KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM – Keberagaman etnis, agama, tradisi, dan kesenian bukan sekadar identitas masyarakat, melainkan kekuatan besar yang harus dirawat untuk membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Festival Budaya Tingkat Kelurahan Oebobo yang mengusung tema “Melestarikan Budaya Etnis”, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, menjaga warisan budaya, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap Kota Kupang di tengah kehidupan masyarakat yang multietnis.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Kupang, Hengky Kornelis Malelak, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus terus dipelihara dan dikembangkan sebagai modal sosial dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, Kelurahan Oebobo memiliki posisi penting dalam perjalanan Kota Kupang. Selain menjadi bagian dari pusat pemerintahan, Oebobo juga mencerminkan kehidupan masyarakat yang berasal dari beragam latar belakang etnis, agama, tradisi, dan kesenian.
“Oebobo adalah bagian dari wajah kota yang dihuni oleh masyarakat dengan beragam latar belakang etnis, agama, tradisi, dan kesenian. Dalam kehidupan setiap hari, keberagaman itu hidup dan bertemu di tengah masyarakat,” ujar Hengky saat membacakan sambutan dalam pembukaan festival tersebut.
Ia menjelaskan, Festival Budaya Kelurahan Oebobo merupakan kesempatan untuk membawa kekayaan budaya masyarakat ke ruang publik agar semakin dikenal, dihargai, dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
“Inilah kekuatan Oebobo. Masyarakatnya beragam, tetapi tetap dapat berjalan bersama sebagai satu kekuatan,” tegasnya.
Dalam sambutan tersebut, Hengky menegaskan bahwa pembangunan Kota Kupang tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik, seperti jalan, gedung, dan berbagai infrastruktur lainnya.
Pembangunan juga harus menyentuh kehidupan sosial masyarakat melalui penciptaan ruang-ruang yang memperkuat persaudaraan, mendorong kreativitas, dan membangun rasa memiliki terhadap kota.
“Pembangunan Kota Kupang tidak hanya berbicara tentang pembangunan jalan, gedung, dan infrastruktur. Kita juga harus membangun ruang-ruang untuk memperkuat persaudaraan, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap Kota Kupang. Festival ini adalah salah satu momennya,” ungkapnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Kupang berharap kegiatan kebudayaan di tingkat kelurahan dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah perbedaan.
Festival budaya juga diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam pelestarian tradisi maupun pengembangan potensi ekonomi lokal.
Menurut Hengky, festival semacam ini perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkarya, para seniman untuk mengembangkan kreativitas, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas kesempatan usaha.
Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu yang dipertahankan, tetapi juga menjadi kekuatan untuk menciptakan peluang dan mendukung pembangunan ekonomi masyarakat.
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam pembukaan festival tersebut ditujukan kepada generasi muda Kota Kupang.
Hengky mengingatkan bahwa perkembangan zaman tidak boleh membuat anak-anak muda kehilangan kebanggaan terhadap identitas budaya yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur mereka.
Sebaliknya, generasi muda harus mengenal akar budayanya, memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta mengembangkannya melalui kreativitas sesuai perkembangan zaman.
“Kepada seluruh masyarakat Kelurahan Oebobo, khususnya anak-anak muda Oebobo dan Kota Kupang, saya titipkan pesan: jangan malu dengan identitas kita. Kenali warisan yang kita miliki, jaga nilai-nilainya, dan kembangkan dengan kreativitas kalian,” pesannya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Kupang akan terus mendorong kegiatan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkarya dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Sebab, kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat yang aktif, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta kehidupan sosial.
“Kota ini akan maju ketika masyarakat tumbuh, aktif, dan memiliki rasa memiliki terhadap lingkungan,” katanya.
Melalui festival budaya, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan kesenian, tradisi, dan nilai-nilai budaya lokal.
Lebih lanjut, Hengky mengaitkan pelaksanaan Festival Budaya Kelurahan Oebobo dengan visi besar Pemerintah Kota Kupang untuk menjadikan kota ini sebagai rumah bersama yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.
Ia mengingatkan kembali pelaksanaan kegiatan Malam Budaya dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kota Kupang pada April 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat identitas budaya sekaligus membangun persatuan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda-beda.
Menurutnya, Kota Kupang dengan kekayaan multietnisnya membutuhkan ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat saling mengenal, menghargai, dan membangun kehidupan yang harmonis.
Dalam konteks tersebut, festival budaya di tingkat kelurahan memiliki arti penting karena menghadirkan kebudayaan langsung di tengah masyarakat serta membuka kesempatan bagi setiap kelompok untuk menunjukkan kekayaan tradisi yang dimiliki.
Hengky berharap Kelurahan Oebobo dapat menjadi contoh bahwa keberagaman bukan penghalang pembangunan, melainkan kekuatan yang mampu menyatukan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.
“Mari kita jadikan Oebobo sebagai contoh bahwa keberagaman adalah kekuatan. Kiranya dari kelurahan ini kita tunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi energi positif untuk membangun Kota Kupang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa harmoni tidak berarti semua orang harus memiliki identitas yang sama. Harmoni justru terwujud ketika masyarakat dengan latar belakang berbeda memilih untuk saling menghargai dan berjalan bersama.
“Harmoni bukan berarti kita sama. Harmoni adalah ketika kita yang datang dari latar belakang berbeda-beda, tetapi memilih untuk berjalan bersama,” tegas Hengky.
Pada kesempatan tersebut, Hengky menyampaikan apresiasi kepada Camat Oebobo, Lurah Oebobo beserta seluruh jajaran, panitia pelaksana, dan masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya Festival Budaya Kelurahan Oebobo.
Ia menilai, dukungan dan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan budaya di tingkat kelurahan.
Pelestarian budaya, menurutnya, membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, keluarga, komunitas adat, seniman, generasi muda, hingga pelaku UMKM.
Semangat kebersamaan tersebut perlu terus dipelihara agar budaya tidak sekadar ditampilkan dalam festival, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Hengky pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kekayaan budaya Oebobo, memperkuat persaudaraan, dan terus berkontribusi bagi kemajuan Kota Kupang.
“Mari kita rawat kekayaan Oebobo, kita jaga persaudaraan, dan kita terus berupaya untuk Kota Kupang yang semakin maju, inklusif, dan penuh kasih,” ajaknya.
Menutup sambutannya, Hengky secara resmi membuka Festival Budaya Tingkat Kelurahan Oebobo dengan tema “Melestarikan Budaya Etnis”.
Festival ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Lebih dari sekadar pertunjukan seni dan tradisi, kegiatan ini menjadi ruang untuk merawat identitas, mempererat persaudaraan, dan membangun semangat kebersamaan.
Di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Kota Kupang, pesan yang ingin ditegaskan melalui Festival Budaya Oebobo adalah bahwa perbedaan tidak harus memisahkan masyarakat. Sebaliknya, ketika dirawat dengan saling menghormati dan semangat persaudaraan, keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun Kota Kupang yang lebih maju, inklusif, dan harmonis. *** usgo


