MUTIARA TIMUR — Mereka datang untuk menguatkan korban gempa. Meninggalkan keluarga, menghadapi medan sulit, dan bekerja di tengah situasi darurat. Selama hampir dua bulan, para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka hadir untuk memastikan warga terdampak tidak menghadapi bencana sendirian. Namun, di balik seragam kemanusiaan itu, ada kelelahan, kecemasan, dan beban batin yang tak selalu terlihat.
Kini, giliran mereka yang perlu dikuatkan. Menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental para personel di lapangan, PMI Kabupaten Sikka menggelar kegiatan Dukungan Psikososial bagi relawan yang terlibat dalam Operasi Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Sikka. Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi para relawan untuk berbagi pengalaman, mengungkapkan perasaan, menyampaikan keluhan, serta membicarakan berbagai tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan misi kemanusiaan.
Bagi PMI Kabupaten Sikka, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pendampingan. Ada kebutuhan yang lebih mendasar: memastikan para relawan tidak hanya mampu menjalankan tugas, tetapi juga memiliki ruang untuk memulihkan diri.
Pengurus PMI Kabupaten Sikka sekaligus Koordinator Lapangan Tanggap Darurat Bencana Gempa Kabupaten Sikka, Oktavianus Aryo Adityo, mengatakan bahwa kesehatan psikososial relawan harus menjadi perhatian dalam setiap operasi kemanusiaan. Menurut dia, keberhasilan penanganan bencana tidak cukup diukur dari distribusi bantuan, kecepatan respons, atau kelancaran operasi di lapangan.
“Relawan juga manusia. Setelah kurang lebih dua bulan terlibat dalam operasi tanggap darurat gempa bumi di Kabupaten Sikka, para relawan tidak hanya membutuhkan dukungan untuk menjalankan tugas kemanusiaan, tetapi juga ruang untuk didengarkan,” ujar Aryo saat diwawancarai Mutiara Timur.
Menurut Aryo, mendengarkan relawan bukan sekadar memberi mereka kesempatan untuk berbicara. Proses itu juga menjadi cara untuk memahami kebutuhan yang sesungguhnya, mengenali persoalan yang mereka hadapi, dan merumuskan bentuk dukungan yang tepat.
Selama masa tanggap darurat, relawan berada di garis depan pelayanan kemanusiaan. Mereka berhadapan dengan situasi yang menuntut kesiapsiagaan, menghadapi kondisi lapangan yang tidak selalu mudah, serta mengalokasikan waktu dan tenaga untuk membantu masyarakat terdampak. Dalam situasi seperti itu, kelelahan fisik kerap terlihat, sedangkan tekanan psikologis tidak selalu terungkap.
Padahal, beban yang tidak memperoleh ruang untuk dibicarakan dapat memengaruhi kondisi emosional, konsentrasi, dan kesiapan relawan dalam melanjutkan pelayanan. Karena itu, dukungan psikososial menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesejahteraan personel sekaligus mempertahankan kualitas pelayanan kemanusiaan.
Aryo menegaskan, relawan yang selama ini menjadi sumber kekuatan bagi orang lain juga berhak memperoleh perhatian dan dukungan. Kepedulian terhadap kondisi mereka, kata dia, bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap keberlanjutan misi kemanusiaan.
“Karena relawan yang selama ini hadir untuk menguatkan orang lain, juga membutuhkan ruang untuk dikuatkan. Menjaga kesehatan psikososial relawan adalah bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan pelayanan kemanusiaan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para pemangku kepentingan agar tidak memandang relawan semata-mata dari pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Di balik setiap tugas, terdapat individu dengan kebutuhan, perasaan, dan pengalaman yang perlu dihargai.
“Pesan saya: Jangan hanya bertanya apa yang sudah relawan kerjakan, tetapi tanyakan juga apa yang mereka rasakan, apa yang menjadi beban mereka, dan dukungan apa yang mereka butuhkan,” kata Aryo.
Kegiatan dukungan psikososial tersebut sekaligus menegaskan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada upaya menyelamatkan, melindungi, dan memulihkan masyarakat terdampak. Perhatian juga perlu diberikan kepada orang-orang yang bekerja di balik upaya tersebut.
Sebab, relawan bukan mesin yang dapat terus bergerak tanpa jeda. Mereka adalah manusia yang bisa lelah, membutuhkan dukungan, dan berhak didengarkan.
Di Kabupaten Sikka, pesan itu menjadi penting setelah hampir dua bulan operasi tanggap darurat gempa bumi. Ketika para relawan telah menghabiskan tenaga untuk menguatkan sesama, menyediakan ruang bagi mereka untuk berbicara merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan itu sendiri.
Kemanusiaan tidak cukup hanya hadir bagi mereka yang terdampak bencana. Kemanusiaan juga harus hadir bagi mereka yang memilih untuk menolong. **ah
