SIKKA, MUTIARA TIMUR – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Guncangan dahsyat itu tidak hanya menyisakan kepanikan, tetapi juga meninggalkan luka nyata pada rumah-rumah warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sikka.
Tiga hari setelah gempa utama, sebagian warga masih berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih berat: rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini berubah menjadi bangunan rapuh yang sewaktu-waktu dapat membahayakan penghuninya. Di Wolowukak, Desa Iligai, kondisi itu terlihat jelas.
Dinding rumah roboh. Kayu-kayu penyangga patah dan berserakan. Atap masih bertahan, tetapi sebagian struktur bangunan tampak telah kehilangan kekuatannya. Di halaman, puing bercampur tanah dan barang-barang rumah tangga yang tersisa.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi sebuah keluarga kini justru menjadi sumber kecemasan.
Seorang warga yang berada di lokasi mengatakan, sejak gempa 15 Agustus, bantuan maupun perhatian pemerintah belum dirasakan di wilayah tersebut.
“Sejak 15 Agustus belum ada bantuan dan perhatian dari pemerintah,” ujarnya.
Nada yang sama datang dari wilayah Koting. Di Dusun Wajongaur, RT 006/RW 003, Desa Koting B, sejumlah warga dilaporkan terdampak gempa. Mereka antara lain Agustina Dua Bunga, Antonius Tarsisius yang tercatat di RT 007/RW 004, serta Agustinus Robinson.
Sementara di Dusun Baolokan, Desa Koting B, terdapat Robertus Donatus dari RT 009 yang juga dilaporkan terdampak.
Bukan sekadar retakan pada dinding yang menjadi persoalan. Dari kondisi rumah yang terlihat di lokasi, sejumlah bangunan mengalami kerusakan pada bagian dinding, rangka kayu, serta struktur penyangga. Sebagian warga harus menghadapi rumah yang tidak lagi memberikan rasa aman.
Di tengah kondisi itu, warga tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya berharap pemerintah datang melihat keadaan mereka secara langsung.
“Semoga pemerintah memberi bantuan karena kondisi warga yang terdampak sangat memprihatinkan. Kiranya bantuan dapat tiba dan merata bagi semua warga yang terdampak,” kata warga tersebut.
Harapan itu menjadi penting karena gempa tidak berhenti pada saat tanah berhenti berguncang. Bagi warga yang rumahnya rusak, bencana terus terasa setiap kali malam tiba, ketika mereka harus memikirkan tempat tidur, keselamatan keluarga, makanan, dan bagaimana memperbaiki rumah yang sudah tidak lagi utuh.
BMKG mencatat gempa utama pada 15 Agustus tersebut berkekuatan M7,7 dan memicu ribuan gempa susulan. Hingga 18 Agustus pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 2.119 gempa susulan dengan magnitudo M1,3 hingga M6,2. Karena itu, warga berharap penanganan pascagempa tidak berhenti pada pendataan.
Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Sikka bersama pemerintah desa, kecamatan, serta pihak terkait segera memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang rumahnya rusak dan kehidupannya terdampak. Sebab bagi mereka, tiga hari setelah gempa bukan berarti bencana telah berakhir.
Gempa mungkin telah berlalu, tetapi bagi warga yang rumahnya nyaris runtuh, rasa takut masih tinggal di sana. Dan di antara puing-puing rumah yang tersisa, mereka masih menyimpan satu harapan sederhana: pemerintah datang, melihat, membantu, dan memastikan tidak ada satu pun warga terdampak yang merasa ditinggalkan. **ah


