SIKKA, MUTIARA TIMUR – Sebanyak 1.265 warga kini mengungsi di Gelora Samador Maumere setelah gempa mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026). Di tengah suasana darurat, kebutuhan pengungsi perlahan menjadi perhatian, termasuk ketersediaan air bersih dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Salah satu pengungsi, Mama Yuliana, warga Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, mengatakan air bersih menjadi kebutuhan penting bagi warga selama berada di lokasi pengungsian.
“Air bersih sangat kami butuhkan untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari. Kami berharap selama masih berada di pengungsian, kebutuhan ini bisa terus diperhatikan,” ujar Yuliana.
Menurut Yuliana, dengan jumlah pengungsi yang mencapai 1.265 orang, kebutuhan dasar harus mendapat perhatian bersama. Ia berharap penanganan pengungsi tidak hanya berfokus pada evakuasi dan makanan, tetapi juga kenyamanan serta kesehatan warga selama masa darurat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan berbagai pihak yang telah membantu warga terdampak gempa. Namun, menurutnya, kebutuhan air bersih dan MCK perlu terus dijaga seiring masih banyaknya warga yang bertahan di Gelora Samador.
“Kami berterima kasih atas bantuan yang sudah diberikan. Kami hanya berharap air bersih dan MCK juga diperhatikan karena banyak warga yang masih bertahan di sini,” katanya.
Gelora Samador kini bukan sekadar tempat olahraga. Setelah gempa mengguncang Flores, kawasan tersebut berubah menjadi tempat berlindung bagi lebih dari seribu warga yang meninggalkan rumah demi keselamatan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penanganan pascagempa bukan hanya tentang menyelamatkan korban dari reruntuhan. Setelah warga berada di tempat aman, kebutuhan dasar mereka juga harus dipastikan terpenuhi.
Bagi para pengungsi, air bersih mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah kondisi darurat dan kerumunan lebih dari seribu orang, ketersediaannya menjadi kebutuhan yang sangat berarti.
Mama Yuliana dan para pengungsi lainnya kini hanya berharap satu hal: selama mereka belum bisa kembali ke rumah, tempat pengungsian tetap menjadi ruang yang aman, bersih dan layak untuk bertahan. **ah

