SIKKA, MUTIARA TIMUR — Bantuan untuk warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka terus mengalir. Kali ini, tim relawan kemanusiaan dari perusahaan yang berada di bawah koordinasi sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) turun langsung ke tengah masyarakat dengan membawa bantuan kebutuhan pokok serta membuka layanan kesehatan gratis.
Tim tersebut berasal dari PT Plesart Tambang Kencana (PTK) dan PT Indo Muro Kencana (IMK). Mereka mendatangi warga terdampak di Dusun Tour Orin Bao, Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Jumat, 21 Agustus 2026.
Kegiatan berlangsung di halaman rumah Viktor Nekur, SH. Sekitar pukul 10.30 WITA, tim tiba di lokasi dan tidak lama kemudian mulai memeriksa kondisi kesehatan warga.
Langkah itu menjadi bagian dari respons kemanusiaan perusahaan terhadap dampak gempa yang mengguncang wilayah Flores. Bantuan tidak hanya diberikan dalam bentuk bahan pangan, tetapi juga pelayanan kesehatan bagi warga yang membutuhkan.
Sejumlah kebutuhan pokok disalurkan kepada masyarakat. Bantuan tersebut terdiri atas 50 kilogram beras, 10 dus air mineral, 10 dus mi instan, satu dus minyak goreng, enam papan telur, satu dus biskuit Regal, lima kotak biskuit bayi Promina, satu dus pembalut wanita, 10 kaleng sarden daging, 10 kaleng sarden ikan dan 25 kilogram gula pasir.
Senior Manager Dedi Kurniawan mengatakan pengerahan tim merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. PT IMK yang beroperasi di Kalimantan Tengah dan PT PTK di Kalimantan Selatan berada dalam satu grup perusahaan.
Menurut Dedi, setelah gempa terjadi di Flores, perusahaan segera menggerakkan personel untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.
“Yang pertama hadir itu Emergency Response Unit. Kalau memang ada kebutuhan, misalkan evakuasi terhadap korban, tim kami siap. Di samping itu kami memiliki tim kesehatan dan tim CSAR,” kata Dedi.
Pelayanan kesehatan menjadi salah satu fokus karena warga yang tinggal di tenda pengungsian dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Tim menemukan potensi keluhan mulai dari batuk dan pilek, penyakit bawaan, tekanan darah tinggi, kolesterol hingga diare.
Karena itu, tenaga kesehatan membawa obat-obatan sekaligus melakukan pemeriksaan terhadap warga.
“Kami melihat warga yang tinggal di tenda pengungsian rentan mengalami berbagai penyakit. Karena itu kami pantau kondisi mereka dan membawa obat-obatan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Respons kemanusiaan ini juga melibatkan perusahaan lain dalam grup, yakni PT Indexim Coalindo di Kalimantan Timur, PT Bukit Baiduri Energi serta PT Khotai Makmur Insan Abadi di wilayah Samarinda dan Tenggarong.
Total 20 personel dikerahkan dan kemudian dibagi dalam dua tim. Delapan personel bergerak di wilayah Sikka, sementara 12 lainnya ditugaskan menuju Kabupaten Nagekeo.
Palue Masih Menunggu Kondisi Laut
Pulau Palue menjadi salah satu wilayah yang hendak dijangkau tim. Namun, kondisi gelombang laut yang tinggi membuat rencana pelayanan langsung ke pulau tersebut belum dapat dilakukan.
Dedi mengatakan kapal feri yang semula diharapkan dapat membawa tim ke Palue tidak berhasil bersandar akibat kondisi laut.
“Kami sebenarnya ingin sekali ke Pulau Palue. Tetapi kondisi gelombang sangat tinggi. Bahkan feri yang dijadwalkan sandar kemarin tidak bisa sandar. Persoalannya adalah transportasi,” katanya.
Tim tetap membuka peluang menuju Palue apabila cuaca dan kondisi transportasi sudah memungkinkan. Terlebih, perusahaan memperoleh informasi mengenai sembilan keluarga dari Palue yang direncanakan dievakuasi ke Maumere.
Jika evakuasi berlangsung, tim akan berupaya memberikan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi tersebut.
Untuk menghindari tumpang tindih bantuan, tim berkoordinasi dengan Posko Tanggap Darurat dan pemerintah daerah. Setelah dari Nita, pelayanan berikutnya direncanakan menyasar Kecamatan Lela pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Posko Tanggap Darurat. Kami hadir di Kecamatan Nita karena ada pengungsi mandiri yang membutuhkan layanan kesehatan. Besok kami bergeser ke Kecamatan Lela dan sudah berkoordinasi dengan Pak Camat,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, bantuan dalam situasi bencana dapat disalurkan melalui pemerintah maupun diberikan langsung kepada masyarakat. Dalam kegiatan kali ini, tim memilih turun ke lapangan agar kebutuhan warga dapat dilihat secara langsung.
“Tim kami kebetulan memiliki personel untuk membagikan bantuan sekaligus memberikan layanan kesehatan. Jadi kami bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat,” katanya.
Namun, pengerahan tim juga memiliki keterbatasan. Ketersediaan waktu, logistik dan obat-obatan membuat setiap lokasi harus dipilih berdasarkan tingkat kebutuhan.
“Kami tentu memiliki keterbatasan, baik dari sisi waktu, logistik maupun obat-obatan. Kami akan melihat mana yang lebih prioritas. Kami juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka untuk menentukan daerah mana yang akan kami kunjungi,” kata Dedi.
Kehadiran tim relawan perusahaan di tengah warga terdampak menjadi bagian dari upaya tanggap bencana untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar dan menjaga kondisi kesehatan masyarakat selama masa pemulihan pascagempa. **ah



