MAUMERE, MUTIARA TIMUR - Jika wisuda biasanya identik dengan langkah anggun dan senyum haru di dalam aula, maka yang terjadi di Maumere, Sabtu (24/10/2026), adalah sebuah pernyataan sikap.
Usai resmi dikukuhkan sebagai Ahli Madya dalam Wisuda ke-III Politeknik Cristo Re Maumere Tahun Akademik 2025/2026, 40 wisudawan tidak langsung pulang. Mereka memilih mengaum.
Dari pintu Aula Alma, iring-iringan toga itu bergerak. Bukan dengan mobil mewah sewaan, tapi dengan cara yang paling jujur menunjukkan siapa mereka. Menuju Patung Kristus Raja, ikon abadi Kota Maumere yang berdiri kokoh di persimpangan Jl. Mgr. Sugiyopranoto, Kelurahan Kota Baru.
Dan di tengah lautan toga hitam itu, satu suara knalpot memecah keheningan.
Seorang wisudawan melaju dengan gagah. Dialah Elfianus Dominikus Dedi, A.Md, lulusan D-III Pemeliharaan Mesin Otomotif. Motor chopper custom warna merah-oranye menyala yang ia kendarai bukanlah motor sewaan. Itu adalah Tugas Akhirnya sendiri.
Rangka hardtail hasil las tangan sendiri, fork depan menjulang panjang seperti leher angsa, dan ban belakang lebar yang mencakar aspal. Sebuah mahakarya yang membuktikan filosofi kampus: Cor, Mens, et Manus. Ini bukan motor beli dari dealer. Ini adalah skripsi yang bisa dikendarai.
"Inilah kami," seolah begitu pesannya.
Karya Elfianus itu adalah representasi sempurna dari 40 lulusan yang hari itu diwisuda. Mereka berasal dari tiga dapur keahlian yang berbeda, namun satu visi: D-III Teknologi Mesin, D-III Pemeliharaan Mesin Otomotif, dan D-III Ekowisata.
Tiga prodi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata. Prodi Teknologi Mesin yang mengajarkan presisi manufaktur. Prodi Pemeliharaan Mesin Otomotif yang bahkan kini sudah belajar langsung teknologi mobil listrik Foton eView Luxury hibah dari Indomobil. Dan Prodi Ekowisata yang menjaga pariwisata Flores tetap berkelanjutan.
Direktur Politeknik Cristo Re Maumere, RD. Yakobus Donnisius Migo atau akrab disapa Romo Donnie, tak bisa menyembunyikan bangganya. Dari 40 wisudawan yang diarak menuju Patung Kristus Raja hari itu, 10 orang diantaranya sudah memiliki pekerjaan tetap sebelum toga mereka disematkan.
Dua orang bahkan tidak bisa hadir secara fisik karena sedang bertugas di lapangan. Rofinus Ropi yang kini bekerja di Hino Kupang Cabang Reo, dan Yulius Janda Nggedho di Hino Tobelo Cabang Ambon. Keduanya mengikuti prosesi sakral itu melalui live streaming, sementara kedua orang tua mereka yang maju ke panggung untuk dikalungkan tanda wisuda. Sebuah pemandangan haru yang disaksikan 38 rekan lainnya.
Sementara 20 lulusan lainnya, kata Romo Donnie, saat ini sedang dalam tahap akhir rekrutmen di sejumlah perusahaan mitra.
Pawai yang berakhir di kaki Patung Kristus Raja itu bukan sekadar selebrasi. Di bawah patung yang selamat dari gempa dan tsunami dahsyat 1992 itu, mereka memohon berkat untuk perutusan. Bahwa ilmu yang didapat dengan tangan mereka sendiri itu akan mereka bawa untuk membangun Flores.
Siang itu, jalanan Maumere belajar satu hal: Lulusan vokasi terbaik tidak hanya membawa ijazah di dalam map, tapi membawa karya Tugas Akhir yang bisa mengaum di jalanan.
Selamat untuk 40 Wisudawan Politeknik Cristo Re Maumere! ** ah
