Maumere — Di tengah gelap gulita dan jalan berlumpur sebuah dusun kecil di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, perayaan Paskah tahun ini menghadirkan kisah yang bukan sekadar peristiwa iman, tetapi juga potret keteguhan yang menggetarkan hati.
Ratusan umat dari satu Dusun Hepang memadati Kapel Hepang pada Minggu Paskah. Kapel sederhana itu tak lagi mampu menampung seluruh umat, sebagian berdiri di luar, namun tetap larut dalam suasana liturgi yang khidmat. Perayaan dipimpin oleh seorang pater dari Ordo Karmel, menghadirkan pesan kebangkitan yang terasa begitu dekat dengan realitas hidup umat.
Sejak Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu Kudus, seluruh rangkaian ibadah berlangsung dalam keterbatasan. Penerangan di dalam kapel hanya mengandalkan genset. Tidak ada listrik memadai, tidak ada fasilitas lengkap namun iman umat tidak pernah redup.
Perjalanan menuju kapel menjadi bagian dari kisah itu sendiri. Dalam gelap malam, umat berjalan kaki dari rumah masing-masing, ditemani cahaya obor yang menembus kegelapan. Jalanan yang berlumpur dan licin tidak menghentikan langkah mereka. Setiap langkah adalah kesaksian, setiap nyala obor adalah harapan.
Di dalam kapel, suasana tak kalah menyentuh. Iringan musik hanya berasal dari okulele dan gitar sederhana. Namun dari alat-alat itulah, lahir nyanyian yang mengalun indah, penuh penghayatan, dan menggema hingga ke luar kapel. Suara umat menyatu, menghadirkan harmoni yang tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari ketulusan.
Tidak ada gemerlap, tidak ada kemudahan. Tetapi yang hadir adalah kekuatan iman yang nyata hidup, bergerak, dan menyala di tengah kesederhanaan.
Dalam homilinya, pater menyampaikan bahwa Paskah sejatinya adalah tentang perjalanan keluar dari gelap menuju terang. “Apa yang dialami umat di sini adalah gambaran nyata iman yang berjalan, iman yang bertahan, dan iman yang bangkit,” ujarnya.
Minggu Paskah menjadi puncak dari seluruh perjalanan tersebut. Kapel Hepang dipenuhi doa, nyanyian, dan sukacita yang lahir dari hati yang tulus. Umat saling menyapa, berbagi damai, dan merayakan kebangkitan dengan sederhana, namun penuh makna.
Dari Dusun Hepang, sebuah kisah lahir tentang obor-obor kecil yang menerangi jalan, tentang nada sederhana yang menjadi pujian, dan tentang iman yang tidak pernah padam. Sebuah cerita sunyi dari pelosok, namun gaungnya mampu menyentuh siapa saja yang mendengarnya. **arishalilintar
