KOTA KUPANG – Krisis ketersediaan air bersih di Kota Kupang masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Kondisi tersebut dipaparkan Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang bertema "Iman yang Berakar di Tanah: Ekoteologi dan Budaya Nusa Tenggara Timur", yang digelar di Kampus IAKN Kupang, Kamis (23/7/2026).
Dalam pemaparannya, Isidorus menjelaskan kondisi pelayanan air minum di Kota Kupang, mulai dari rendahnya cakupan layanan, keterbatasan sumber air baku, tingginya kehilangan air pada jaringan distribusi, hingga tantangan pembiayaan yang dihadapi perusahaan daerah dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa cakupan pelayanan air bersih di Kota Kupang masih sangat rendah. Dari total jumlah penduduk, Perumda Air Minum baru mampu melayani sekitar 76.225 jiwa atau 19 persen, sementara sekitar 82 persen masyarakat belum menikmati layanan air perpipaan.
"Jumlah penduduk Kota Kupang yang baru kita layani sekitar 76.225 jiwa atau 19 persen. Ini masih jauh sekali karena sekitar 82 persen penduduk di Kota Kupang belum kita layani air bersih," kata Isidorus.
Ia menjelaskan, keterbatasan sumber air baku menjadi persoalan terbesar yang dihadapi perusahaan. Kebutuhan air masyarakat Kota Kupang mencapai sekitar 79,5 juta meter kubik per tahun, namun produksi air yang mampu dihasilkan hanya sekitar 6,7 juta meter kubik per tahun.
"Artinya kita masih mengalami kekurangan air sekitar 90 persen. Ini tantangan yang sangat besar sehingga membutuhkan kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak ke depan," ujarnya.
Selain keterbatasan produksi, Isidorus menyebut jumlah pelanggan Perumda Air Minum saat ini mencapai sekitar 18.800 sambungan, dengan sekitar 11.700 pelanggan aktif. Sisanya merupakan pelanggan tidak aktif karena berbagai alasan, mulai dari menunggak pembayaran hingga tidak lagi menempati lokasi.
Dari sisi keterjangkauan, ia mengatakan biaya pemasangan sambungan rumah reguler sebesar Rp2,5 juta. Namun melalui program promosi, biaya tersebut dipangkas menjadi Rp1,5 juta agar lebih mudah dijangkau masyarakat.
"Untuk kebutuhan dasar rumah tangga sekitar 15 meter kubik per bulan, pelanggan PDAM hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp75 ribu. Kalau menggunakan air tangki, masyarakat bisa mengeluarkan sekitar Rp210 ribu. Artinya air tangki jauh lebih mahal," jelasnya.
Isidorus juga menegaskan kualitas air Perumda Air Minum lebih terjamin karena setiap bulan dilakukan pengujian laboratorium oleh instansi kesehatan.
"Dari sisi kualitas kita bisa jamin karena setiap bulan dilakukan uji kualitas air. Berbeda dengan air tangki yang tidak selalu melalui pengujian kualitas," katanya.
Meski demikian, ia mengakui pelayanan distribusi air di Kota Kupang belum dapat berlangsung selama 24 jam. Saat ini distribusi dilakukan secara bergilir, ada wilayah yang memperoleh aliran selama 12 jam, 14 jam hingga 16 jam per hari, bahkan ada yang hanya mendapat pasokan beberapa kali dalam seminggu.
"Kita belum bisa melayani 24 jam. Sistem yang kita lakukan masih sistem penggiliran sesuai kapasitas air yang tersedia," ujarnya.
Menurut Isidorus, sumber air baku Perumda Air Minum Kota Kupang saat ini sangat terbatas. Perusahaan hanya mengandalkan beberapa sumber mata air dan sumur bor. Salah satu instalasi bahkan telah enam bulan tidak beroperasi akibat kerusakan pompa yang membutuhkan biaya perbaikan sekitar Rp400 juta.
"Kita sudah enam bulan tidak menggunakan salah satu sumber karena pompa rusak. Untuk memperbaikinya membutuhkan dana sekitar Rp400 juta," ungkapnya.
Ia juga menyoroti tingginya tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) yang masih berada pada kisaran 22 hingga 28 persen akibat jaringan pipa yang telah berusia lebih dari dua dekade.
"Air yang keluar dari instalasi tidak semuanya sampai ke pelanggan karena banyak kebocoran di jaringan pipa yang sudah tua. Itulah sebabnya tekanan air di beberapa wilayah menjadi kecil," jelasnya.
Di sisi lain, tarif air Perumda Air Minum Kota Kupang masih tergolong rendah, yakni sekitar Rp4.000 per meter kubik. Namun kondisi ekonomi masyarakat menyebabkan tunggakan rekening pelanggan masih berada di kisaran Rp5 miliar hingga Rp6 miliar.
"Tarif kita sebenarnya sangat murah, tetapi kondisi ekonomi masyarakat membuat tunggakan rekening air masih cukup tinggi. Ini menjadi tantangan bagi perusahaan untuk terus meningkatkan pelayanan sekaligus menjaga keberlanjutan operasional," tutup Isidorus. **usgo
