Scroll untuk melanjutkan membaca
  • Kategori
  • _Nasional
  • _Daerah
  • _Politik
  • _Hukum Kriminal
Mutiara-timur.com

Mutiara-timur.com

  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • HUKUM KRIMINAL
  • EKONOMI
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • Beranda
  • Daerah
  • Kesehatan

Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa

  • Lebih kecil
  • Bawaan
  • Lebih besar
Bagikan:

SIKKA, MUTIARA TIMUR — Di tengah keterbatasan tenaga medis, Puskesmas Rawat Inap Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, tetap menjadi tumpuan pelayanan kesehatan warga pascagempa.

Selama masa tanggap darurat, sedikitnya 15 pasien yang berkaitan langsung dengan gempa mendapat penanganan di Puskesmas Palue. Tujuh di antaranya harus dirujuk ke Maumere karena membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Lima pasien dievakuasi menggunakan helikopter, sementara dua lainnya melalui jalur rujukan biasa. Mereka antara lain mengalami patah tulang, luka pada kepala, dan cedera akibat benturan.

Kepala Puskesmas Rawat Inap Palue, Maria Mardiana Ngole, mengatakan Puskesmas Palue juga menjadi simpul rujukan terakhir bagi pasien dari Puskesmas Tuanggeo sebelum dibawa ke Maumere.

“Semua pasien dari Puskesmas Tuanggeo kalau untuk rawat inap dan rujukan terakhirnya ada di sini, baru kami lanjutkan ke Maumere,” kata Maria, Rabu, 16 September 2026.

Menurut dia, seluruh pasien yang dirujuk ke Maumere dalam penanganan korban gempa berasal dari wilayah kerja Puskesmas Tuanggeo yang terdampak cukup berat.

Di tengah tingginya kebutuhan pelayanan, Puskesmas Palue justru menghadapi persoalan kekurangan tenaga. Saat ini terdapat 42 tenaga kesehatan yang aktif, terdiri atas PNS, PPPK, dan PPPK paruh waktu. Jumlah ideal yang dibutuhkan sekitar 60–65 tenaga. Persoalan paling krusial adalah ketiadaan dokter tetap.

Maria mengatakan Puskesmas Palue sementara terbantu oleh relawan Kementerian Kesehatan. Namun, penugasan relawan tersebut dijadwalkan berakhir pada 20 September.

“Jumlah nakes ada 42, sama sekali tidak ada dokter. Jadi kalau dokter dari Kemenkes ini tanggal 20 September pulang, artinya kami di Puskesmas Palue tidak ada dokter,” ujarnya.

Selama dokter tetap belum tersedia, konsultasi medis dilakukan dengan tenaga medis di Puskesmas Tuanggeo melalui komunikasi telepon.

Kondisi kekurangan tenaga juga membuat perawat dan bidan harus menjalankan tugas rangkap. Mereka melayani pasien rawat jalan sekaligus harus siap menangani pasien rawat inap.

Padahal, sebagai puskesmas rawat inap, pelayanan dituntut berjalan 24 jam.

“Double pekerjaannya karena kami kekurangan tenaga,” kata Maria.

Pelayanan tetap bergerak

Keterbatasan tenaga tidak membuat pelayanan berhenti. Tenaga Puskesmas Palue tetap turun dari dusun ke dusun untuk menjangkau warga terdampak.

Wilayah seperti Kesokoi Nitakloang dan Lidi turut mendapat pelayanan. Jangkauan pelayanan juga dilakukan hingga sejumlah dusun lainnya.

Untuk obat-obatan, Maria mengatakan kebutuhan selama masa tanggap darurat masih dapat dipenuhi melalui dukungan Dinas Kesehatan dan relawan, termasuk Ikatan Dokter Indonesia.

Di sisi lain, kebutuhan tenaga dokter dan tenaga kesehatan tambahan telah diajukan melalui rencana kebutuhan tenaga. Dinas Kesehatan juga disebut telah melakukan pemetaan fasilitas kesehatan yang membutuhkan tambahan tenaga. Namun, realisasinya masih ditunggu.

Puskesmas Palue kini berada pada posisi penting dalam rantai pelayanan kesehatan di pulau tersebut: menjadi tempat warga berobat, menangani pasien rawat inap, sekaligus menjadi titik koordinasi rujukan sebelum pasien dibawa ke Maumere.

Pascagempa, tantangannya bukan hanya menyembuhkan luka yang terlihat. Ketika tenaga kesehatan terbatas dan satu-satunya dokter relawan segera berakhir masa tugasnya, keberlanjutan pelayanan 24 jam di Palue menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah mendesak. **ah



Baca Juga
Tag:
  • Daerah
  • Kesehatan
Bagikan:
Berita Terkait
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
Berita Terbaru
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
  • Tanpa Dokter Tetap, Puskesmas Palue Tetap Jadi Benteng Kesehatan Warga Pascagempa
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal





Terpopuler
  • Kayu Tumbang di Hutan Lindung Egon Gahar Dipersoalkan, KPH Sikka: Bukan Hilang, Dijual untuk Biaya Operasional

  • Pertalite Langka di Tanah Grogot, Antrean Mengular dan Isu Pengetap Berujung Keributan

  • Warga Sipil Tewas Ditembak di Jayawijaya, VOX POINT Sikka Desak Negara Tak Gagal Lindungi Mereka

  • GMNI Sikka Desak Pemda Evakuasi Warga Sikka dari Jayawijaya Usai Serangan Mematikan

  • Tak Lupa Kampung Halaman, KKBM Kupang Salurkan Rp22 Juta untuk Korban Gempa Palue

Mutiara Timur Sponsor
Artikel Lainnya
Tutup Iklan
Mutiara Timur
Mutiara dari timur
  • Tentang Kami
  • Langganan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik
  • Info Kerjasama
  • Karir
Copyright © 2025 Mutiara Timur from Nusacloudhost.com. All rights reserved.