SIKKA, MUTIARA TIMUR — Kunjungan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu, 16 September 2026, meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat setempat.
Bukan hanya karena seorang mantan kepala negara kembali menginjakkan kaki di Tana Lu’a—sebutan masyarakat untuk Pulau Palue—tetapi juga karena Jokowi memilih bermalam bersama warga di posko pengungsian di Dusun Cawalo, Desa Rokirole, setelah melihat langsung kondisi penyintas gempa.
Bagi Yoseph Karmanto Eri, anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Fraksi PKB sekaligus putra Palue, kehadiran Jokowi merupakan momentum penting bagi masa depan kampung halamannya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Jokowi yang telah datang langsung ke Palue dan tinggal bersama masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa bumi.
“Sebagai anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Fraksi PKB dan sebagai putra Palue, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia dua periode, 2014–2019 dan 2019–2024, yang telah menginjakkan kaki di Tana Lu’a dan tinggal bersama warga semalam di posko,” ujar Manto.
Menurut dia, kunjungan tersebut hendaknya tidak berhenti sebagai sebuah kunjungan kemanusiaan. Ia berharap kehadiran Jokowi dapat menjadi pemantik perhatian yang lebih luas terhadap proses pemulihan Palue.
“Semoga kehadiran beliau ini mengundang, memberi makna, sekaligus memanggil semua pejuang kemanusiaan untuk mengambil kebijakan-kebijakan kemanusiaan yang benar-benar dapat membangun Palue,” katanya.
Manto Eri menyebut kebutuhan masyarakat Palue pascagempa bukan perkara kecil. Kerusakan menyentuh berbagai fasilitas dasar yang menjadi penopang kehidupan warga, mulai dari rumah, akses jalan, sarana air bersih, bak penampung air minum hingga dermaga.
Karena itu, menurut dia, pemulihan Palue membutuhkan kerja panjang dan keberpihakan yang nyata.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya rumah yang kembali berdiri. Jalan harus dibangun, fasilitas air bersih harus dipulihkan, bak-bak air yang rusak harus diperbaiki, begitu juga dermaga. Semua ini menjadi kebutuhan dasar masyarakat Palue,” ujarnya.
Ia mengaku bangga melihat Jokowi datang langsung ke pulau tersebut, terutama karena kunjungan dilakukan dengan cara yang dekat dengan masyarakat.
“Sebagai putra daerah, saya bangga dan berterima kasih kepada Bapak mantan Presiden Jokowi yang dengan senang hati datang ke Pulau Palue. Beliau melihat sendiri bagaimana masyarakat hidup dan bertahan setelah bencana,” kata manto.
Menurut Manto Eri, kedatangan Jokowi seharusnya menjadi pengingat bahwa Palue tidak boleh dilupakan setelah perhatian publik terhadap bencana mulai mereda.
“Kalau dulu, saat beliau masih menjadi presiden, datang ke Palue, mungkin banyak persoalan sudah bisa dituntaskan. Tetapi tidak apa-apa. Belum terlambat. Masih ada jalan panjang yang bisa diperjuangkan untuk Tana Lu’a,” katanya.
Kunjungan Jokowi ke Palue berlangsung setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Di Palue, Jokowi meninjau sejumlah lokasi terdampak, berdialog dengan warga, melihat rumah yang rusak, menyerahkan bantuan, serta bermalam di posko pengungsian.
Bagi masyarakat Palue, kehadiran tersebut kini menyisakan pekerjaan yang jauh lebih besar: memastikan perhatian terhadap Tana Lu’a tidak berhenti ketika rombongan meninggalkan pulau.
Sebab setelah gempa berlalu, yang tersisa bukan hanya reruntuhan bangunan, tetapi juga kebutuhan untuk membangun kembali kehidupan warga—rumah, jalan, air bersih, fasilitas publik dan akses menuju pulau.
Dan bagi Manto Eri, harapan itu kini diletakkan pada satu pesan sederhana: kunjungan kemanusiaan harus berlanjut menjadi gerakan kemanusiaan. **usgo
