![]() | |
|
Festival budaya tersebut berlangsung selama tiga hari, 20–22 Agustus 2026, dengan melibatkan masyarakat dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak sekolah dasar, SMP, SMA hingga masyarakat umum.
Lurah Penfui, Fransisco Dugis, mengatakan festival budaya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kekayaan budaya sekaligus membangun semangat kebersamaan dan gotong royong.
“Harapannya semoga dengan kegiatan malam hari ini membangkitkan semangat kebersamaan, gotong royong, cinta tanah air, dan tidak kalah pentingnya membangkitkan semangat mama-mama pelaku UMKM,” ujar Fransisco kepada awak media, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, pembukaan festival diisi dengan partisipasi masyarakat secara penuh, termasuk penampilan anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan. Khusus pada pembukaan, Kelurahan Penfui menampilkan budaya Rote sebagai tema utama.
“Untuk hari ini yang diangkat adalah etnis Rote. Kita full dengan Rote,” katanya.
Sementara pada hari berikutnya, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan dan pertunjukan, di antaranya fashion show anak-anak, vocal group serta tarian kreasi antar-RW.
Fransisco juga mengungkapkan bahwa sebenarnya terdapat rencana kolaborasi dengan personel TNI Angkatan Udara dalam festival tahun ini. Bahkan, personel TNI AU telah menyiapkan penampilan tarian untuk memeriahkan acara.
Namun, rencana tersebut batal terlaksana karena sebagian personel harus dikerahkan untuk membantu penanganan bencana gempa bumi di Flores.
“Memang rencananya ada kolaborasi dengan TNI Angkatan Udara. Mereka bahkan sudah menyiapkan suatu tarian. Tetapi karena semua personelnya didorong ke Flores, sehingga mereka tidak bisa hadir di sini,” jelasnya.
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Penfui, Karolus Donggo, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan syukur sekaligus bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, festival budaya tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan, melestarikan dan mengembangkan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kegiatan ini merupakan sarana untuk memperkenalkan, melestarikan dan mengembangkan budaya lokal sekaligus mempererat tali persaudaraan dan persamaan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Karolus.
Ia menyebutkan, festival tersebut memiliki sejumlah tujuan, antara lain meningkatkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme masyarakat, melestarikan budaya daerah, meningkatkan kebersamaan dan gotong royong, serta memberikan ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk menampilkan kreativitas dan potensi seni budaya.
Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, pemuda dan berbagai pihak lainnya dalam mendukung pembangunan di Kelurahan Penfui.
Rangkaian kegiatan festival meliputi festival budaya, pertunjukan seni dan budaya serta berbagai pertandingan dan perlombaan. Seluruh kegiatan melibatkan masyarakat dari berbagai RT/RW, kelompok masyarakat, pemuda dan anak-anak.
Karolus mengatakan, panitia mendapat dukungan dari Pemerintah Kelurahan Penfui, LPM, RT/RW, Karang Taruna, tokoh masyarakat, tokoh agama serta berbagai pihak yang terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Pada kesempatan tersebut, Karolus juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Kupang yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat Kelurahan Penfui.
Ia berharap Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Penfui dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat keberagaman budaya sekaligus memperkuat persaudaraan.
Dengan mengangkat budaya Rote pada pembukaan tahun ini, Kelurahan Penfui menunjukkan bahwa keberagaman etnis bukan sekadar identitas, tetapi juga kekuatan untuk membangun kebersamaan di tengah masyarakat Kota Kupang. **usgo





