MAUMERE, MUTIARA TIMUR–Di atas perbukitan Dobo, Desa Iantena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, ada kampung kecil bernama Wolonratet. Di RT 002/RW 001, hidup puluhan keluarga yang hari ini sedang berjuang untuk sesuatu yang bagi kita terlihat sepele: setetes air untuk minum.
Tidak ada sumur di sana. Tidak ada mata air. Sejak dulu, warga Wolonratet hanya menggantungkan hidup pada air hujan. Mereka menampungnya di bak-bak sederhana, menjaganya seperti menjaga harta paling berharga.
Tapi tahun ini, kemarau datang terlalu panjang. Langit tak lagi menurunkan hujan. Bak-bak itu pun mengering. Dan bersama keringnya bak, kering pula harapan warga.
Kini, untuk bisa memasak dan minum, mereka harus membeli air. Air bersih didatangkan dari luar kampung menggunakan mobil tangki, melewati jalan rusak, berbatu, dan tanjakan ekstrem. Harganya? Tidak murah. Dan tidak stabil.
“Kami biasanya membeli air tangki. Sejauh ini sudah sekitar 3–4 kali. Ini cukup membantu setidaknya untuk kehidupan setiap hari. Tapi harganya pun tidak stabil. Distributor biasanya mematok harga mengikuti letak wilayah. Semakin jauh dan semakin sulit medannya, maka harganya akan semakin naik,” tutur Maria Tali, seorang ibu di Wolonratet, dengan suara lirih.
Bagi Maria, setiap tetes air harus dihitung. Untuk makan dan minum, air tangki itu digunakan. Untuk kebutuhan lain, ia harus menahan malu, mengetuk pintu tetangga, berharap ada sisa air yang bisa dibagi.
“Kami harus hemat menggunakan air bersih. Mungkin untuk makan dan minum. Untuk keperluan lain, kami masih bisa minta ke tetangga yang punya banyak pasokan air,” katanya.
Di tengah kepahitan itu, solidaritas warga menjadi cahaya kecil. Mereka saling berbagi. Satu ember dibagi dua keluarga. Satu jerigen untuk dua dapur.
Beberapa waktu lalu, harapan sempat datang. Komunitas dan Lembaga Swadaya Masyarakat, salah satunya Nusa Tenggara Association (NTA), memberikan bantuan bak penampung air. Warga menyambutnya dengan suka cita.
Namun, bak tanpa air hanyalah wadah kosong. Ketika hujan tak turun, bak itu tak bisa diisi.
“Orang yang dapat bantuan bak penampung saja masih kekurangan air, apalagi kami yang tidak dapat sumbangan bak,” ujar Febriana Lilis Afriani Sawu, warga lainnya. Kalimat itu meluncur pelan, tapi menghantam.
Lilis tidak meminta banyak. Ia hanya ingin pemerintah melihat keadaan mereka.
“Kami berharap dapat sumbangan air bersih. Semoga pemerintah bisa lihat kami punya keadaan. Untuk minum saja sangat susah. Apalagi yang lain,” ucap Lilis. Suaranya bergetar.
Di Wolonratet, air bukan soal mandi atau mencuci pakaian. Air adalah soal apakah hari ini anak-anak bisa minum dan makan.
Kini, mereka menunggu. Menunggu truk tangki yang harganya kian mahal, menunggu hujan yang entah kapan turun, dan menunggu uluran tangan dari kita semua.
Dari Maumere untuk Wolonratet, semoga haus ini segera berakhir. ** arishalilintar
