SIKKA, MUTIARA TIMUR - Berbeda dengan desa lain yang menjerit kekurangan air, Desa Mahe Tanah, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, justru berlimpah air. Airnya ada, debitnya besar, dan mengalir stabil sepanjang musim.
Ironisnya, lebih dari 1000 jiwa di desa itu tetap kesulitan mendapatkan air bersih. Bukan karena alam pelit, tapi karena tak ada bak penampung untuk menampungnya.
Ketua BPD Desa Mahe Tanah, Servianus Kletus, mengungkapkan kenyataan itu. Menurut Servianus, selama ini upaya pemerintah desa bukan dalam bentuk sambungan langsung ke rumah warga, melainkan membangun beberapa titik kran umum dari mata air agar bisa diakses bersama. Namun semua titik kran itu kini rusak dan tidak lagi berfungsi.
"Upaya pemerintah desa Mahe Tanah bukan sambungan rumah, ada buat beberapa titik kran mata air, tapi sementara rusak semuanya," jelas Servianus.
Padahal, desa ini dianugerahi dua sumber mata air potensial dengan debit yang sangat bagus, yakni Mata Air Tuna Duet dan Wair Unu Puat. Lokasinya pun tidak jauh, hanya sekitar 1 kilometer dari permukiman warga di Dusun Hebar. Airnya, kata warga, melimpah ruah. Persoalannya hanya satu: tidak ada bak induk.
"Jarak dari dua mata air tidak jauh dari rumah warga, kurang lebih 1 KM. Kalau sudah ada satu bak induk lagi pasti bisa akses ke semua warga," ujarnya.
"Kami bukan krisis air, cuma persoalan wadah atau bak dan jaringan pipanisasi. Kami akan upayakan KPS PAM kapasitas 300 liter, yang bagus 3 unit, yang menjadi persoalan bak penampungannya, bak indukannya. Kalau bak induk sudah ada, berarti Hebar airnya limpa ruah," tegas Servianus.
Desa Mahe Tanah dihuni sekitar 300 KK dengan jumlah jiwa lebih dari 1000 orang. Selama ini pemerintah desa sudah berupaya, namun anggaran terbatas. Dana fisik desa hanya sekitar Rp 200 juta, jauh dari cukup untuk membangun bak penampung induk dan jaringan pipanisasi ke rumah warga.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Desa Mahe Tanah, Rikarson Eduardus Toa, mengatakan pemerintah desa sudah menganggarkan pembangunan bak penampung baru.
"Rencana pemerintah desa sudah dianggarkan, yakni pembangunan satu unit Bak Captering atau Bak Penangkap Mata Air dan satu unit bak induk, sekaligus dengan pipanisasi dari bak induk baru ke bak induk lama," jelas Rikarson.
Dijelaskan Rikarson, saat ini di desa sudah ada satu bak induk. Pemerintah desa merencanakan pembangunan satu bak induk lagi.
"Posisi sekarang sudah ada satu bak induk. Kita rencanakan bangun satu bak induk lagi, nanti pipanya kita sambung dari bak induk baru ke bak induk lama. Rencana pembangunan satu unit bak captering dengan bak induk ini kita kondisikan dengan keuangan desa," ujarnya.
Namun untuk perluasan jaringan ke rumah warga, pihaknya mengakui belum ada anggaran.
"Untuk sementara belum ada anggaran pipanisasi sambungan rumah warga (SR) untuk perluasan jaringan pipa," tutupnya.
Keluhan yang sama juga disuarakan warga Dusun Hebar, Maria Anyela. Ia menyebut debit air sangat mencukupi, namun ketiadaan bak dan jaringan pipa memaksa warga harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer ke Mata Air Tuna Duet hanya untuk mendapatkan air minum bersih.
Kini, warga Mahe Tanah hanya menanti uluran tangan pemerintah daerah. Mereka tidak meminta air, karena air sudah ada. Mereka hanya butuh wadah agar air yang melimpah itu bisa mengalir sampai ke dapur-dapur mereka. **Arishalilintar

