Pembelajaran dari Bitauni

Isidorus Lilijawa 

Perseteruan antara sang sastrawan (F) dan pastor (A) yang melibatkan kaca jendela dengan lokus SMK Bitauni - TTU beberapa hari lalu, akhirnya viral dan booming. Untuk yang punya akun youtube tentu ada penambahan jumlah subsciber, like dan kuantitas tontonan. Yang menulis status di FB perihal itu kebanjiran like dan comment. Yang menulis catatan-catatan lepas kebanjiran pujian. Pertanyaan saya, seberapa jauh kita dari Bitauni? Seberapa dekat kita dengan F dan A itu? Jika kita jauh, dengan teropong apa kita melihatnya? Jika kita mengenal dekat mereka, dengan citarasa apa kita menguliti mereka? Jika kita tidak jauh pun dekat, dengan rempah-rempah apa kita membumbui peristiwa itu?

Dalam pencermatan saya, persoalan di Bitauni itu satu hal tetapi memindahkan persoalan itu ke medan yang lebih luas di sosial media adalah hal lain tetapi saling berkaitan. Sebenarnya, persoalan antara si F dan A sudah jelas. F dilaporkan ke polisi karena merusak fasilitas sekolah. F tidak terima, si A yang bermasalah dengan perempuan dipindahkan ke tempat itu. F minta agar keuskupan bersikap terhadap si A. Persoalannya gamblang. Sekarang tinggal kita menunggu bagaimana tindak lanjut persoalan ini di kepolisian dan bagaimana keuskupan menyikapi persoalan si A. So, wait and see.

Tetapi pertarungan di sosial media terus berlanjut. Dengan takaran jarak yabg beragam ukurannya dari Bitauni, para netizen memposisikan kuda-kuda masing-masing. Ada yang pro si F. Ada yang kontra F. Ada yg dukung si A. Ada yang kontra A. Persoalan sudah ditarik jauh dari Bitauni ke medan sosial media. Nah, dalam pertempuran itu energi negatif berhamburan. Orang-orang lalu saling menjadi hakim gereja dan hakim pengadilan satu sama lain. Kata-kata kotor, ujaran kebencian berseliweran. Dengan teropong dan kacamata yang berjarak dari Bitauni, masing-masing pihak tampil sebagai apologet (pembela) bagi dukungannya masing-masing. Perseteruan di Bitauni tidak seseru di sosial media. Analasis tak berimbang muncul. Kisah-kisah masa lalu para pihak diangkat dan diungkit. Ketidaksukaan terhadap kaum tertahbis dimuntahkan. Alergi terhadap tukang kritik dilampiaskan. Kita ternyata menjadi sangat emosional dan sensitif. Rasionalitas memudar. Pertanyaan saya, siapakah kita dalam pusaran persoalan F dan A? 

Pertengkaran kita, sinisme kita, ujaran kebencian kita, provokasi kita di sosial media sama sekali tidak menyelesaikan persoalan itu. Malah kita hanya membuang-buang energi positif dan melestarikan gairah energi negatif di antara kita. Karena persoalan itu, solidaritas dan soliditas kita jadi renggang. Padahal solidaritas kita sudah babak belur dihajar covid. Tetapi kita malah lebih suka jadi covid bagi satu sama lain. Substansi persoalan yang kita tidak tahu duduk berdirinya seperti apa, kita kembangkan sesuai interpretasi terbatas kita. Bahasa-bahasa kita sangat plastis, penuh bumbu dan terkesan vulgar bombastis. Mengapa kita tidak lebih bijak, tidak memviralkan postingan-postingan penuh merica atau gula itu? Mengapa kita tidak bisa menahan gejolak emosi dan mengganjal kata-kata tak sedap itu? Mengapa kita jadinya lebih sangar dari hakim moral dan lebih kejam dari hakim pengadilan? Mungkin saja, persoalan yang tampak itu hanya kulit luar. Maka anda dan saya harus menemukan isi dalamnya. Bisa saja soal di Bitauni itu hanya secuil dari panjangnya kisah-kisah sebelum itu. Hal-hal ini tidak bisa kita dapat dengan hiruk pikuk di sosial media. Dalam ketenangan dan keheningan, acapkali jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan kita muncul.

Anda dan saya, kita, mungkin dekat atau bahkan jauh dari Bitauni. Kita bukan siapa-siapanya mereka. Jika kita domba, maka jadilah domba yang tahu diri. Tak harus berubah jadi kambing liar. Jika kita gembala, maka jadilah gembala yang tahu status. Jangan gembala yang mengakrabi serigala. Karena kita jauh dari Bitauni, maka tugas kita ada dua. Pertama, jika anda dan saya mendukung dan meneguhkan A sebagai kaum tertahbis, maka jagalah pastor, imam di tempatmu masing-masing. Jaga mereka agar tidak jatuh dalam pencobaan. Mereka itu manusia lemah. Kapan saja bisa terjatuh. Ingatkan mereka, tegurlah mereka. Kaum tertahbis bukan superman. Jangan pula membuat pencobaan-pencobaan bagi mereka. Mereka imam Tuhan tetapi mereka berasal dari antara kita. Jagalah kesucian para imam Tuhan itu termasuk dalam pola pergaulannya dengan kaum hawa. Berilah energi positifmu untuk meneguhkan jalan panggilan kaum tertahbis, daripada memelihara energi negatifmu dalam postingan-postingan di sosial media. Kedua, jika anda, kita mendukung si F, maka anda mesti menyuburkan daya kritis untuk menemukan kebenaran. Beranilah bersuara kritis di tengah berbagai problem sosial saat ini. Berjuanglah mencari kebenaran dengan cara-cara santun dan bermartabat. Termasuk bila anda melihat ada yang tidak beres, ada yang kurang berkenan dari kaum tertahbis, tegurlah mereka, ingatkan mereka. Kita akan sangat berdosa bila kita mengetahui suatu perkara yang melibatkan kaum tertahbis kita tetapi kita tidak melakukan apa-apa dan ketika jadi soal, kita tampil seperti juru kampanye yang berkoar-koar di sosial media. Bila anda, kita mau jadi nabi, jadilah nabi di dunia nyata. Jangan bersembunyi dalam kemayaan sosial media. Bila anda, kita mendukung F dan A, tugas kita adalah mendoakan mereka. Tidak cukup kita hanya minta didoakan. Lalu, cooling down-lah dari sosial media. Berilah kesempatan kepada pihak keuskupan, pihak kepolisian untuk membereskan persoalan ini. Kita harus percaya, keuskupan punya cara terbaik untuk memberikan terapi bagi para imamnya yang bermasalah. Hukum mesti ditegakkan, humanitas tetap dijunjung tinggi. Kita juga percaya, polisi terus berproses dalam tata cara hukum positif untuk siapapun yang melanggar hukum dan membuat ketidaknyamanan.  So, wait and see. Karena kita adalah gereja, anda dan saya, maka harapan kita persoalan ini mesti berujung dalam semangat damai, memberi maaf dan meminta maaf, sambil mengoreksi yang salah dan menata yang belum benar. Mari kita satukan energi positif kita untuk menjalani hidup di masa susah ini. Jangan buang-buang energi oleh suatu persoalan yang kita teropong dari jauh dengan kacamata yang kita pakai suka-suka itu. Bitauni memang jauh, tetapi sejauh doa, ia dekat. Bitauni memang jauh, namun dlm semangat pertobatan, ia dekat. Bitauni itu di sana. Kita di sini tumbuhkan harapan positif, buka diri untuk belajar dan ambil hikmah banyak-banyak dari persoalan ini. Dengan itu, seberapa berjaraknya kita dari Bitauni, kita tetap memiliki frekuensi dan gelombang spirit yg sama. Bahwa pertobatan yg nyata dari A dan F, juga dari kita-kita jauh lebih berguna dari seribu alasan, argumentasi, verifikasi hingga falsifikasi kita. Ini bukan kasus mereka. Ini kasus kita. Mari bangkit dan berbenah bersama karena anda dan saya, kita adalah gembala dan domba, kita adalah gereja🙏🙏***(iso)

Iklan

Iklan