MAUMERE, MUTIARA TIMUR – Di ujung perbukitan batu Dusun Hebar, ada sebuah rumah yang nyaris tak terlihat. Dindingnya dari pelupu bambu yang lapuk dimakan usia, berlantai tanah, dan berdiri di atas lahan tandus yang tak memberi banyak harapan. Di sanalah Bernadus Pajung (69) bertahan.
Bersama istrinya Rosalia Etalia (59), Bernadus hidup dengan tujuh orang anak di RT/RW 05/02, Dusun Hebar, Desa Mahe Tana, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka. Di usia yang seharusnya menikmati masa tua, ia masih harus berperang melawan kerasnya alam.
Tanah di sekeliling rumahnya penuh batu. Tak ada hamparan sawah yang hijau, tak ada kebun yang subur. Apa yang ia tanam, hanya cukup untuk mengisi perut hari itu saja. Tidak untuk dijual, bahkan nyaris tidak untuk esok.
“Saya tinggal di sini tanah saja tidak seberapa, tanah penuh batu semua. Tanaman juga hanya untuk memenuhi kebutuhan,” tutur Bernadus lirih, dengan tatap mata yang lelah menatap perbukitan.
Rumah itu menjadi saksi bisu ketabahan mereka. Atapnya memang masih mampu menahan hujan, namun dinding pelupu yang rapuh tak mampu menahan dinginnya angin pegunungan yang menusuk setiap malam. Di dalamnya, satu keluarga besar berbagi ruang, berbagi lapar, dan berbagi harapan.
Kondisi memprihatinkan itu dibenarkan oleh Pemerintah Desa Mahe Tana. Sekretaris Desa Mahe Tana, Rikarson Eduardus Toa, mengatakan kondisi Bernadus Pajung memang sudah sangat mendesak untuk dibantu. Ia hidup dengan keterbatasan ekonomi yang berat, tanah yang tidak produktif, dan rumah yang jauh dari kata layak.
“Kondisi Bapak Bernadus Pajung itu memang yang paling memprihatinkan di Dusun Hebar. Beliau lansia 69 tahun dengan tujuh anak tanggungan, rumahnya dinding pelupu sudah lapuk, lantai tanah, dan lahan di sekitarnya penuh batu. Kami di desa melihat sendiri, beliau sangat membutuhkan perhatian segera,” ujar Rikarson kepada Mutiara Timur.
Menurutnya, pihak desa sudah melakukan pendataan dan berusaha membantu semampunya, namun keterbatasan anggaran menjadi kendala besar.
Rikarson menambahkan, persoalan rumah tak layak huni di Desa Mahe Tana bukan hanya dialami keluarga Bernadus saja.
“Kalau dilihat dari segi rumah tidak layak huni, masih ada beberapa KK juga yang harus diperhatikan dari tiga wilayah dusun di Desa Mahe Tana. Untuk sementara dari pihak desa hanya mampu mengintervensi satu rumah layak huni, sesuai kemampuan keuangan desa,” jelasnya.
Ia berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Sikka maupun Pemerintah Provinsi NTT untuk melihat langsung kondisi warganya.
Kini, di antara dinding bambu yang lapuk itu, Bernadus dan keluarganya menanti. Bukan menanti belas kasihan, melainkan kehadiran negara. Kehadiran pemimpin yang mau melihat lebih dekat, bahwa di balik laporan pembangunan, masih ada lansia 69 tahun yang menahan dingin, menatap anak-anaknya, dengan satu pertanyaan sederhana: sampai kapan kami harus bertahan di rumah yang tak layak ini?
Semoga kisah dari ujung batu ini sampai ke meja para pengambil kebijakan. Karena bagi Bernadus, rumah layak bukan soal kemewahan, melainkan soal martabat untuk hidup sebagai manusia.
**Penulis: Aris - Mutiara Timur
