![]() |
Refleksi Jumat Agung oleh Marianus Minggo (Pemred mutiara-timur.com) |
Ata serdadu nora Yudas du gois,
Nulung te rimu ra Kantar Hosana,
E’na e’ri tokang reta ai Crus…
Syair dalam bahasa Sikka ini menggambarkan perjalanan menuju taman Getsemani. Di sana ada Yudas, para serdadu, dan kerumunan orang yang sebelumnya bersorak Hosana, namun kini berubah menjadi suara yang menggema: salibkan Dia.
Lirik ini bukan sekadar nyanyian tradisional. Ia adalah kisah iman yang hidup—kisah tentang manusia yang mudah berubah.
Beberapa waktu sebelumnya, mereka mengelu-elukan Yesus: Raja, Putera Daud, Sang Penyelamat. Namun hanya dalam hitungan hari, pujian itu berubah menjadi penolakan. Dari Hosana menjadi Salibkan Dia.
Apa yang berubah? Bukan Yesus. Yang berubah adalah hati manusia. Mereka adalah gambaran manusia yang tidak punya pendirian. Mudah terbawa arus. Cepat terprovokasi oleh kepentingan, ambisi, dan tekanan. Ketika situasi menguntungkan, mereka memuji. Ketika keadaan berubah, mereka pun berbalik arah.
Sungguh miris. Namun sebelum kita menghakimi mereka, Jumat Agung mengajak kita bercermin:
Apakah kita juga seperti itu? Bukankah dalam hidup sehari-hari kita pun sering:
Memuji Tuhan saat diberkati, tetapi mengeluh saat menghadapi salib hidup?
Tampak setia di hadapan banyak orang, tetapi goyah dalam kesendirian?
Mengikuti arus mayoritas, meski hati kecil tahu itu tidak benar?
Kita mungkin tidak ikut berteriak di Yerusalem dua ribu tahun lalu. Tetapi melalui sikap hidup, keputusan, dan pilihan kita, bisa saja kita mengulang teriakan yang sama: E’na e’ri tokang reta ai crus.
Yesus disalibkan bukan hanya oleh paku dan kayu salib, tetapi juga oleh ketidaksetiaan manusia—oleh hati yang plin-plan, oleh iman yang dangkal, oleh keberanian yang mudah runtuh.
Jumat Agung bukan hanya tentang mengenang penderitaan Kristus. Ini adalah panggilan untuk berubah. Untuk kembali kepada hati yang teguh. Untuk berani berdiri dalam kebenaran, meski tidak populer. Untuk setia, meski harus berkorban.
Karena pada akhirnya, pertanyaan itu tetap sama: Hari ini, kita berseru “Hosana”… atau justru “Salibkan Dia”? **go
