Potret Kemiskinan Infrastruktur: Nenek di Sikka Rela Ambil Risiko Demi Nafkah

SIKKA, Mutiara -Timur.com  — Di balik indahnya bentang alam Kabupaten Sikka, tersimpan kisah getir tentang perjuangan hidup yang jauh dari kata layak. Marta Hia (72), seorang warga lanjut usia dari Dusun Lewomudat, Desa Waipaar, Kecamatan Talibura, harus mempertaruhkan keselamatannya setiap hari demi menyambung hidup.

Pagi itu, dengan tubuh yang sudah renta, Marta berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju Dusun Kolit, Desa Ojang. Di pundaknya, tergantung hasil kebun berupa kemiri yang akan ia jual kepada pedagang pengumpul. Perjalanan sejauh kurang lebih dua kilometer itu bukan sekadar rutinitas biasa—melainkan perjuangan yang penuh risiko.

Di tengah perjalanan, Marta harus meniti jembatan darurat yang terbuat dari bambu dan kayu seadanya. Jembatan itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat karena hingga kini belum ada jembatan permanen yang layak sebagai akses penghubung antarwilayah di Kecamatan Talibura.

Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Marta memegang batang bambu di sisi jembatan agar tidak terpeleset. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, nyawanya bisa terancam.

“Saya harus lewat sini supaya bisa jual kemiri. Kalau tidak, saya tidak punya uang,” ujarnya lirih saat ditemui wartawan Mutiara Timur.

Rasa takut jelas tak bisa ia sembunyikan. Namun, keadaan memaksanya untuk terus melangkah.

“Takut pasti ada, tapi ini satu-satunya jalan,” tambahnya.

Kondisi ini menjadi potret nyata keterbatasan infrastruktur yang masih dialami sebagian masyarakat di wilayah pelosok Nusa Tenggara Timur. Jembatan yang seharusnya menjadi sarana penghubung justru berubah menjadi titik rawan yang membahayakan keselamatan warga, terutama kelompok rentan seperti lansia.

Meski demikian, semangat hidup Marta tak pernah surut. Di usianya yang telah melewati tujuh dekade, ia tetap berjuang mandiri, mengandalkan hasil kebun sebagai sumber penghidupan.

Kisah Marta Hia bukan sekadar cerita pribadi, melainkan cerminan realitas sosial yang membutuhkan perhatian serius. Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk membangun jembatan permanen yang aman dan layak, agar masyarakat tidak lagi harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk mencari nafkah.

Di tengah derasnya pembangunan di berbagai daerah, suara dari pelosok seperti di Desa Waipaar seolah menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan—mewujudkan keadilan infrastruktur bagi seluruh rakyat Indonesia. ** arishalilintar 

Iklan

Iklan