SIKKA, MUTIARA TIMUR — Rumah itu pernah menjadi tempat Mama Alexia pulang, berlindung, dan membesarkan anak perempuan tunggalnya. Kini, setelah gempa mengguncang Flores, rumah tersebut nyaris tak lagi menyisakan rasa aman.
Mama Alexia, 57 tahun, seorang janda yang tinggal di Dusun Wolowukak, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, harus menghadapi kenyataan pahit: rumahnya mengalami kerusakan parah. Sebagian bangunan roboh, sementara bagian lain sudah tidak layak menjadi tempat berlindung.
Di tengah kondisi itu, Alexia tidak sendiri. Ia hanya memiliki seorang anak perempuan. Keduanya kini memilih tidur sementara di luar rumah karena takut bangunan yang tersisa kembali runtuh.
Bagi seorang ibu yang hidup sebagai janda, kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan. Rumah adalah tempat terakhir untuk merasa aman setelah menjalani hidup dengan segala keterbatasan.
“Kalau malam kami tidur di luar, kaka. Takut masuk rumah karena sudah rusak,” demikian kisah yang menggambarkan beratnya hari-hari yang mereka lalui setelah gempa.
Maria Ernestina Da Rato, anak Alexia, mengatakan bantuan memang telah datang dari sejumlah pihak. Bantuan tersebut antara lain berasal dari Caritas, Yayasan Sudamala Bumi Insani, BNPB, Shoes for Flores, Universitas Nusa Nipa (UNIPA), Kadin, serta komunitas Tionghoa.
Bantuan sembako, kata Maria, sangat berarti bagi warga yang sedang berada dalam situasi sulit. Mereka bersyukur karena masih ada tangan-tangan yang datang membawa kepedulian.
Namun, di balik rasa syukur itu, masih tersimpan satu harapan yang jauh lebih besar: sebuah tempat tinggal yang kembali aman.
“Untuk bantuan yang sudah kami terima, kami berterima kasih. Bantuan itu datang di saat yang tepat. Harapan kami, pemerintah bisa membantu rumah-rumah yang sudah roboh agar kami bisa kembali tinggal dengan layak,” kata Maria.
Di Dusun Wolowukak, luka akibat gempa bukan hanya terlihat pada dinding rumah yang retak atau bangunan yang roboh. Luka itu juga terlihat dari wajah warga yang harus menatap rumahnya sendiri tanpa tahu kapan bisa kembali menempatinya.
Alexia adalah salah satu dari mereka. Sebagai seorang ibu yang telah menjalani hidup sebagai janda dan kini hanya bersama seorang anak perempuan tunggal, ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali memiliki tempat untuk berteduh tempat sederhana yang bisa disebut rumah.
Rumah yang tidak membuatnya takut ketika malam tiba. Rumah yang membuat anak perempuannya bisa tidur tanpa harus mendengar suara angin dari luar.
Dan rumah yang memungkinkan seorang ibu berkata kepada anaknya: “Kita sudah bisa pulang.”
Untuk saat ini, kalimat itu masih menjadi harapan. Di tengah puing-puing rumahnya, Mama Alexia masih menunggu. Bukan hanya bantuan sembako, tetapi bantuan agar rumah yang roboh itu dapat kembali berdiri dan menjadi tempat mereka memulai kehidupan setelah gempa.
Sebab bagi mereka, bantuan terbesar bukan sekadar membuat perut kenyang hari ini, tetapi memberi kembali tempat untuk pulang esok hari. **ah


