Kerusakan jalan tersebut memicu kekhawatiran warga karena akses vital bagi mobilitas masyarakat dan distribusi ekonomi di wilayah selatan Kabupaten Sikka itu semakin sempit dan berbahaya untuk dilalui.
Paulus Nong Wil, warga Desa Wolonterang, mengatakan kondisi jalan Karagogo sebenarnya sudah pernah mengalami kerusakan parah hingga putus total sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, masyarakat setempat dari Desa Wolonterang dan Pelibaler secara swadaya bergotong royong memperbaikinya agar bisa kembali digunakan oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat.
“Jalan ini sudah pernah putus total sekitar tiga tahun lalu. Atas inisiatif masyarakat dari Wolonterang dan Pelibaler, kami perbaiki bersama sehingga dua tahun terakhir bisa dilalui lagi. Sekarang kondisinya kembali rusak dan hampir putus,” kata Paulus Nong Wil kepada *Mutiara Timur*, Sabtu (14/3/2026).
Ia menjelaskan, setiap musim hujan kawasan tersebut sangat rentan longsor. Material batu, pasir, dan kerikil kerap runtuh dari tebing dan menumpuk di dasar jembatan. Bahkan, pernah terjadi runtuhan batu yang menyebabkan korban luka.
Menurut Paulus, jembatan di ruas Karagogo diperkirakan dibangun sekitar tahun 1980-an. Usia konstruksi yang sudah tua membuatnya semakin rapuh ketika dihantam badai dan gelombang laut yang besar, terlebih jika disertai curah hujan tinggi.
Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Sikka segera mengambil langkah konkret. Paulus bahkan mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan pembangunan infrastruktur yang lebih kuat, seperti dermaga mini, karena menurutnya konstruksi jembatan plat tidak akan mampu bertahan lama menghadapi kondisi alam di kawasan tersebut.
“Kalau ombak besar datang, semua pengguna jalan, baik kendaraan maupun pejalan kaki, harus antre menunggu ombak reda dulu baru bisa lewat. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.
Paulus menegaskan, pemerintah perlu menjadikan pembangunan jembatan Karagogo sebagai prioritas agar tidak menimbulkan korban jiwa di kemudian hari.
“Jadi saya minta keseriusan perhatian pemerintah agar pembangunan jembatan Karagogo menjadi prioritas. Jangan sampai ada korban baru pemerintah bergerak,” tegasnya.
Kondisi darurat ini juga mendapat sorotan dari wakil rakyat. Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Fraksi PSI, *Feliks Segon*, menilai ruas jalan Karagogo merupakan jalur vital yang menghubungkan tiga kecamatan sekaligus.
Menurut Feliks, pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah penanganan karena kerusakan jalan sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.
“Kita akan terus memperjuangkan perbaikan jalan ini dalam segala keterbatasan anggaran yang ada. Ini kondisi darurat karena jalur ini menghubungkan Kecamatan Bola, Doreng, dan Mapitara,” kata Feliks.
Ia menegaskan, jika tidak segera diperbaiki, ruas jalan Karagogo berpotensi putus total dalam waktu dekat.
“Kalau tidak segera diperbaiki, jalan ini bisa putus. Kondisinya sudah sangat parah. Kita saja lewat di ruas itu harus ekstra hati-hati karena jalan semakin sempit akibat hempasan ombak. Kalau lengah sedikit bisa jatuh ke laut,” ujarnya.
Feliks juga menyoroti tidak adanya jalur alternatif bagi masyarakat yang bergantung pada akses tersebut. Karena itu, ia mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah cepat sebelum kondisi semakin memburuk.
“Ini jalur utama dan tidak ada alternatif lain. Pemerintah harus serius dan segera mengerjakan perbaikan secepat mungkin,” tegasnya.
Desakan warga dan wakil rakyat ini sekaligus menjadi peringatan bagi Pemerintah Kabupaten Sikka agar tidak menunggu hingga akses tersebut benar-benar putus total. Jika hal itu terjadi, tiga kecamatan di wilayah selatan Sikka berpotensi terisolasi dan aktivitas ekonomi masyarakat akan lumpuh. **arishalilintar


