MUTIARA TIMUR — Di tengah situasi pascagempa yang belum sepenuhnya pulih, 24 kepala keluarga dengan total 97 jiwa masih bertahan di Lorong Shinta Pub, RT 001/RW 001, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.
Mereka tidak banyak menuntut. Warga hanya berharap kebutuhan paling dasar makanan dan tempat beristirahat yang layak dapat dipenuhi.
Pius Site, salah seorang warga di lokasi pengungsian, mengatakan bantuan yang selama ini diterima dari pihak kelurahan masih terbatas. Warga mendapat beras 5 kilogram, mi instan 15 bungkus, dan telur sebanyak 15 butir.
“Selama ini bantuan dari kelurahan hanya beras 5 kilogram, Sarimi 15 bungkus dan telur 15 butir. Kami di sini ada 24 KK dengan 97 jiwa,” kata Pius.
Menurut dia, jumlah tersebut harus dibagi kepada puluhan keluarga yang bertahan di lokasi. Karena itu, warga membutuhkan tambahan sembako, terutama bahan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain makanan, warga juga membutuhkan terpal. Terpal diperlukan sebagai alas untuk dibentang di lantai tempat mereka beristirahat.
“Kami mohon dibantu sembako dan terpal satu untuk dibentang di lantai. Mohon pemerintah tolong lihat keadaan kami,” ujarnya.
Data warga menunjukkan, jumlah anggota keluarga di lokasi tersebut tidak sama. Ada keluarga yang hanya terdiri atas dua jiwa, sementara keluarga lainnya mencapai delapan jiwa.
Dua puluh empat kepala keluarga yang tercatat di lokasi itu adalah Sebatianus Kurinto (6 jiwa), Maria Efenia (3), Edelbertus Berek (4), Maria Apriani Nona Anci (5), Petrus Wakum (5), Pestus Hinadang (5), Maria Kego (3), Martha Minde (4), Yohanes Hane (3), Yosep Sumanto (4), Philipus Manapa (4), Aloysius L. Lalu (3), Leonarda Lelu (2), Agustinus Ohibor (4), Merline Sutanto (3), Sisilia Paniyanti (4), Laurensia Wuda (8), Matias Mia Mawe (4), Thomas Alva Edison (4), Pius (5), Karinus Jekson Selan (5), Agustinus Sarjoni Abel Seran (4), Viktor Marino (4), dan Theresia Wae (4).
Jika dihitung berdasarkan data warga, jumlah keseluruhan mencapai 97 jiwa.
Bagi warga, bantuan yang dibutuhkan bukan hanya soal beras dan makanan. Mereka juga membutuhkan perlengkapan dasar untuk membuat tempat pengungsian lebih layak, terutama terpal sebagai alas dan pelindung selama harus bertahan di luar rumah.
Kondisi 24 KK tersebut menjadi gambaran bahwa penanganan pascabencana tidak berhenti pada pendataan dan distribusi bantuan awal. Kebutuhan warga di lokasi pengungsian terus bergerak mengikuti jumlah penghuni dan lamanya mereka bertahan.
Warga pun berharap perhatian dan bantuan dapat terus menjangkau lokasi-lokasi pengungsian yang berada di tengah permukiman, termasuk Lorong Shinta Pub.
“Kami mohon pemerintah lihat keadaan kami,” kata Pius. **ah

