SIKKA, MUTIARA TIMUR — Sudah sepuluh tahun Kripianus Yonas Peda hidup dalam gelap. Pria 69 tahun itu kehilangan penglihatannya akibat katarak. Sejak itu, dunia yang dulu dikenalnya perlahan menghilang. Wajah istrinya, Petronela (60), dan anaknya, Ana Paskalia Maring (22), hanya tinggal dalam ingatan.
Kini, Kripianus tinggal bersama keduanya di Dusun Wukakgahar, RT/RW 011/04, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.
Rumah mereka berdiri di tengah kebun yang kering. Bangunannya sederhana, bahkan jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari pelupuh bambu yang mulai lapuk dimakan rayap. Lantainya masih berupa tanah.
Bangunan itu hanya berukuran sekitar 4 x 5 meter. Di tempat itulah tiga orang dalam satu keluarga menjalani hari-hari mereka. Untuk berjalan, Kripianus harus meraba dinding atau dituntun. Sekadar menuju dapur pun ia tidak bisa melakukannya seorang diri. Pernah ada kesempatan untuk mengakhiri gelap itu.
Kripianus mengaku pernah datang ke fasilitas kesehatan di Lela untuk menjalani pemeriksaan dan berharap dapat dioperasi. Ia bahkan menunggu selama dua hari dua malam. Namun harapan itu kembali kandas.
“Pernah mau operasi di Lela,” kata Kripianus dengan suara lirih. “Dua hari dua malam saya tunggu di sana. Tapi dokter dari Jakarta bilang, bola mata saya harus diganti. Harus operasi di Singapura.”
Bagi keluarga Kripianus, Singapura bukan sekadar nama sebuah negara. Itu adalah jarak yang hampir tak mungkin mereka tempuh.
Kemampuan ekonomi keluarga membuat rencana operasi tersebut berhenti sebagai harapan. Kripianus akhirnya pulang ke Nenbura. Ia kembali ke rumah yang sama, dengan penglihatan yang sama-sama gelap.
Di rumah itu pula, anaknya, Ana, menyimpan harapan yang lain. Ana berusia 22 tahun. Ia telah menamatkan pendidikan SMA pada 2022. Ijazahnya masih disimpan dalam plastik dan diletakkan di dinding pelupuh rumah mereka.
Ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun keinginan itu harus dikalahkan oleh keadaan.
“Kalau saya lihat teman-teman saya sudah pakai toga, air mata saya jatuh,” ujar Ana. “Saya mau lanjut kuliah, tapi lihat kondisi orang tua saya begini. Bapak buta, rumah begini. Mau kuliah pakai apa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Ana, jawabannya menentukan masa depannya.
Ia memilih tetap berada di rumah bersama kedua orang tuanya.
Petronela pun menjalani hari-hari dengan peran yang semakin berat. Di usia 60 tahun, ia menjadi mata bagi suaminya sekaligus menopang kehidupan keluarga.
Tidak banyak yang mereka punya selain rumah kecil, tanah tempat berpijak dan harapan agar suatu hari ada pertolongan.
Ketika hujan turun, lantai tanah di dalam rumah menjadi becek. Ketika angin kencang datang, dinding pelupuh yang telah lapuk ikut berderak.
Namun di tengah keterbatasan itu, keluarga tersebut tetap bertahan.
Kripianus tidak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali melihat.
Melihat wajah istrinya. Melihat anaknya. Melihat dunia yang selama satu dekade hanya dapat ia bayangkan.
“Semoga ada orang baik yang lihat kami,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sebuah rumah kecil di Wukakgahar, kalimat tersebut menyimpan persoalan yang lebih besar: bagaimana warga yang hidup dalam keterbatasan dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak dan kesempatan pendidikan?
Kisah Kripianus dan keluarganya bukan sekadar tentang seorang lelaki yang kehilangan penglihatan. Ini tentang sebuah keluarga yang perlahan kehilangan banyak hal sekaligus—kesehatan, kesempatan pendidikan, dan kemampuan untuk memperbaiki kehidupan mereka sendiri.
Di usia 69 tahun, Kripianus masih menunggu satu hal yang selama sepuluh tahun terakhir belum datang: kesempatan untuk melihat kembali.
Dan di sampingnya, seorang anak perempuan masih menyimpan ijazah SMA dalam plastik—sebuah tanda bahwa di rumah yang nyaris tak layak itu, harapan sebenarnya belum mati. **usgo
