USAID MOMENTUM Hadiri Musrenbang Prov. NTT Untuk Kawal dan Advokasi KIA Belum Selesai

Dr. Esty Febriani Mkes, Deputy Chief of Party USAID Momentum

Mutiaratimur.net // KEMATIAN Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu isue strategis dalam program pemerintah di Provinsi NTT kedepan, disamping isue strategis Stunting dan Kemiskinan ektrim. Pada kesempatan inilah USAID Momentum pun hadir untuk mengawal isue KIA yang belum tuntas di Provinsi ini.

Demikian Dr. Esty Febriani, Mkes dari MOMENTUM memberikan keterangannya kepada media Senin (25/4) di hotel Aston selesainya giat Musrenbang Provinsi NTT.

"Kegiatan musrenbang NTT ini merupakan  tahapan yang belum berakhir, dan  USAID MOMENTUM  memanfaatkan peluang ini untuk membangun kesadaran bahwa kematian ibu dan anak di NTT masih ada. Kehadiran kita untuk advokasi  pemerintah bahwa kematian ibu dan anak isu yang belum selesai," ungkap Dr. Esti Deputy Chief of Party Momentum itu.

 Karena malasah KIA itu belum selesai sehingga USAID Momentum merasa perlu untuk kawal terus termasuk sampai  penentuan anggaran pada perencanaan dan   juga akan terus mengikuti tahapan selanjutnya,  menurut Esty itu. 

"Kita akan terus hadir mengikuti kegiatan tahapan-tahapan berikutnya, seperti Rakorda sehingga pemerintah punya perhatian terhadap masalah kematian ibu dan bayi  bisa ditangani untuk  penurunan angka Kematian Ibu dan bayi baru lahir," urainya.

Terhadap pernyataan Gubernur NTT bahwa dalam sebuah perencanaan soal kematian ibu dan bayi seharusnya angka nol (0) Dr. Esty merespon,  bahwa angka kematian 0 itu artinya bagaimana caranya harus menghindari terhadap penanganan kematian kehamilan ibu dan anak. 

"Angka kematian 0 adalah angka kematian yang bisa kita hindarkan. Misalnya, pertama, kematian karena kelalaian petugas itu perlu dihindari tak perlu terjadi. Kalau petugasnya masih terbatas dari aspek  kemampuan dan lainnya, maka kapasitasnya kita perkuatkan. Kedua, kematian karena keterlambatan dirujuk itu yang juga akan kita atasi. Ketiga, kearena masyarakat terlambat merujuk ke faskes (fasilitas kesehatan- red), kita akan berusaha membangun kesadaran masyarakat untuk peduli bertindak lebih cepat merujuk ke faskes atau rumah sakit. Itu adalah tiga faktor yang perlu menjadi perhatian kita dalam menekan angka kematian ibu hamil melahirkan dan bayi, Jadi target kita adalah mencegah kematian yang seharusnya tidak terjadi. Itulah target nol (0) kematian ibu dan anak."

Mariam Selvy aktivis Program Mama Boi Kab.Rote Ndao dan Scolastika C. Conie aktivis Program 2H2 Center Kabupaten Flores Timur

Sementara itu aktivis peduli kehamilan ibu dan bayi dari Rote Ndao,  Mariam  Selvy dengan program rujukan inisiatif kebijakan lokal yang dikenal dengan Mama Boi kepada media seusainya musrenbang mengatakan, selepas kegiatan ini Mama Boi akan memperkuat sistem kembali sehingga masalah kematian ibu dan anak di Rote Ndao dapat terkendalikan.

"Mama Boi tidak sendirian dalam melaksanaka upaya menurunkan angka KIA,  tetapi melibatkan banyak sektor tentunya.Setelah ini kami akan melakukan kegiatan koordinasi pertemuan-pertemuan dan membuat perencanaan perjalanan ke depan yang mungkin bisa dilakukan dalam mengatasi masalah kematian ibu dan anak,"ujar Mariam.

Perlu diketahui bahwa Mama Boi selama ini memang sudah sangat membantu para bidan dalam hal  kelahiran ibu hamil dan anak baru lahir.

Karena itu Mariam Selvy sebagai orang yang bekerja dalam program Mama Boy, mengharapkan kepada pemerintah kalau boleh dapatnya membantu dalam menekan angka kematian  ibu hamil dan anak di Rote Ndao sekecil mungkin bahkan menolkannya.

Soal perhatian dan dukungan Pemerintah nampaknya sangat baik dan ada harapan program Mama  Boi akan terus berjalan.

"Untuk saat ini kami sudah mendapat dukungan pemerintah untuk membuat rumah tunggu dan kemudian akan ada pelatihan-pelatihan bagi tenaga poned dan ponek. Ini juga sudah dimasukkan dalam perencanaan anggaran oleh Pemerintah Kabupaten Rote Ndao," tutur Mariam.

Apolonia Corebima, SE, MSi., Kepala Bappeitbangda Kabupaten Flores Timur

Selanjutnya Apolonia  Corebima, SE, MSi., Kepala Bappelitbangda Kabupaten Flores Timur mengatakan, Program 2H2 Center di Flores Timur merupakan program inovatif yang sudah berada 11 tahun 4 bulan tujuan program ini adalah untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi.

"Dalam dokumen perencanaan pemerintah daerah, baik dalam RPJM maupun dalam LKPD AKI ( angka kematian ibu-red)  dan AKB (angka kematian Bayi -red) menjadi indikator utama perencanaan pemerintah Kabupaten Flores Timur. Sehingga program penurunan angka kematian ibu dan anak menjadi program kesehatan  yang sentral karena sangat inovasitif untuk penekanan angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Flores Timur," ungkap Kepala Bappelitbangda Kabupaten Flores Timur itu.

Pemerintah  Kabupaten Flores Timur, menurut Apolonia tetap mendukung program 2H2 Center dengan menyiapkan anggaran, dukungan terhadap tenaga medis dan juga rumah tunggu kebutuhan ibu hamil dan ibu pasca ibu hamil melahirkan, juga rumah tunggu untuk keluarga yang menjaga ibu melahirkan dan pasca di rumah sakit potensi Flores Timur. Rumah tunggu di Flores Timur pada Puskesmas ada 17 yang sudah ada dan juga ada di rumah sakit di Kabupaten.

Selain rumah tunggu di rumah sakit atau puskesmas juga ada makanan minuman disiapkan untuk keluarga yang menjaga, semuanya dibiayai oleh pemerintah kabupaten Flores Timur. 

"Pemerintah Flotim sangat apresiasi terhadap 2H2 Center yang hadir dan telah membantu masalah kelahiran bayi dan kehamilan ibu, sehingga dalam hal penekanan angka kematian dan sangat terbantu. Karena itu pemerintah mengalokasikan anggaran tidak hanya 10%, tetapi di Flores Timur sudah sampai 20% untuk ibu hamil dan bayi yang dilahirkan. Itu sudah termasuk reward terhadap  nakes (tenaga kesehatan-red) di dalamnya," jelasnya mengakhiri.*(go)

Iklan

Iklan