SIKKA, MUTIARA TIMUR — Penanganan pengungsi korban gempa di Gelora Samador Maumere mulai diarahkan pada pendataan kelompok rentan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.
Hal itu disampaikan Bung Sila, relawan lokal Maumere, saat bersama tim melakukan pemantauan dan pendataan pengungsi di lokasi tersebut, Senin (17/8/2026).
Bung Sila mengatakan, timnya datang terlebih dahulu untuk melihat kondisi pengungsi dan memetakan kebutuhan sebelum menentukan bentuk bantuan berikutnya. Dalam kunjungan itu, relawan membawa makanan ringan berupa biskuit dan air mineral kemasan.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan kebutuhan pengungsi masih cukup besar. Menurut Bung Sila, sejumlah warga mengalami kesulitan mendapatkan air minum. Karena kondisi darurat, sebagian bantuan bahkan langsung diberikan kepada warga tanpa menunggu proses distribusi melalui posko induk.
“Fokus kami pertama mendata dan melihat kondisi warga. Setelah itu baru kami tentukan bantuan apa yang paling dibutuhkan,” ujar Bung Sila.
Ia menyebut pendataan kelompok rentan menjadi perhatian penting. Setiap titik pengungsian, kata dia, idealnya memiliki data yang jelas mengenai jumlah bayi dan balita, ibu menyusui, lansia serta warga yang sedang sakit.
Dari pemantauan relawan, masih ditemukan kebutuhan mendesak, termasuk popok bagi lansia dan fasilitas pendukung bagi kelompok rentan. Sebagian warga bahkan menggunakan terpal yang dibawa dari rumah untuk membuat tempat berteduh sementara di kawasan Gelora Samador.
Bung Sila juga menyoroti kondisi pengungsian yang berada di ruang terbuka. Cuaca panas, keterbatasan air minum dan ukuran tenda yang terbatas dinilai perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi bayi, balita, lansia dan ibu menyusui.
Di tengah situasi tersebut, ia mengapresiasi koordinasi pemerintah dan pihak terkait dalam merespons bencana. Namun, menurutnya, penguatan pendataan dan teknis distribusi di lapangan masih perlu dilakukan agar tidak ada kelompok pengungsi yang terlewat.
Aliansi yang terlihat dalam kegiatan tersebut antara lain Islamic Relief Indonesia, YPPS dan FPRB Flores Timur melalui program East Nusa Tenggara Emergency Response Agustus 2026.
“Kami datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi ingin memastikan siapa yang paling membutuhkan dan apa kebutuhannya. Dari data dan kondisi di lapangan itu, bantuan berikutnya bisa kita arahkan dengan lebih tepat,” kata Bung Sila.
Ia berharap seluruh pihak terus memperkuat koordinasi sehingga penanganan pengungsi dapat berjalan lebih terarah, terutama selama warga masih berada dalam kondisi trauma dan memilih bertahan di tempat terbuka karena khawatir terhadap gempa susulan. **ah



