SIKKA, MUTIARA TIMUR — Biasanya, laut adalah tempat warga Blatat mencari nafkah. Kini, laut justru menjadi sesuatu yang mereka takuti.
Sebanyak 83 warga dari RT 008/RW 004 dan RT 007/RW 003, Dusun Blatat, Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, belum berani melaut setelah gempa mengguncang wilayah tersebut.
Di kampung pesisir itu, gempa bukan hanya meninggalkan rasa cemas. Ia ikut memukul sumber penghidupan warga. Ketika perahu tak berani meninggalkan pantai, ikan tak lagi menjadi penghasilan dan kebutuhan pangan keluarga.
Dari pendataan yang diterima, terdapat 53 warga di RT 008/RW 004 dan 30 warga di RT 007/RW 003. Mereka kini masih bertahan di darat, menunggu rasa aman kembali sebelum beraktivitas di laut.
Emanuel Nong Endy, mantan Kepala Desa Darat Pantai, mengatakan mayoritas warga setempat memang menggantungkan kehidupan pada hasil laut.
“Kalau penduduk di sini, saat musim sekarang lebih banyak mencari ikan. Mereka saat ini masih takut untuk melaut,” ujar Emanuel.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat warga membutuhkan perhatian pemerintah. Terutama bantuan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama mereka belum berani kembali ke laut.
“Diharapkan ada perhatian pemerintah membantu mereka bahan makanan untuk bertahan hidup sementara mereka tidak ke laut,” katanya.
Bagi warga Blatat, persoalannya kini sederhana tetapi berat: bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga ketika sumber penghasilan harus ditinggalkan karena rasa takut?
Mereka berharap pemerintah tidak berhenti pada pendataan korban terdampak. Bantuan pangan dinilai menjadi kebutuhan nyata bagi warga yang untuk sementara kehilangan akses terhadap sumber penghidupannya.
Sebab, ketika laut masih mereka jauhi, dapur di rumah-rumah warga tetap harus menyala.
Dan di Blatat, 83 warga kini menunggu agar perhatian pemerintah datang sebelum persediaan pangan mereka benar-benar menipis. **ah

