.

Ungkapan “Sudah Selesai” adalah seruan kemenagan.” Menang atas kuasa duniawi dan
kemenangan menjadi raja, penguasa surga dan dunia. Kasih yang mendasari segala perjuangan Yesus dan jadi hukum utama menang atas segala aturan yang menghambat umat Tuhan mencapai surga.

Arti lain dari ungkapan Yesus, “sudah selesai,” dalam konteks biblis adalah semua karya
keselamatan dan penebusan Yesus yang berpuncak pada Salib sudah terpenuhi. Misi yang diberikan oleh Allah kepada Yesus sudah tuntas dilaksanakan. Dengan sendirinya “kebebasan dan
keselamatan” yang membahagiakan segera hadir. Kebebasan dan keselamatan, kini menjadi milik orang-orang yang percaya kepada Yesus. Pembebasan di dunia dari perbudakan dosa akan dan mengarahkan manusia kepada keselamatan kebahagiaan kekal di surga.

Covid-19 mengusung dua makna dari ungkapan “sudah selesai”. Covid-19, sudah selesai
bagi kita berarti maha hebat dan interfensi Allah dalam melenyapkan covid-19 menjadi warta dan kesaksian iman. Sedangkang ungkapan “sudah selesai” akan covid-19 dalam makna ekskatologis, bagi kita adalah harapan akan keselamatan sekarang dan akhirat dan harapan akan lenyapnya covid19, tetap menjadi milik orang-orang percaya pada Allah dan pada Yesus. “Sudah selesai” adalah
saat kairos, kini dan nanti. ***


Iklan

Iklan