Sikka, Mutiara Timur - Langit mendung adalah musibah bagi Pidelis Liseng (70) dan istrinya Maria Pinteja, warga Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.
Bagi pasangan lansia ini, hujan bukan berkah. Hujan adalah air mata kedua. Setiap tetesnya masuk bebas ke dalam rumah.
Rumah mereka bukan rumah. Dindingnya hanya anyaman bambu yang sudah lapuk. Pondasinya seadanya. Atap alang-alang yang dulu melindungi kini sudah habis dimakan usia. Yang tersisa hanya rangka kayu rapuh yang ditutup terpal hijau sobek-sobek.
Saat angin kencang dari perbukitan Doreng datang, terpal itu terbang. Robek. Dan rumah itu kembali menjadi kandang terbuka. Tak ada dinding yang aman, tak ada sudut yang kering.
Di dalamnya, lantai tanah menjadi lumpur. Perabot seadanya harus diangkat. Pidelis dan Maria hanya bisa duduk di sudut, menahan dingin, menanti hujan reda.
Pidelis sudah tak kuat lagi. Di usia senjanya, ia sering sakit-sakitan. Tangannya yang dulu kuat menganyam bambu kini gemetar. Ia tak mampu lagi memanjat memperbaiki atap.
"Kalau hujan deras, kami tidak bisa tidur tenang. Air masuk dari mana-mana. Kami hanya bisa bertahan," tutur Pidelis dengan suara pelan, mata berkaca-kaca, saat ditemui Mutiara Timur.
Di sampingnya, Maria Pinteja tak banyak bicara. Ia hanya menyeka air mata. Tatapannya kosong menatap atap yang bocor. Sesekali ia menghela napas panjang, pasrah.
Inilah potret buram di balik megahnya program Dana Desa miliaran rupiah. Di Dusun Hepang yang dihuni 600 jiwa, yang 81 tahun merdeka belum menikmati listrik, yang harus pikul jerigen 3 KM untuk dapat air keruh di mata air Wair, masih ada lansia yang tidur di bawah terpal bocor.
Mereka tidak minta mewah. Mereka hanya minta satu hal sederhana: rumah yang tidak bocor saat hujan, yang bisa melindungi mereka di ujung senja.
Sampai kapan Pidelis Liseng dan Maria Pinteja harus menunggu kepedulian? Sampai kapan Pemdes Nenbura, Dinas Perkim Sikka, dan Bupati Sikka membiarkan warga sendiri bertarung dengan hujan di bawah atap alang-alang yang hampir roboh?
**Laporan: Aris Halilintar
